Membentuk Pelajar dan Generasi Tangguh dengan Konsep Islam

Opini354 Views

 

Penulis: Zahrotun Nurul, S.Pd | Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kondisi perlindungan anak di Indonesia sebagaimana ditulis BBC.com (3/11/2025), menunjukkan catatan kelam. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sedikitnya 25 anak di Indonesia melakukan bunuh diri sepanjang tahun 2025. Kasus terbaru di Sukabumi dan Sawahlunto menambah deret panjang peristiwa tragis di kalangan pelajar.

Data Kementerian Kesehatan sebagaimana dilaporkan kemenkes.go.id, menunjukkan peningkatan signifikan gangguan mental di kalangan remaja. Satu dari tiga remaja berusia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental, sementara prevalensi gangguan mental emosional pada anak di bawah 15 tahun meningkat dari 6% menjadi 9,8% dalam kurun waktu tertentu.

Faktor penyebabnya beragam — mulai dari tekanan media sosial, beban akademik, pola asuh, perundungan, hingga gaya hidup konsumtif.

Namun di balik itu semua, ada akar persoalan yang lebih dalam yakni  hilangnya asas hidup yang berlandaskan ketauhidan. Sistem kehidupan kapitalistik yang berasaskan sekularisme telah menjauhkan generasi dari Tuhannya.

Hidup diarahkan semata untuk mengejar materi, popularitas, dan pengakuan manusia.

Media sosial serta lingkungan sekolah kerap membentuk pola pikir “flexing”, gengsi, dan orientasi semu pada kesuksesan duniawi. Ironisnya, para pejabat publik yang seharusnya menjadi teladan justru sering menampilkan gaya hidup hedonistik dan arogan terhadap rakyatnya.

Fenomena perundungan yang marak terjadi adalah salah satu dampak nyata. Banyak anak merasa inferior karena tidak memiliki kekuatan ekonomi atau sosial.

Sebaliknya, sebagian merasa superior dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki. Pola pendidikan keluarga pun sering kali menanamkan nilai-nilai kapitalistik — menempatkan materi sebagai tolok ukur keberhasilan hidup.

Akibatnya, generasi tumbuh tanpa pegangan spiritual yang kokoh. Saat menghadapi kegagalan, mereka mudah depresi, frustrasi, bahkan nekat mengakhiri hidupnya.

Padahal Allah telah menegaskan tujuan hidup manusia: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Ridha Allah SWT seharusnya menjadi orientasi hidup seorang Muslim. Akidah adalah pondasi utama yang membimbing setiap langkah dan keputusan.

Oleh karena itu, keluarga, masyarakat, dan negara memiliki tanggung jawab besar dalam membangun generasi beriman. Keluarga harus menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan sejak dini.

Sekolah harus menjadi tempat yang menumbuhkan spiritualitas dan akhlak, bukan sekadar mengejar prestasi akademik.

Anak-anak perlu diajarkan bahwa rezeki adalah hak Allah, dan kebahagiaan sejati bukan diukur dari harta, melainkan dari kedekatan dengan Sang Pencipta. Media sosial pun harus diarahkan sebagai sarana dakwah dan penyebaran kebaikan, bukan ajang pamer dan perbandingan.

Masyarakat perlu menghidupkan budaya amar makruf nahi mungkar, saling peduli, dan menolong sesama. Keimanan dan ketakwaan harus menjadi ruh yang menggerakkan setiap individu.

Generasi diarahkan untuk menjadi penolong agama Allah sebagaimana firman-Nya dalam QS. Muhammad ayat 7.

Dengan demikian, akan lahir generasi yang tangguh, bermental pejuang, dan tak gentar menghadapi ujian hidup — sebagaimana para sahabat Nabi dan generasi setelahnya.

Para pemimpin juga harus menjadi teladan dalam menjalankan syariat. Ketawadhuan, kesabaran, dan keteguhan mereka dalam beribadah dan berjihad di jalan Allah akan menjadi contoh nyata bagi umat. Negara sejatinya menegakkan sistem pendidikan dan sosial berlandaskan Islam.

Maka sudah semestinya seluruh aspek kehidupan — keluarga, masyarakat — menjadikan Islam sebagai asas dan pedoman. Dengan penerapan syariat Islam secara menyeluruh, cahaya Islam akan menerangi jiwa dan perilaku setiap insan.

Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para khalifah setelahnya, yang berhasil melahirkan generasi cemerlang, berakhlak mulia, berilmu tinggi, dan rela mengorbankan hidupnya demi ridha Allah SWT. Wallahu a‘lam bish-shawab.[]

Comment