by

Membangun Dan Menjaga Rumah Tangga Dalam Islam (1)

-Opini-40 views

 

 

Oleh: Mala Oktavia*

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tentunya pembaca sekalian sudah tidak kaget dengan isu perselingkuhan pelantun sholawat yang kini tengah menjadi trending topik. Kita tidak akan menyoroti dari sisi pelaku secara personal, tetapi yang akan kita soroti di sini adalah perilaku menyimpangnya.

Siapapun dia, asalkan dia manusia biasa, pastinya akan punya peluang untuk berbuat salah (maksiat), baik kesalahan itu kecil atau besar. Pun asalkan dia adalah manusia, maka peluang untuk berbuat baik (taat) selalu ada. Maka dari itu, apayang harusnya kita pelajari dari peristiwa ini?

Ketika ada satu peristiwa yang muncul di media, pada dasarnya itu adalah sebagian kecil yang terdata. Masih lebih banyak peristiwa yang sama yang tidak terdata.

Hal ini mengindikasikan bahwa sebetulnya di luar sana banyak sekali kasus-kasus yang sama, tetapi barangkali tidak terdata dan terekspos di media.

Memang memilukan jika kita melihat fakta pada hari ini, anak muda sibuk berpacaran, yang menikah pun melakukan perselingkuhan, hingga perceraian membuat sibuk memperebutkan harta kekayaan.

Lantas, apakah memang seperti ini budaya masyarakat Indonesia yang katanya menjunjung tinggi nilai etika dan moral?

Tentu kita tidak berharap demikian. Oleh karenanya, perlu dikaji ulang, apa yang menyebabkan hal ini terjadi dan bagaimana Islam memandang peristiwa ini. Apakah hanya memang karena individu yang aqidahnya lemah? Atau masyarakat yang apatis? Ataukah negara yang memang membiarkan? Setelah menemukan penyebab yang tepat, nantinya akan menuju pada satu solusi yang jelas dan benar.

Pemisahan Kehidupan Laki-Laki dan Perempuan

Dalam Islam, perkara kehidupan laki-laki dan perempuan memiliki pengaruh pelaksanaan hukum/syariat yang signifikan. Pemisahan (infishal) kehidupan laki-laki dan perempuan dilakukan baik dalam wilayah khusus (rumah, kamar, dan sejenisnya) maupun wilayah umum (sarana publik). Berangkat dari aturan inilah, intekasi laki-laki dan perempuan diatur sedemikian rupa, hingga adanya larangan ikhtilath dan khalwat. Ikhtilath merupakan aktivitas campur baur antara laki-laki dan perempuan, aktivitas ini sesungguhnya bukan karena ingin melaksanakan perintah Allah, tetapi melaksanakan kehendak sang pemilik aktivitas tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Contoh dari aktivitas ini ialah campur baurnya seorang laki-laki dan perempuan dalam konser musik. Sedangkan khalwat merupakan aktivitas berdua-duaan yang dilakukan di tempat sepi atau keramaian, di mana esensisnya hanya 2 orang –laki-laki dan perempuan– yang saling berinteraksi dalam pertemuan tersebut. 

Larangan ini seperti termaktub dalam hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari: 

 عن أم سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِي تَسْلِيمَهُ وَمَكَثَ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأُرَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَنَّ مُكْثَهُ لِكَيْ يَنْفُذَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ مَنْ انْصَرَفَ مِنْ الْقَوْمِ

( (رواه البخاري رقم 793

 “Dari Ummu Salamah radhiallahu anha dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, jika beliau salam (selesai shalat) maka kaum wanita segera bangkit saat beliau selesai salam lalu beliau diam sebentar sebelum bangun. Ibnu Syihab berkata, ‘Saya berpendapat bahwa diamnya beliau adalah agar kaum wanita sudah habis sebelum disusul oleh jamaah laki-laki yang hendak keluar masjid.” (HR. Bukhari, no. 793).

Ketika Rasulullah mendiamkan perempuan yang keluar masjid terlebih dahulu, kemudian beliau bangkit setelah beberapa saat, hal ini bertujuan mencegah bertemunya laki-laki dan perempuan ketika keluar dari masjid. Diamnya Rasul atas perilaku ini pun mengindikasikan bahwa laki-laki dan perempuan memang terpisah dalam aktivitas keseharian.

Pemisahan laki-laki dan perempuan, serta larangan ikhtilath dan khalwat merupakan pencegahan dasar bagi umat Islam agar terhindar dari fitnah zina dan maksiat lainnya.

Larangan Berpacaran dan Adab dalam Menikah

Lebih dari itu, dengan diterapkannya larangan ikhtilath dan khalwat maka hal ini akan memutus perilaku pacaran di kalangan umat. Sebab, sebetulnya tidak akan terjadi aktivitas pacaran (mendekati zina) apabila laki-laki dan perempuan tidak saling bertemu.

Pertemuan ini baik dalam dunia nyata maupun dunia maya. Namun, ketika kita melihat pada kondisi saat ini, pacaran menjadi sesuatu hal yang lumrah terjadi karena kebiasaan hidup yang jauh dari aturan Allah, yakni tidak diterapkannya larangan ikhtilath dan khalwat

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (TQS Al-Qur’an [17]: 32)

Maka tidak heran, jika banyak terjadi fitnah di antara laki-laki dan perempuan, banyak terjadi zina, kemaksiatan, dan kemungkaran akibat pertemuan laki-laki dan perempuan yang tidak dibenarkan oleh syariat.

Pemisahan ini pun akan semakin mengatur adab seseorang ketika hendak memulai rumah tangga yang baik berdasarkan Islam. Bahwasannya rumah tangga yang baik, tidaklah dimulai dari aktivitas maksiat (ikhtilath, khalwat, maupun pacaran), tetapi dalam koridor yang telah ditetapkan dalam aturan syariat.

Islam tidak pernah mengajarkan siapapun untuk berpacaran sebelum ikatan pernikahan itu ada, karenanya demi menjaga kehormatan dan kesucian umatnya, Islam betul-betul menerapkan pemisahan laki-laki dan perempuan, pun memberikan sepaket adab dalam meminang dan menikahi.

Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki naluri berkasih sayang (gharizah nau’) yang menuntut adanya pemenuhan dalam wujud hubungan keibuan, kebapakan, keanakan, sebagaimana juga menuntut adanya pemenuhan yang bersifat seksual.

Maka dari itu, pernikahan merupakan salah satu perwujudan dari gharizah nau’ yang menuntut untuk dipenuhi. Dalam pemenuhannya inilah, Islam akan mengatur bagaimana interaksi yang akan terbentuk sebelum dan selama pemenuhan itu berlangsung.

Pernikahan merupakan pengaturan interaksi/hubungan antara unsur laki-laki dan perempuan dengan aturan yang khusus. Pengaturan khusus ini mewajibkan agar keturunan yang dihasilkan hanya dari hubungan pernikahan saja.

Dari pernikahan ini akan lahir keturunan umat manusia, terbinanya keluarga, dan kehidupan rumah tangga. Dengan demikian, tidak akan berlangsung suatu khidupan rumah tangga dan keturunan yang baik kecuali melalui ikatan pernikahan yang diatur dalam Islam. 

Pernikahan dianjurkan dan bahkan diperintahkan dalam Islam, sesuai dalam hadits Rasulullah:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ،

وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

 “Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (Mutafaq Alaih).

Dan Islam pun melarang bagi umat Muslim untuk membujang, misalnya dalam hadits Rsaulullah SAW berikut:

عَنْ قَتَادَةَ عَنِ اْلحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص نَهَى عَنِ التَّبَتُّلِ، وَ قَرَأَ قَتَادَةُ { وَ لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلاً مّنْ قَبْلِكَ وَ جَعَلْنَا لَهُمْ اَزْوَاجًا وَّ ذُرّيَّةً. الرعد:38} الترمذى و ابن ماجه

“Dari Qatadah dari Hasan dari Samurah, bahwa sesungguhnya Nabi SAW melarang membujang, dan Qatadah membaca ayat, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan”. (Ar-Ra’d : 38). [HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Dengan adanya anjuran menikah dan larangan membujang, maka Islam telah menyiapkan aturan dalam meminang dan menikah. Meminang adalah interaksi yang dilaksanakan sebelum akad pernikahan itu dilangsungkan, maka di sini tetap memiliki batasan dalam pertemuan dan interaksi tersebut.

Seorang laki-laki disunnahkan untuk meminang gadis yang baik-baik, bukan dari kalangan orang kafir, ataupun meminang perempuan yang sudah dipinang laki-laki lain. Perempuan pun haram untuk menerima pinangan dari laki-laki musyrik.

Pertemuan diwajibkan dengan menghadirkan wali yang sah demi menjaga batasan dan mencukupkan pada orang-orang yang memiliki keperluan.

Manakala telah sempurna kesepakatan antara laki-laki dan perempuan untuk menikah, maka keduanya berhak untuk melangsungkan pernikahan. Akad pernikahan ini tidak dipandang sempurna melainkan dengan akad yang syar’i, sehingga pernikahan akan dianggap sah ketika akad syar’i telah dilaksanakan sesuai dengan hukum syara’. 

Adapun sempurnanya akad pernikahan sesuai dengan syari’at Islam, ialah ketika memenuhi empat syarat in’iqad, yaitu sebagai berikut.

Pertama, adanya ijab-qabul yang dilangsungkan dalam satu forum/majlis. Kedua, dari kedua belah pihak yang berakad harus mendengar sekaligus memahami perkataan satu sama lain. Ketiga, ucapan qabul tidak boleh menyalahi ucapan ijab, baik secara keseluruhan ataupun sebagian. Keempat, harus benar-benar dipastikan bahwa syari’at memperbolehkan pernikahan di antara kedua pihak yang berakad.

Hal ini juga harus diiringi dengan pemenuhan syarat sah pernikahan, di antaranya yaitu perempuan yang dinikahi benar-benar halal/boleh untuk dinikahi, menghadirkan wali yang sah, dan adanya saksi yang memenuhi syarat kesaksian. 

Jika aqad pernikahan telah memenuhi syarat di atas dan disertai syarat sahnya, maka pernikahan telah terjadi dan pernikahan itu sah. Ketika akad ini telah berlangsung, maka halal bagi keduanya (suami dan istri) untuk berinteraksi satu sama lain.

Keduanya memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam membina rumah tangga, mengurus, serta menjaganya dari segala hal yang dapat merusaknya. Penjagaan tersebut akan dibahas dalam tulisan berikutnya. Wallahu ta’ala a’alam bi ash shawab.[]

*Mahasiswi UN Malang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − seven =

Rekomendasi Berita