Lubang Hitam Kekerasan dalam Rumah Tangga, Apa Solusinya?

 

 

Penulis: Dinar Khair | Novelis

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– “Harta yang paling berharga adalah keluarga.” Begitulah kutipan terkenal dari sebuah tayangan keluarga yang tahun 1996 lalu menjadi hits di Indonesia. Hampir seluruh rumah pada zaman itu menonton tayangan yang menghangatkan hati tersebut. Hingga kini, kutipan kalimat itulah yang masih terus dipakai untuk menggambarkan bagaimana tingginya nilai dan harapan terhadap sebuah keluarga.

Namun, tidak semua keluarga demikian. Karena pada faktanya, di akhir zaman ini, ada anggota keluarga yang justru menjadi ancaman terbesar bagi anggota keluarga lainnya. Bukan lagi menjadi harta paling berharga, tetapi menjadi sumber datangnya luka dan bencana.

Sebagaimana kasus di Jakarta yang dilansir laman kompas.com, Seorang pria berinisial JK membakar istrinya sendiri, AM, di kediaman pribadinya, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (28/11/2023). J nekat membakar istrinya hidup-hidup lantaran terbakar api cemburu usai melihat istrinya chatting dengan pria lain.

Kemudian di Jagakarsa, terdapat seorang ayah yang tega membunuh keempat anaknya secara bergantian dengan cara dibekap. Keempat anak kecil tidak berdosa itu meregang nyawa di tangan ayahnya sendiri tanpa belas kasihan. Saat kejadian, sang ibu sedang dirawat di rumah sakit karena tindakan KDRT yang dilakukan oleh tersangka beberapa hari sebelumnya.

Dua berita tersebut hanyalah bagian kecil, dari banyaknya kasus-kasus serupa yang tidak terangkat media. Bahkan tindakan kekerasan dalam rumah tangga sering menjadi rahasia di satu rumah karena dianggap aib, hingga korban tidak berani berteriak meminta tolong. Kabar KDRT baru terendus setelah salah satu dari mereka ada yang meninggal dunia, atau terluka parah.

Penyebab Utama KDRT

Masalah utama pendidikan dalam keluarga kini tengah menghadapi titik nadir. Bahkan telah menghasilkan akibat yang mesti ditanggung oleh satu generasi. Pola didik yang salah, membentuk rantai tak terputus yang pada akhirnya bermuara pada pembentukan karakter yang salah pula. Ketidakhadiran sosok ayah, tidak teredukasinya seorang ibu, dan buruknya lingkungan tempat hidup, mempengaruhi mata rantai yang tidak terputus ini.

Maka lahirlah manusia-manusia yang secara mental tidak matang, spiritual nihil, tetapi fisiknya mengalami eskalasi pada masa pubertas karena banyaknya stimulasi pornografi yang tidak terkendali dari segala sisi. Secara fisik mereka aktif bereproduksi, tetapi di waktu yang sama, mereka menjadi orang tua yang tidak teredukasi.

Padahal dalam Islam, menjadi orang tua adalah sebuah tugas dengan tanggung jawab yang sangat besar.

‎وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا9

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (Q.S. An-Nisa: 9).

Maka membina sebuah rumah tangga tidak hanya dibutuhkan cinta, tetapi ilmu dan kematangan mental pun patut menjadi pertimbangan utama. Terlebih sebagai muslim, membina keluarga bukan hanya untuk meneruskan keturunan saja. Akan tetapi membawa misi besar, yakni membangun peradaban Islam yang mulia dengan menciptakan generasi yang kuat secara fisik, mental, sekaligus spiritual.

Maka seharusnya, jalann keluar dan penyelesaian bukan hanya pada level kasus per kasus saa tetapi support penuh dari level penguasa untuk membenahi dengan serius permasalahan pelik ini. Kerusakan secara sistemik inilah yang patut menjadi perhatian utama.

Ide pemisahan agama dari kehidupan yang lahir dari sekulerisme, justru menjauhkan kaum muslimin dari agamanya sendiri. Hingga mereka bukan lagi menjadi muslim yang mengaplikasikan Islam, tetapi hanya muslim yang ber-KTP Islam.

Nilai-nilai kehidupannya, jauh dari apa yang Allah perintahkan, namun dekat dengan apa yang Allah larang. Padahal, Islam datang untuk membenahi hidup manusia secara keseluruhan, menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Maka hanya dengan mengembalikan Islam sebagai pengatur kehidupan saja yang bisa membantu manusia untuk kembali pada fitrahnya. Islam telah terbukti berhasil membentuk manusia-manusia berkualitas yang tidak hanya berdaya secara duniawi, tetapi juga memiliki akidah yang kuat hingga terjaga hampir keseluruhan perilakunya. Sebaliknya, manusia telah terbukti semakin jauh dari peradaban yang baik, justru saat Islam ditinggalkan sebagai pengatur kehidupan. Wallahualam bishawab.[]

Comment