by

Membangun Iman Dan Taqwa Siswa Di Kala Pandemi

-Opini-21 views

 

Oleh Lilis Sulistyowati, S.E, Praktisi Pendidikan

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– PPKM darurat masih dilaksanakan, sebenarnya banyak sekolah yang menginginkan agar lebih efektif Pembelajaran Tatap Muka (PTM) daripada Pembelajaran Jarak Jauh.

Mendikbudristek pun beralasan bahwa harus segera dibuka PTM terbatas, karena melihat dampak negatif dati PJJ, seperti kebosanan di rumah, jenuh dengan banyaknya video conference, kondisi belajar yang tidak dinamis, kesepian, depresi karena tidak bertemu dengan gutu dan teman. Stres tak keluar dll.

Sebenarnya kerbatasan fasilitas yang terjadi baik di kalangan siswa dan guru ini sangat berpengaruh terhadap lancar tidaknya PJJ. Belum lagi adanya disfungsi seorang ibu dikarenakan tidak dapat membersamai putra – putrinya dalam belajar di rumah.

Hal ini dikarenakan kebanyakan ibu juga membantu perekonomian keluarga bahkan menjadi tulang punggung keluarga. Sehingga kondisi ini pun membuat proses belajar di rumah tidak optimal.

Sementara itu praktisi pendidikan Indra Charismiadji dalam komentar di sosmed menyatakan bahwa pemerintah harusnya mengubah cara pandang tentang PJJ yang selalu menyebut menimbulkan learning loss hingga perlu segera menggelar PTM. Padahal dalam sebuah studi, PJJ bisa lebih baik daripada belajar secara konvensional. Lalu mana sebenarnya yang lebih baik PTM atau PJJ?

Mencari Pendidikan yang Terbaik

Terkait hal ini, pengamat pendidikan Yusriana memberi tanggapan bahwa proses belajar tatap muka tidak dipungkiri lebih bak. Tapi di masa pandemik seperti saat ini butuh persiapan teknis yang maksimal.

Beliau menambahkan bahwa, “Jika latar belakang PTM karena PJJ tidak efektif dan ada dampak sosial, maka negara harusnya fokus membenahi masalah PJJ, memastikan PJJ berjalan dengan baik, serta meminimalkan dampak negatifnya.”

Sesungguhnya, pendidikan tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan sistem yang lain. Sistem ekonomi misalnya, dengan perekonomian yang stabil proses belajar dan mengajar akan lancar.

Mengapa demikian? Karena sarana dan prasana akan terpenuhi dengan baik, selain itu juga akan mengembalikan disfungsi ibu kepada fitrahnya yakni kembali menemani dan mendidik anak-anaknya di rumah tanpa perlu bingung menjadi tulang punggung keluarga.

Selain itu dengan siatem ekonomi yang bagus juga akan mempercepat penenangan dampak Pandemi Covid 19, yang mampu mencukupi semua kebutuhan warga sehingga PPKM Darurat segera berakhir.

Selain itu pendidikan juga butuh dukungan sistem sosial, di mana lingkungan sosial yang kondusif untuk membentuk kepribadian anak menjadi anak yang dapat memiliki kepribadian yang luhur.

Lingkungan yang bebas seperti saat ini telah menggerus moral dan mental anak, yang seharusnya mereka memiliki adab, karena budaya bebas mereka sudah tidak memiliki adab tidak hanya adab dalam menuntut ilmu tapi adab terhadap irang tua, orang yang lebih tua, dalam pergaulan semuanya menjadi bebas.

Hal ini berakibat tercerabutnya rasa malu pada diri anak, sehingga mereka tidak malu melakukan kenakalan remaja atas nama kebebasan.

Pendidikan tidak hanya membutuhkan sarana dan prasarana secara teknis namun juga membutuhkan pondasi yang kuat agar output yang dihasilkan menjadi generasi cemerlang, bukan generasi abal – abal.

Generasi cemerlang akan mengankat nama baiik sebuah bangsa dan generasi abal – abal akan selalu menimbulkan konflik di mana – mana.

Pondasi yang kuat ini tidak lain adalah keimanan. Dengan keimanan mereka dapat mengontrol apa pun yang ingin mereka lakukan dengan aturan yang telah diciptakan oleh Sang Pencipta.

Dengan keimanan inilah mereka akan berusaha memberikan yang terbaik sesuai dengan koridor yang telah ditentukan oleh Pencipta, sehingga tidak menjadi generasi yang bebas – sebebas – bebasnya tanpa aturan kehidupan yang jelas.

Membangun Iman dan Taqwa

Keimanan merupakan pondasi kuat untuk membentuk generasi cemerlang. Lihatlah contoh kesuksesan pendidikan berbasis keimanan yang melahirkan generasi cemerlang seperti Ibnu Sina.

Ibnu Sina merupakan Bapak Kedokteran. Beliau menjadi rujukan dunia yang pertama dalam bidang kedokteran. Ada lagi seorang ahli dalam bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi. Masih banyak lagi, tidak hanya bidang agama tapi juga ilmu pengetahuan. Semua menorehkan tinta emas untuk kemajuan peradaban. Senua ini mampu diraih dengan menerapakan sistem pendidikan berbasis keimanan dan keislaman.

Sistem pendidikan Islam dengan kurikulum berbasis aqidah Islam akan menjamin tersampaikan materi belajar sesuai target pendidikan shohih. Kurikulum pembentukan kepribadian siswa akan diberikan dalam setiap pembelajaran. Tentunya sistem pendidikan Islam ini juga tidak berdiri sendiri, namun butuh dukungan sistem yangblainya baik ekonomi, sosial, hukum sebagainya. Sehingga ketika dilaksanakan menjadi satu – kesatuan yang utuh untuk mendukung terbentuknya generasi cemerlang.

Sistem pendidikan yang memisahkan antara kehidupan dunia dengan agama akan membuat generasi semakin aus. Namun sistem pendidikan yang berbasih Islam akan membentuk generasi yang tidak gampang ikut dan terombang ambing oleh arus kerusakan zaman.

Sehingga metode apapun, baik PTM atau PJJ, implementasi kurikulum pendidikan Islam bisa tetap dilakukan, tanpa khawatir dampak negatif PJJ lagi. Hal ini sangat dibutuhkan agar generasi cemerlanh tetap bisa terbentuk walupun masa pandemi tak kunjung hilang. Wallahu’alam bi sowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita