Maulid: Lebih dari Sekadar Rindu, Saatnya Meneladani Metode Perjuangan Nabi ﷺ

Opini52 Views

 

Penulis: Neno Salsabillah | Aktivis Muslimah & Muslimpreneur

 

​RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Lantunan shalawat bergema indah di penjuru negeri. Cahaya lampu hias meliuk-liuk di pelataran masjid, spanduk-spanduk besar membentang, dan panggung tabligh akbar berdiri megah.

Setiap tahun, suasana hangat menyelimuti juta-an umat Islam yang merayakan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Rasa rindu tercurah dalam bait-bait syair, air mata menetes saat mendengarkan kisah kelembutan akhlak Sang Baginda.

Sungguh, sebuah pemandangan yang menyentuh jiwa dan menegaskan betapa dalamnya rasa cinta kita kepada Rasul pembawa rahmat.

​Namun, di balik gempita perayaan dan hangatnya lantunan shalawat, ada perenungan mendalam yang perlu kita hadapi bersama.

Mengapa romantisme dan rasa haru itu seolah menguap begitu panggung dibongkar dan lampu-lampu padam? Mengapa keagungan cinta kepada Nabi ﷺ kerap berhenti pada batas ritual tahunan, tanpa pernah benar-benar mengubah realitas kehidupan kita sehari-hari?

​Menembus Batas Seremonial: Mengembalikan Makna Ittiba’

​Cinta kepada Rasulullah ﷺ sejatinya bukan sekadar luapan emosi atau ekspresi kerinduan tanpa konsekuensi. Cinta yang sejati menuntut pembuktian nyata, yakni ikatan sempurna terhadap risalah dan perjuangan yang beliau wariskan.

Allah SWT secara tegas berfirman: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31).

​Selama ini, pemaknaan ittiba’ (mengikuti Nabi) sering kali disempitkan hanya pada aspek ritual personal atau keteladanan akhlak individu. Kita diajarkan untuk meniru cara beliau tersenyum, bersedekah, dan beribadah—hal yang tentu sangat mulia.

Namun, ada dimensi besar yang kerap terlewatkan: bagaimana Rasulullah ﷺ berjuang membongkar sistem jahiliyah yang menghamba pada hawa nafsu dan kekuasaan manusia, lalu menggantikannya dengan sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah SWT.

​Saat ini, secara tidak sadar, kehidupan kita tengah diatur oleh sistem kapitalisme-sekuler. Sebuah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan materi sebagai ukuran kebahagiaan, serta memuja kebebasan tanpa batas.

Demokrasi dan liberalisme telah mengarahkan orientasi hidup manusia pada penghambaan kepada dunia. Akibatnya, bobroknya moral, ketidakadilan ekonomi, dan keserakahan menjadi pemandangan sehari-hari yang seolah dianggap biasa.

​Arah Perubahan yang Hakiki

​Umat Islam hari ini sejatinya tidak diam. Tuntutan akan perubahan, keadilan, dan perbaikan terus menyuar. Namun, sering kali energi perjuangan tersebut habis dalam pusaran sistem yang justru menjadi sumber masalahnya.

Kita berputar-putar mencoba memperbaiki keadaan dengan metode yang jauh dari apa yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

​Padahal, jika kita menengok sejarah sirah nabawiyah di Makkah hingga Madinah, Rasulullah ﷺ tidak pernah mengompromikan Islam dengan hukum-hukum jahiliyah.

Beliau menempuh metode perjuangan dakwah yang sangat jelas dan terstruktur melalui tiga tahapan (marhalah):

1.​ Tatsqif (Pembinaan dan Kaderisasi): Membina individu-individu dengan akidah Islam yang kokoh agar memiliki kepribadian Islam dan pemahaman syariat yang mendalam.

2.​ Tafa’ul Ma’al Ummah (Interaksi dengan Umat): Mengedukasi masyarakat secara luas, membongkar kepalsuan ideologi jahiliyah, dan membangun kesadaran umum akan pentingnya hidup di bawah naungan syariat Islam.

3.​ Istilamul Hukmi (Penerimaan Kekuasaan): Meminta dukungan politik dan militer (nushrah) dari para pemilik kekuasaan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam institusi kepemimpinan Islam (Khilafah).

​Dengan metode inilah kehidupan Islam tegak secara sempurna. Bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang membawa keadilan dan ketenteraman bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman:

​وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

​“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107).

​Saatnya Bangkit dan Bergerak

​Momentum Maulid Nabi ﷺ harus kita jadikan sebagai titik balik sejarah. Sudah saatnya kita menaikkan level kecintaan kita dari sekadar kerinduan emosional menjadi kesadaran ideologis dan politik Islam.

Kita tidak boleh lagi membiarkan energi umat hanya terserap pada seremonial tahunan, sementara kehidupan sehari-hari terus diatur oleh sistem yang mengabaikan hukum-hukum Allah.

​Mari kita kembalikan makna peringatan Maulid sebagai momentum menyatukan langkah, mengkaji syariat-Nya, dan memperjuangkan tegaknya Islam secara kaffah. Karena hanya dengan melangkah di atas jalan perjuangan Rasulullah ﷺ inilah, kemuliaan umat akan kembali terpancar dan Islam benar-benar hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wallahu A’lam Bishawab. []

Comment