by

Ramadhan Dinanti, Ramadhan Dirindu

-Opini-35 views

 

Ina Agustiani, S.Pd, Praktisi Pendidikan

__________

RADAR INDONESIA NEWS.COM, JAKARTA– Ada bahagia yang tak terkira ketika seorang muslim bisa bertemu dengan bulan suci lagi, setelah lebaran tahun lalu berdoa berharap bisa sampai bulan suci tahun depan. Kenikmatan di saat saudara kita yang lain, dengan doa yang sama, sudah dipanggil menghadap Rabb Pemilik Semesta ini. Tidakkah kita bersyukur atas nikmat kesempatan ini, padahal maksiat kita juga tak terhitung, masih lebih banyak nikmatNya Allah yang di berikan.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang berkesan yang Allah sematkan Surat Al Baqarah ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Dari ayat Al-Quran surat Al-Baqarah ayat ke 183 di atas, jelas bahwa  mengajak hamba Allah yang beriman agar melakukan ibadah puasa secara wajib. Supaya menjadi orang-orang yang senantiasa bertakwa pada Allah SWT.

Rasulullah saw juga memberikan kabar gembira bagi siapa pun yang melaksanakannya karena keimanan, berharap keridaan-Nya akan memberikan ampunan, seperti sabda beliau:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

”Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR Bukhari dan Muslim)

Ini adalah Ramadhan kedua kita dengan covid yang masih belum menghilang. Isu radikalisme dengan adanya teror bom dan diisukan kepada agama tertentu, masih menjadi bagian issue langganan.

Harga bahan pokok yang senantiasa naik menjelang ramadhan semakin menambah ringkih kehidupan rakyat, korupsi, kriminal, dan masih banyak lagi. Disinilah keberadaan Islam kaffah masih sangat dinanti, sebagai bentuk solusi penjagaan kepada rakyatnya agar senantiasa melakukan berbagai aktifitas di bulan suci tanpa beban kehidupan yang berat.

Sebagai muslim yang bertakwa menghiasi diri meyambut bulan suci, adalah persiapan ilmu yang mapan, karena Allah sangat senang dengan hamba-hambaNya yang terus menerus haus akan ilmu. Tanpa ilmu, akan mengantarkan pada sesatnya amal, menyebabkan tidak sampainya pada tujuan, dan yang paling berbahaya membuat amal tidak diterima Allah SWT.

Patut diapresiasi di dunia pertelevisian KPI sudah membuat aturan khusus mengenai tayangan yang layak untuk Ramadhan, dengan busana, konten acara yang santun.

Para pesohor pun seolah senada menutup aurat sempurna, sehingga menimbulkan ketenangan dalam menjalankan ibadah. Lantunan ayat quran ada dimana-mana. Tidakkah kita rindu jika itu dijalankan terus menerus bahkan setelah Ramadhan?

Konsepsi yang ada dalam kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan yang menuntun masyarakat untuk memeriahkan hanya pada saat momennya.

Contohnya menutup aurat, solat, shaum adalah kewajiban yang punya tingkat hukum yang sama, jika tidak dilaksanakan dia berdosa. Nyatanya kekurangan ilmu membuat seorang muslimah tak berani meninggalkan solat dan shaum, tetapi berani untuk tidak berhijab.

Berkenaan dengan fikih shaum dan amalannya (memperbanyak infak sedekah, memperbanyak membaca Alquran, berzikir, syahadat, istigfar, memohon surga dan berlindung dari siksa neraka; Juga salat sunat seperti tahajud dan tarawih, memberi makan untuk berbuka puasa).

Syarat wajib shaum adalah Islam, baligh, berakal sehat, bermukim, serta suci dari haid, nifas dan hadas besar. Mengakhirkan sahur, segera berbuka. Mengetahui hilal ramadhan dengan ilmu, walaupun kita mengikuti para pakar, tetap dengan dasar penelusuran yang benar. Keutamaan 10 hari terakhir ramadhan, persiapan zakat fitrah, dan lainnya.

Puncak paling tinggi adalah menahan hawa nafsu, adalah ujian terberat. Hawa nafsu adalah amanah berat dari makhluk Allah yang tidak bisa diemban oleh bumi ataupun para malaikat. Sehingga ketika seorang muslim bisa menahan hawa nafsu, maka derajat takwa akan didapatnya.

Dengan kecanggihan teknologi mempermudah penyebarluasan dakwah kepada penegakkan syariah kaffah. Dengan syariat Allah, semua amalan-amalan Ramadhan akan lebih mudah, bermakna, itulah hikmah dari keterikatan pada hukum syara. Wallahu a’lam.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − one =

Rekomendasi Berita