by

Maize Lina*: Pembelajaran Virtual Bikin Pusing

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Begitu cepatnya penyebaran virus corona DSN menyebabkan perubahan besar dalam lini kehidupan. Termasuk perubahan dalam pembelajaran.

Saat ini kita dihadapi dengan sistem pembelajaran virtual. Akan tetapi pembelajaran ini masih menjadi kontrovesi, terjadinya begitu mendadak tanpa adanya persiapan atau simulasi terlebih dahulu sehingga menyebabkan kebingungan dalam proses pelaksanaannya.

Teknis pelaksanaannya yang belum memadai serta kurangnya saran dan prasarana yang belum dimiliki oleh peserta didik seperti laptop, computer, hp pintar, sehingga para orang tua harus membelikannya, serta timbulnya peralihan peran orang tua dan guru.

Dalam masa pandemi ini orang tua tidak hanya memikirkan masalah keadaan sosial ekonomi mereka namun juga memikirkan peran dalam pendidikan anak. Keterbatasan biaya serta teknologi dan pengetahuan membuat orang tua kewalahan dalam pendidikan anak dengan pembelajaran virtual.

Ditambah dengan menghadapi anak yang malas mengerjakan tugas, karena telah merasakan bosan terus menerus di rumah. Sehingga membuat anak malas.

Berangkat dari keterbatasan biaya dalam membeli kuota internet. Saat ini banyak orang dermawan yang menyediakan internet gratis bagi anak-anak yang akan melaksanakan pembelajaran virtual. Hal tersebut sungguh patut diberi penghargaan karena meringankan beban oang tua.

Tetapi hal ini bukanlah solusi yang efektif. Karena hanya dilakukan oleh individu atau kelompok sedangkan pendidikan menjadi tanggung jawab Negara.

Karena negara memiliki peranan penting dalam melaksanakan pembelajaran virtual. Seperti memberikan fasilitas kuota internet, hp bagi yang belum memiliki dan lain sebagainya.

Dilihat dari kondisi yang menggunakan sistem kapitalis-sekuler, hal ini sulit terealisasikan, karena dalam mempertimbangkan kebijakannya menggunakan prinsip untung dan rugi, dari ciri khasnya lebih mempentingkan pembangunan fasilitas yang menguntungkan daripada pembangunan fasilitas sumber daya manusia untuk penerus peradaban.

Hal ini sungguh berbeda sekali dengan sistem islam di mana pendidikan adalah hal yang paling diutamakan. Karena pendidikan merupakan titik awal perkembangan peradaban, dengan membangun kepribadian islam.

Dalam sistem islam pendidikan gratis, seluruh biaya pendidikan ditanggung oleh negara. Seluruh biaya pendidikan diambil dari Baitul Mal.

Dengan demikian semua pihak tidak akan dipusingkan dengan fasilitas, sarana dan prasarana serta biaya karena semuannya sudah ditanggung oleh negara.[]

*Mahasiswi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × five =

Rekomendasi Berita