by

Marhaban Ya Ramadan, Hadirmu Dinanti

-Opini-98 views

 

 

Oleh Neneng Sriwidianti, Pengasuh Majelis Taklim dan Member AMK

__________

RADAR INDONESIA NEWS.COM, JAKARTA — “Wahai manusia, sungguh bulan agung dan penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan itu, Allah menjadikan puasanya sebagai suatu kewajiban dan qiyam atas salat di malam harinya sebagai ibadah sunah.

Siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan satu kebajikan, maka nilainya sama dengan mengerjakan kewajiban di bulan lain. Siapa yang mengerjakan suatu kewajiban dalam bulan Ramadan tersebut, maka sama dengan menjalankan tujuh puluh kewajiban di bulan lain.”

Teks di atas adalah pidato Rasulullah saw menjelang tibanya bulan suci Ramadan. Dalam ceramahnya di penghujung bulan Syaban tersebut berisi tentang informasi keistimewaan Ramadan. Selayaknya, kita sebagai umatnya bergembira dan bersiap menyambut Ramadan dengan persiapan yang maksimal.

Tahun ini adalah Ramadan kedua di tengah pandemi yang belum kunjung mereda. Pandemi sudah berdampak luas pada perekonomian negara ini. Ditambah setelah 100 tahun tiada kepemimpinan Islam semakin menambah deret panjang derita umat. Musuh-musuh Islam terus menyerang ajaran Islam yang mulia.

Tetapi, di tengah kondisi keterpurukan saat ini, umat harus tetap berbahagia menyambut Ramadan ini. Karena setiap kali menjelang datang bulan Ramadan, Allah Swt pun menghiasi surga-surga-Nya dengan berbagai cahaya keindahan.

Salah satu hadis meriwayatkan bahwasanya Allah Swt. memerintahkan para malaikat serta bidadari-Nya untuk menghiasi surga-surga dengan cahaya gemerlapan demi memuliakan bulan suci Ramadan.

“Kita bisa membayangkan sekiranya kita menghiasi rumah kita dengan berbagai hiasan tentunya menunjukkan tamu itu orang yang sangat kita dambakan dan muliakan. Bukan hanya sekedar hiasan dekorasi, boleh jadi kita akan menyajikan makanan dan minuman terbaik dan terlezat yang mampu kita hidangan,” kata Ustaz Dr Miftah al-Banjary dalam tausiyah singkatnya seperti dikutip sindonews.com, (11/5/2018)

Sebentar lagi, tamu agung yang dinanti akan segera hadir. Sudah selayaknya kita mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya. Berikut  beberapa amalan yang semestinya kita lakukan di antaranya :

Pertama, membersihkan dan membereskan rumah. Islam sangat mencintai keindahan. Tidak ada salahnya kalau Ramadan ini kita sambut dengan bersih-bersih, agar rumah kita nyaman dan ibadah kita akan lebih tenang dan khusu.

Kedua, menyambut Ramadan dengan suka cita. Amalan yang bisa dilakukan sebelum Ramadan yang tak kalah penting adalah menyambut bulan suci ini dengan penuh suka cita. Caranya adalah dengan memperbanyak bersyukur karena telah dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan.

Ketiga, saling memaafkan. Cara ini bisa membebaskan diri kita dari kesalahan pada orang lain dan membersihkan hati. Dengan begitu, bulan Ramadan akan terasa ringan untuk dijalani.

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit,dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (TQS. Ali Imran [3]: 134)

Keempat, bertaubat pada Allah Swt. Seorang Muslim diperintahkan untuk menyambut Ramadan dengan taubat nashuha. Kalau lah pada hari ini kita belum maksimal melaksanakan perintah Allah Swt. secara kafah, semoga bulan Ramadan tahun ini adalah langkah awal untuk terikat dengan hukum syara secara keseluruhan.

Kelima, lebih giat lagi untuk belajar Islam. Memahami bahwa Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi Islam mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari politik, sosial, budaya, ekonomi, hankam, dan sistem pemerintah. Karena Islam adalah solusi bagi seluruh permasalahan manusia.

Keenam, menuntaskan utang puasa.

“Yaitu beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu bagimu jika kamu mengetahui.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 184)

Ketujuh, menunggu/memantau hilal.

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Bila penglihatan kalian tertutup mendung maka sempurnakanlah bilangan (bulan Syaban) menjadi tiga puluh hari.” (HR. Muslim).

Kedelapan, berdoa. Persiapan menyambut Ramadan, ada baiknya untuk berdoa kepada Allah Swt. agar dipertemukan dengan bulan Ramadan sejak enam bulan sebelumnya dan selama enam bulan berikutnya, juga berdoa agar puasanya diterima oleh Allah Swt.

“Ya Allah, hantarkan aku hingga sampai Ramadan, dan hantarkan Ramadan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm 264).

Mari, kita sambut Ramadan ini dengan suka cita. Semoga Ramadan tahun ini adalah momentum bagi umat Islam untuk bisa menerapkan ajaran Islam secara kafah. Agar permasalahan negeri ini bisa diselesaikan secara tuntas. Selain itu, tujuan disyariatkannya puasa, untuk membentuk orang-orang yang takwa bisa terealisasi sepanjang masa bukan hanya di bulan Ramadan saja.

“Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 183).Wallahu a’lam bishshawab.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − fourteen =

Rekomendasi Berita