KPA Klaten Gelar Sarasehan “Lindungi Anak Bangsa dari Pengaruh Perilaku LGBT”

 

Klaten, Dalam rangka melanjutkan peringatan Hari AIDS se-dunia, pada 1 Desember 2023 lalu, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten Klaten menggelar Sarasehan bertajuk Lindungan Anak Bangsa dari Pengaruh LGBT, di Pendapa Kabupaten Klaten, Jumat (15/12/2023).

Hadir dalam acara tersebut para penyuluh agama, IPARI dari Kemenag, Palang Merah Remaja, perwakilan para pelajar dan mahasiswa, Duta Wisata, Disabilitas, sekolah perhotelan, LKKS, dan elemen masyarakat Klaten lainnya.

Selain itu, KPA menghadirkan narasumber dr. Dian Mutiara, Sp.PD. (dokter spesialis Penyakit Dalam dari RSUD Bagas Waras), Dra. Karni (psikolog RSUP Soeradji Tirtonegroro), dan dr. Ronny Roekmito, M. Kes dari KPA Klaten.

dr. Dian Mutiara, Sp. PD mengupas tentang HIV-AIDS. Ia menjelaskan definisi HIV-AIDS, cara penularan dan pencegahannya.

“Anak muda dan remaja lebih rentan tertular HIV-AIDS. Mereka termasuk golongan dan usia seksual aktif. Mereka pun suka mengambil risiko, ingin mencoba sesuatu yang baru. Selain itu mereka terpengaruh memakai narkoba dan miras, diajak/ dipaksa teman, pernah mengalami kekerasan seksual, serta jauh dari pengawasan orang tua,” beber dr. Dian.

dr. Ronny Roekmito, M. Kes selaku sekretaris KPA sekaligus narasumber menyampaikan bahwa saat ini LGBT marak di Yogyakarta, Klaten, Solo, dan kota lainnya.

Ia menambahkan, temuan kasus HIV di Klaten 2007 hingga 2023 total 1423 kasus, di antaranya 33% perempuan dan 67% laki-laki, berdasarkan usia ditemukan kasus terbanyak (968) pada usia produktif (25-49).

“Temuan kasus faktor risiko pada wanita pekerja seks (WPS) 44 kasus, pelanggan pekerja seks (PPS) 33, waria ada 20, dan laki suka laki (LSL) 147 kasus. Dan berdasar umur dari LSL ada 40 kasus pada umur 18-24, pada umur 25-30 ada 43 kasus, dan umur 31-40 ada 43 kasus,” terang Ronny.

Selanjutnya, dr Ronny memaparkan bahwa LGBT merupakan gerakan yang terus berusaha menggemukkan komunitasnya. Ketika jumlah mereka sudah banyak maka mereka akan menuntut melegalkan perkawinan sejenis dengan berlindung di bawah payung HAM.

“Di sinilah propaganda media sangat berperan penting dalam penyebaran LGBT, di mana ada pornografi, pornoaksi, konten LGBT, dan peran agama yang telah dikikis,” tambah Ronny.

Oleh karena itu, lanjut Ronny, masyarakat harus tahu perkembangan HIV-AIDS di Klaten.  Sebagai bentuk kesungguhan KPA, ada langkah-langkah sistematis untuk menanggulanginya. Salah satu kegiatannya sarasehan dan sosialisasi ini karena penyebab kasus HIV-AIDS disebabkan perilaku menyimpang (LBGT).

Kemudian, Dra. Karni menjelaskan tentang penanganan para pelaku LBGT tersebut. Pemaparan Karni dimulai dari munculnya LGBT karena individu, pola asuh yang keliru ditambah faktor lingkungan, dan trauma masa lalu.

“Sehingga perlu sekali menjalin komunikasi melalui obrolan-obrolan dan mengajak mereka berhenti melakukan perilaku menyimpang tersebut,” saran Karni jika menghadapi kliennya.

Penyebaran HIV-AIDS berkaitan dengan LGBT, lanjut Karni karena pelaku LGBT sebagian besar positif jika dites HIV. Para pengidap HIV menganggap itu adalah takdir Allah bukan karena hubungan seks yang tidak sesuai kodrat.

“Kaedah penyelesaian selain secara Islam juga secara mental, dari hati ke hati untuk STOP, TOLAK, dan jangan lanjutkan LGBT pungkas Karni.

Para peserta sangat antusias mengikuti acara tersebut. Beberapa pertanyaan dari peserta mengarah bagaimana bisa menyelesaikan secara tuntas masalah HIV-AIDS dan LGBT ini agar ada payung hukumnya. Hal ini diharapkan kasus-kasus ini tidak menular kepada yang lainnya.[]

Comment