Kurikulum Cinta, Menakar Arah Pendidikan Islam di Indonesia

Opini1196 Views

Penulis: Yuri Ayu Lestari, S.Pd | Aktivis Muslimah, Pemerhati Remaja

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Belum lama ini, muncup isu terkait Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai pendekatan baru dalam pendidikan Islam. Kurikulum ini diklaim sebagai langkah transformasi menuju sistem pendidikan yang lebih humanis, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai spiritual.

KBC hadir dimaksudkan untuk menjawab berbagai persoalan zaman, seperti krisis kemanusiaan, meningkatnya intoleransi, dan rusaknya ekosistem sosial.

Sekilas, nama “kurikulum cinta” terdengar sangat menyentuh. Siapa yang tidak ingin pendidikan dipenuhi dengan kasih sayang dan empati? Namun, muncul pertanyaan yang layak diajukan: cinta versi siapa yang sedang ditawarkan? Apakah cinta ini bersumber dari nilai-nilai Islam, ataukah berasal dari paham lain yang tidak sepenuhnya sejalan dengan ajaran agama?

Membedah Deradikalisasi Usia Dini

Beberapa kalangan menilai bahwa di balik nama yang manis ini, tersembunyi agenda lain: deradikalisasi sejak pendidikan dasar. Istilah “radikal” yang awalnya bermakna mendalam atau mendasar, kini sering digunakan dengan konotasi negatif. Sayangnya, tidak sedikit yang menyamakan semangat berislam secara utuh—seperti mengenakan jilbab sesuai syariat atau selektif dalam pergaulan lintas agama—dengan indikasi radikalisme.

Kekhawatiran ini bertambah ketika program pencegahan radikalisme mulai menyasar siswa dan guru secara luas. Kegiatan keagamaan di sekolah diawasi ketat, diskusi keislaman dibatasi, dan bahkan ekspresi keagamaan tertentu dianggap mencurigakan. Di sinilah muncul pertanyaan: apakah pendidikan yang dicurigai itulah yang disebut cinta?

Antara Toleransi dan Ketegasan Beragama

Pendidikan berbasis cinta tentu harus mengajarkan toleransi. Namun, toleransi bukan berarti meniadakan prinsip. Ada kekhawatiran bahwa semangat cinta ini justru diterjemahkan sebagai harus menerima semua perbedaan tanpa batas, bahkan jika bertentangan dengan keyakinan pribadi. Misalnya, anak-anak diajak merayakan hari besar agama lain demi harmoni, namun ketika menunjukkan semangat untuk mendalami agama sendiri, malah dianggap eksklusif.

Pendidikan Islam seharusnya mengajarkan keseimbangan: kasih sayang kepada sesama manusia, tapi juga keteguhan dalam menjaga iman dan nilai-nilai kebenaran.

Cinta dalam pandangan Islam bukanlah cinta bebas nilai, melainkan cinta yang dituntun oleh wahyu, yang tahu kapan harus lembut, dan kapan harus tegas.

Apakah Sekularisme Mengintip di Balik Kurikulum?

Salah satu kritik terhadap Kurikulum Berbasis Cinta adalah kecenderungannya yang seolah memisahkan agama dari urusan publik. Pendidikan yang terlalu menekankan nilai-nilai universal tanpa pijakan akidah bisa saja menyeret peserta didik pada paham sekular, di mana agama dianggap cukup berada di ruang pribadi dan tidak perlu membimbing kehidupan sosial secara menyeluruh.

Padahal dalam Islam, pendidikan tidak sekadar mencetak manusia cerdas, tapi juga membentuk insan bertakwa. Cinta dalam Islam bukan hanya perasaan lembut, melainkan dorongan untuk saling menasihati, menyayangi karena Allah, dan mengajak kepada kebaikan berdasarkan kebenaran ilahi.

Kembali pada Kurikulum Islam yang Berbasis Akidah

Sejarah peradaban Islam mencatat bahwa pendidikan yang kuat selalu bersandar pada akidah. Di masa keemasan Islam, para ilmuwan seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Imam Syafi’i tumbuh dalam sistem pendidikan yang tidak memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Mereka belajar logika dan sains, namun tetap berlandaskan nilai-nilai ketauhidan.

Inilah model pendidikan yang seimbang: ilmu dan iman berjalan seiring, cinta dan kebenaran saling menguatkan. Pendidikan seperti ini tidak menjadikan anak fanatik atau tertutup, justru menjadikan mereka pribadi yang teguh prinsip, tapi juga mampu berinteraksi dengan lingkungan secara santun dan bijak.

Peran Negara dan Masyarakat

Negara memegang peran strategis dalam membentuk arah pendidikan. Maka, ketika merancang kurikulum, perlu dipastikan bahwa nilai-nilai Islam tetap menjadi pijakan utama, bukan hanya diselipkan sebagai pelengkap.

Demikian juga orang tua, guru, dan masyarakat luas harus ikut serta mengawal agar pendidikan anak-anak tetap berpijak pada iman dan akhlak, bukan hanya pada slogan cinta yang bisa multitafsir.

Kurikulum berbasis cinta bisa menjadi terobosan baik, jika benar-benar dirancang dengan pijakan yang jelas dan tidak mengorbankan nilai keislaman. Namun jika tidak dikritisi, bisa saja menjadi pintu masuk bagi ide-ide yang menjauhkan generasi dari akarnya sendiri.

Mari kita tetap kritis dan peduli terhadap arah pendidikan anak-anak kita. Karena cinta sejati dalam pendidikan bukan hanya membuat anak merasa nyaman, tapi juga menumbuhkan mereka menjadi pribadi yang taat, cerdas, dan berani berdiri di atas nilai-nilai yang benar. Wallahu a’lam bish shawab.[]

Comment