Penulis: Vie Dihardjo | Alumnus Hubungan Internasional UNEJ
RADAR INDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Rasulullah ﷺ bersabda, “Al-Hajju ‘Arafah” — “Haji itu adalah Arafah” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). Hadis ini menggambarkan betapa agung dan pentingnya wukuf di Arafah dalam rangkaian ibadah haji. Bahkan, inti ibadah haji adalah hadirnya seorang muslim di Padang Arafah pada waktu yang telah ditentukan. Siapa yang tidak melaksanakan wukuf di Arafah, maka hajinya tidak sah.
Namun, Arafah bukan sekadar tempat berkumpulnya jutaan manusia. Arafah adalah momentum ketika kaum muslimin merasakan persatuan, ketundukan, dan penghambaan yang sama kepada Allah SWT. Di tempat itu, sekat bangsa, jabatan, warna kulit, dan status sosial melebur dalam ikatan tauhid dan ukhuwah Islamiyah.
Inilah pesan besar yang disampaikan Arafah. Allah SWT memperlihatkan kepada umat manusia bahwa kaum muslimin adalah satu umat, dan persatuan umat bukan sesuatu yang mustahil. Buktinya, setiap musim haji jutaan manusia dapat bergerak dalam satu aturan, satu arah, dan satu tujuan. Arafah memberikan gambaran indah tentang bagaimana Islam mempersatukan manusia di atas landasan keimanan.
Wukuf di Arafah menunjukkan bahwa ketika manusia berpegang teguh pada syariat Allah, persaudaraan dan keteraturan dapat diwujudkan. Namun, pertanyaannya, apakah semangat persatuan itu tetap hidup setelah ibadah haji selesai? Ataukah ia justru memudar karena kepentingan duniawi masing-masing?
Ironisnya, selepas musim haji, semangat persatuan itu sering kali kembali melemah akibat fanatisme golongan, nasionalisme sempit, kepentingan politik dan ekonomi, serta sistem kehidupan yang memisahkan agama dari kehidupan, yaitu sekularisme.
Sekularisme Melemahkan Persatuan
Haji bukan sekadar perjalanan spiritual yang selesai setelah thawaf terakhir. Akan tetapi, sekularisme telah menjadikan hubungan antarmanusia hanya sebatas urusan materi, kepentingan, dan identitas duniawi, bukan karena keimanan dan ukhuwah Islamiyah.
Akibatnya, kaum muslimin yang sejatinya bersaudara — sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” — justru mudah diadu domba. Sekat-sekat negara bangsa lebih mendominasi pemikiran kaum muslimin dibandingkan ikatan akidah. Kepentingan ekonomi dan politik pun kerap mengalahkan kepedulian terhadap sesama muslim.
Sekularisme juga melahirkan individualisme, yaitu sikap mementingkan diri sendiri dan mengabaikan urusan umat. Padahal, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kaum muslimin itu bagaikan satu tubuh. Beliau bersabda:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim).
Individualisme merusak hubungan antarmanusia. Lebih jauh lagi, ia menghancurkan kepedulian sosial. Manusia hanya sibuk mengejar kesuksesan dan kenyamanan pribadi. Penderitaan orang lain tidak lagi dianggap sebagai urusan bersama. Rasa empati memudar, semangat tolong-menolong melemah, dan ukhuwah Islamiyah menjadi rapuh.
Ketika setiap orang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan umat, bahkan rela menjatuhkan saudaranya demi materi, jabatan, dan popularitas, maka persatuan akan semakin sulit diwujudkan.
Dalam kehidupan yang individualistis, manusia kehilangan makna hidup. Hubungan sosial menjadi dingin, keluarga merenggang, dan masyarakat dipenuhi sikap acuh tak acuh.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya, sekularisme menjadikan materi dan keuntungan duniawi sebagai ukuran utama keberhasilan.
Persatuan pun kalah oleh kepentingan ekonomi dan politik. Umat mudah dipecah-belah melalui propaganda dan konflik kepentingan karena agama tidak lagi ditempatkan sebagai pemersatu kehidupan.
Islam adalah Pemersatu
Islam sejak awal hadir sebagai agama pemersatu. Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 103:
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi orang-orang yang bersaudara.”
Momentum haji dan Arafah merupakan gambaran nyata bagaimana Islam menyatukan umat. Jutaan muslim berkumpul di satu tempat, melantunkan talbiyah yang sama, dan tunduk kepada Allah SWT yang sama. Tidak ada yang membedakan mereka kecuali ketakwaannya.
Dalam khutbah Rasulullah ﷺ pada Haji Wada’ tanggal 9 Dzulhijjah di Padang Arafah, beliau menekankan pentingnya persatuan umat dengan sabdanya:
“Wahai manusia, Tuhan kalian satu dan ayah kalian satu. Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, dan tidak pula non-Arab atas orang Arab. Tidak pula yang berkulit merah atas yang hitam, kecuali karena takwa.”
Makna yang terkandung di dalamnya sangat mendalam. Karena Tuhan kita satu, semestinya aturan hidup kita juga satu, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.
Dalam khutbah tersebut, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah suci.”
Menjaga jiwa, harta, dan kehormatan manusia merupakan tugas besar yang harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan pentingnya berpegang teguh pada ajaran Islam:
“Aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitabullah.”
Wukuf di Arafah semestinya tidak hanya menjadi ibadah individual, tetapi juga momentum untuk memikirkan kondisi umat. Arafah adalah madrasah kepedulian umat. Ketika seorang muslim berdiri di Padang Arafah, ia tidak hanya menangisi dosa-dosa pribadinya, tetapi juga merasakan penderitaan saudara-saudaranya di berbagai penjuru dunia.
Hari ini, di tengah himpitan sistem sekuler, kaum muslimin mengalami berbagai bentuk penindasan. Palestina terus menghadapi genosida, Sudan dan Yaman dilanda krisis kemanusiaan dan kelaparan, Rohingya hidup di bawah penindasan junta militer, sementara muslim Uyghur menghadapi tekanan dan diskriminasi.
Karena itu, wukuf di Arafah seharusnya melahirkan kesadaran bahwa kaum muslimin memiliki urusan yang sama sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ. Arafah juga menjadi momentum muhasabah untuk merenungkan mengapa umat Islam mudah dipecah-belah dan terus mengalami berbagai kezaliman yang sulit diselesaikan.
Sejatinya, Arafah adalah oase ukhuwah di tengah umat yang terpecah-belah. Ia merupakan seruan agar kaum muslimin kembali menjadi umat yang satu, menjaga keadilan, menjaga hak sesama, serta menjadikan Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.
Dengan demikian, Islam tidak hanya diterapkan dalam urusan pribadi, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, sebagaimana pesan yang disampaikan Rasulullah ﷺ dalam khutbah perpisahan beliau pada Haji Wada’. Wallahu a’lam bishshawab.[]














Comment