by

Membumikan Islam Di Sepanjang Masa

-Opini-15 views

 

 

 

Oleh: Lulu Nugroho, Pengemban Dakwah, Cirebon

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Ramadan menuju akhir perjalanannya. Hari demi hari berlalu meninggalkan jejak pelajaran bagi orang-orang yang berpikir bahwa sesungguhnya pedoman hidup telah ada di tengah umat. Hanya saja umat belum sepenuhnya tertarik dan melekat padanya, sehingga aktivitas ketaatan hanya sebatas pada Bulan Ramadan saja.

Seharusnya hal yang demikian berlanjut di waktu-waktu sesudahnya. Sebab Ramadan dengan segala keistimewaannya menuntut kita terus hidup dalam suasana keimanan yang tinggi. Bahkan Allah menjanjikan bahwa umat yang menapaki jalan Islam akan berada pada kemuliaan, sebagaimana pernah terukir dalam sejarah peradaban manusia sepanjang 13 abad lamanya.

Sebuah peradaban tampil cemerlang, maju dan kokoh, tatkala Alquran diterapkan pada seluruh aspek kehidupan manusia.

Maka melalui Ramadan, diharapkan tumbuh kesadaran umat Islam dalam dimensi politis sebagaimana disebutkan pada Alquran surat an Nisaa ayat 65, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Tidak hanya ibadah, seluruh aktivitas manusia pasti membutuhkan Islam.. Akan tetapi sejak Rasul mendakwahkan Islam, terjadi tarik menarik kepentingan sehingga menimbulkan hiruk pikuk dan kegaduhan.

Penafsiran ulang ayat-ayat Allah dengan logika manusia, menjadikan umat bingung dan menjauhkannya dari kebenaran yang hakiki. Hal ini pun masih terjadi hingga sekarang dengan dampak yang lebih meluas.

Inilah yang disebut sebagai tahun-tahun yang penuh tipu daya. Pendusta dianggap benar dan yang benar justru dicitrakan buruk. Begitu pula orang yang amanah dianggap penghianat, sedang pengkhianat malah dipercaya. Hingga muncul ruwaibidhoh, yaitu orang bodoh yang mengurusi urusan umat.

Karenanya diperlukan takwa dalam wujud kolektif yang dikendalikan sebuah institusi. Melalui bentuk kepemimpinan yang seperti ini, Islam dijadikan sebagai nizhomul hayah, sistem kehidupan yang lengkap. Hingga melahirkan sistem pendidikan, ekonomi, sosial serta kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang berlandaskan iman kepada Allah.

Seluruhnya akan dihisab. Bukan hanya ibadah ritual tapi juga aktivitas kita bermasyarakat dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab ibadah yang merupakan bentuk ketundukan pada Allah, memiliki cakupan yang luas, baik mahdhoh dan ghoiru mahdhoh. Umat tidak boleh memilih dan memilah syariat, mengimani sebagian dan kufur terhadap sebagian lainnya.

Dari Hafizh Ibnu Katsir berkata bahwa Rasulullahu shallallaahu alaihi wa sallam telah mengadu kepada Allah dalam Quran surat al Furqon ayat 30,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran ini sesuatu yang tidak diacuhkan”

Saat itu orang-orang musyrik tidak memperhatikan dakwah Islam, bahkan menimbulkan keributan dan memperbincangkan hal lain. Sementara itu, perbuatan seseorang yang tidak mengamalkan isi Alquran, tidak melaksanakan perintahnya dan tidak menjauhi larangannya termasuk meninggalkan Alquran. (Tafsir Ibnu Katsir III/318)

Akibatnya Islam tidak lagi dijadikan sebagai asas mengatur kehidupan keluarga, negara dan bangsa. Maka umat mengalami kemunduran.

Gambaran masyarakat jahiliyah dengan aktivitas kerusakannya seperti riba, membunuh anak, yang kuat menindas yang lemah, mempermainkan timbangan, perzinaan dan lain sebagainya, hari ini pun tampak jelas.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰىۤ اَبْصَا رِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ

“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 7).

Tidak boleh ada satupun hukum Islam ditinggalkan, sebagaimana pernah terjadi di masa pemerintahan Abu Bakar ketika sebagian masyarakat menolak zakat. Abu Bakar akhirnya memerangi mereka dan orang yang murtad yang disebut sebagai Perang Riddah. Abu Bakar berkata pada Umar, “Demi Allah, aku akan memerangi mereka yang membedakan antara kewajiban salat dengan zakat.” (Buku 150 Kisah Abu Bakar Al-Shiddiq (2016) karya Ahmad ‘Abdul ‘Al Al-Thanthaqi).

Jika hari ini banyak aturan Allah yang diabaikan, maka sungguh kita berada dalam kesesatan. Sebab iman dan amal salih merupakan satu kesatuan. Beriman pada Islam juga menuntut kita berhukum padanya. Maka perlu upaya terus menerus untuk menggambarkan Islam secara utuh dan bulat. Sebab dakwah akan membuka pemikiran, sehingga merubah pemahaman dan perbuatan, ke arah kebangkitan peradaban.

Inilah bentuk kecintaan pada tanah air, yakni mengajak umat agar kembali pada ajaran yang sahih yakni Islam. Kemudian menerapkannya, membumikannya, menjadikannya menjejak tanah, agar menjadi solusi bagi umat, hingga melahirkan banyak kebaikan dan rahmat bagi semesta alam. Allahumma ahyanaa bil Islam.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + nineteen =

Rekomendasi Berita