by

Eva Fauziyatul Badriyah, S.Pd*: Serba-serbi PJJ Dan Daring

-Opini-78 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Setahu saya yang namanya Pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak harus bentuknya daring (dalam jaringan). Dan yang namanya daring tidak harus melulu bertemu berhadap-hadapan di balik layar misalnya seperti menggunakan video call, zoom, googlemeet dan lain-lain.

Wah, kalau kelasnya pindah jadi tatap muka via daring (online) terus bisa nggak belanja ibu-ibunya di rumah karena harus beli paket data. Misal nih 1x tayang butuh 1-2 GB.

Mana anaknya ada yang banyak lagi. Banyak juga mahasiswa yang keberatan jika setiap perkuliahan harus seperti itu bahkan ada yang stres sampai bunuh diri.

Astagfirullah. Memang hampir seluruh mahasiswa punya HP Android tapi tidak semuanya bisa membeli paket data secara leluasa. Apalagi paket data di Indonesia terbilang mahal.

PJJ selain berbentuk daring (dalam jaringan – online) bisa juga berbentuk luring (luar jaringan – off line). Dengan memahami ini maka kita tidak akan salah memaknai bahwa PJJ itu pasti daring dan pasti berupa video tatap muka secara daring.

PJJ sendiri dimaknai sebagai pembelajaran jarak jauh. Sebenarnya hal ini telah dilakukan dalam sistem pembejaran yang dilakukan di Universitas Terbuka dan juga di beberapa sekolah yang berada di daerah 3 T.

PJJ dilakukan karena antara guru dan siswa/mahasiswa terpisah. Bahkan di daerah 3 T yang aksesnya sulit, keberadaan guru dan siswa terpisah dalam jarak yang sangat jauh sehingga pertemuan antara guru dan siswa tidak berjalan seperti pada umumnya di daerah-daerah lain.

Karena ada batas, sehingga antara guru dan siswa tidak bisa bertemu. Maka pembelajaran dilakukan secara mandiri dengan menggunakan media pembelajaran.

Sekarang ketika kita tiba-tiba secara mendadak dihadapkan pada situasi pandemi yang membatasi bertemunya banyak manusia termasuk di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Terlebih karena pendidikan tidak seperti ekonomi.

Jadi diputuskan pembelajaran anak-anak Indonesia menggunakan PJJ katakanlah denga sistem daring begitu. Hal ini membuat banyak pihak salah memaknai esensi pembelajarannya.

Dalam PJJ memang pembelajaran antara guru dan siswa terjadi secara terpisah. Sehingga komunikasi antara keduanya harus difasilitasi media pembejaran baik media elektronik atau media-media yang lain.

Di era 4.0 berkembang dengan pesat teknologi daring. Tentu saja daring bisa gunakan dalam PJJ. Tapi daring bukan satu-satunya cara untuk melakukan pembelajaran.

Metode luring pun bisa digunakan. Tentu saja ini memerlukan kreativitas guru agar pembelajaran pada siswanya tetap optimal walau tanpa tatap muka.

Metode daring menggunakan fasilitas internet sebagai penunjang utamanya, jika internet tidak bisa diakses tentu pembelajaran akan sulit dilakukan.

Kita harus memahami bahwa keberadaan kita yang tetiba mengakses internet ini karena kondisi wabah, pandemi dimana masyarakat menghadapi banyak sekali masalah akibat pandemi termasuk masalah ekonomi.

Jangankan untuk membeli paket data untuk pembelajaran putra-putrinya untuk makan saja sulit.

Kreativitas guru sangat diperlukan dalam memilih metode pembelajaran yang akan digunakan selama PJJ apakah itu daring atau luring ataukah gabungan antara daring dan luring.

Jika siswanya merupakan siswa dari kalangan menengah ke atas, tentu boleh-boleh saja jika pembalajaran menggunakan metode daring. Tapi jika ada siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran secara daring ya jangan dipaksakan.

Alternatif yang bisa digunakan ya tidak lain adalah luring. Pembelajaran luring biasanya menggunakan buku, modul, rekaman CD, siaran televisi atau radio. Atau bisa menggabungkan antara daring dan luring.

Misalnya ketika mengarahkan siswa yang berupa perintah kepada siswa menggunakan daring. Siswa diberi arahan melalui WA grup.

Tapi terkait bahan ajar bisa menggunakan buku/modul/bacaan yang bisa diakses secara off line misalnya bisa dengan datang ke sekolah untuk mengambil bahan ajar itu atau mengutus ketua kelas untuk mengedarkan bahan ajar bagi teman-temannya.

Terkait pengumpulan tugas/evaluasi, jika siswa bisa mengirimnya via online ya dipersilakan. Tapi bagi siswa yang mempunyai kesulitan, tugas bisa diantarkan ke sekolah atau ke rumah guru.

Tentu saja di masa pandemi kita diharapkan untuk tidak sering keluar rumah, maka tugas itu bisa dikumpulkan dulu dalam satu bulan, dua bulan atau bahkan satu semester.

Guru jangan memberikan tugas secara bertubi-tubi. Tidak akan efektif, malah hanya akan membuat siswa jadi serasa mau muntah saja. Pilih penilaian esensial bukan penilaian esensial bukan penilaian antara. Misalnya penilaian formatif tidak perlu tapi hanya penilaian sumatif yang dilakukan.

Bagi siswa yang bisa mengumpulkan tugas berupa print out yang boleh-boleh saja. Tapi bagi siswa kesulitan, tugas yang merupakan tulisan tangan merupakan pilihan.

Bukankah ini jauh lebih otentik. Dan bisa mencerminkan penilaian yang sesungguhnya. Tugas bisa difoto dikirim melalui WA. Jika tidak bisa ya tugas diantar tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Hal terpenting lagi dalam PJJ ini adalah feed back atau timbal balik yang diberikan guru pada siswa. PJJ bukan hanya pembelajaran yang berupa penugasan. Fungsi guru yang memberikan timbal balik atas pembelajaran yang dilakukan siswa sangat penting mengingat pembelajaran tidak terlaksana seperti tatap muka di kelas.

Feed back atau timbal balik ini membutuhkan kepekaan guru sehingga bisa mengetahui bagian-bagian mana yang dirasakan sulit bagi para siswa. Dan apakah metode yang digunakan sudah tepat sehingga tujuan siswa tercapai.

Guru pun dituntun fleksibel melayani seluruh siswanya. Terkait timbal balik ini home visitpun bisa menjadi solusi. Tapi tentu dalam waktu yang intervalnya jarang dan memperhatikan protokol kesehatan.

PJJ bukan sesuatu yang mudah tapi dengan strategi yang tepat, niat yang ikhlas, kemandirian dan kejujuran siswa setiap tujuan pembelajaran akan tercapai. Dan semoga pandemi Covid-19 segera berlalu dan siswa bisa kembali belajar di kelas yang sesungguhnya dengan menggunakan seragam.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × two =

Rekomendasi Berita