by

Mendambakan Tayangan Dan Tontonan Berkualitas Sepanjang Hari

-Opini-15 views

 

Oleh: Arnisah, Aktivis Dakwah Lubuk Pakam, Sumut

________________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA —- Kebahagiaan kaum muslimin tidak terbendung menanti bulan yang Agung. Bulan suci Ramadhan adalah moment istimewa untuk meningkatkan ketaqwaan serta kebaikan. Allah Swt akan menghisabnya dengan pahala yang berlipat ganda.

Demi menjaga kekhusyukan dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan,  Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan surat edaran yang berisi tentang aturan-aturan penayangan selama bulan Ramadhan.

Seperti dilansir tirto.id, sepanjang Ramadan 2021, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melarang televisi menyiarkan adegan berpelukan hingga yang mengandung unsur lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Aturan itu tercantum dalam Surat Edaran KPI 2/2021 berdasarkan keputusan pleno 16 Maret 2021.

Tujuannya, meningkatkan kekhusyukan menjalankan ibadah puasa. “Sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai agama, menjaga dan meningkatkan moralitas,” tulis Ketua KPI Pusat Agung Suprio itu dalam surat tersebut.

Setidaknya terdapat 14 poin aturan yang diminta KPI ke lembaga penyiaran. Agung membenarkan adanya surat edaran tersebut seperti ditulis tirto, Sabtu (20/3/2021).

“Tidak melakukan adegan berpelukan atau bergendongan atau bermesraan dengan lawan jenis pada seluruh program acara baik yang disiarkan secara live (langsung) maupun tapping (rekaman),” bunyi salah satu aturan yang ditandatangani Agung tersebut.

Lembaga penyiaran juga melarang menampilkan gerakan tubuh yang berasosiasi erotis, sensual, cabul. Begitu juga ungkapan kasar dan makian yang bermakna cabul dan menghina agama lain.

“Selama bulan Ramadan lembaga penyiaran meminta untuk tidak menampilkan muatan yang mengandung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), hedonistik, mistik atau horor atau supranatural, praktik hipnotis atau sejenisnya,” bunyi aturan huruf l. Selain itu, lembaga penyiaran dilarang mengeksploitasi konflik dan atau privasi seseorang, bincang-bincang seks, serta muatan yang bertentangan dengan norma kesopanan dan kesusilaan.

Program ini memang baik. Tetapi kaum muslim tidak hanya membutuhkan tayangan yang mendukung tercapainya tujuan puasa, tapi juga sistem yang benar-benar mewujudkan tujuan taqwa, yaitu menaati seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan Allah Swt.  Oleh karena itu tayangan juga harus mendukung untuk meningkatkan ketaqwaan.

Sehingga bukan hanya menayangkan perihal ibadah saja, tetapi menayangkan siaran yang dapat dijadikan pemahaman dalam menjalankan syariat Islam secara Kaffah (menyeluruh). Seperti pemahaman tentang bidang politik Islam, sosial, pendidikan dan lain-lain menurut sudut pandang Islam.

Program ini memang baik, namun sangat disayangkan ketika aturan-aturan tersebut hanya berlaku selama bulan Ramadhan saja.

Hal ini semakin memperlihatkan kokohnya asas sekularisme dalam mengatur kehidupan. Sekularisme, memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan.

Seperti program KPI yang hanya menayangkan tayangan yang bernuansa Islami pada bulan Ramadhan saja. Itupun tayangan yang disuguhkan hanya seputaran ibadah saja. Seolah-olah Islam hanya mengatur perihal ibadah saja. Padahal Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, sosial, kesehatan, dan lain-lain.

Suburnya asas ini berhasil menjauhkan umat muslim dari tayangan-tayangan yang sehat di luar bulan Ramadhan. Mereka hanya menganggap di bulan Ramadhan saja waktu yang dibutuhkan untuk mengonsumsi tayangan Islami. Sehingga ketika Ramadhan lewat tayangan bebas pun ditayangkan tanpa menyaring apakah tontonan itu layak dikonsumsi atau tidak.

Sejatinya tontonan akan menjadi tuntunan apalagi ketika penonton menelan mentah-mentah informasi tanpa disaring terlebih dahulu.

Sebagaimana kita saksikan selama ini bagaimana tayangan yang hadir di televisi sangat memilukan.  Sinetron menampilkan adegan tidak layak pun terus ditayangkan. Tayangan orang berpacaran, mengumbar aurat, serta kekerasan dikalangan pelajar maupun keluarga menjadi konsumsi yang ditiru dalam kehidupan.

Hingga akhirnya dijadikan sebagai gaya hidup yang hedonis serta menciptakan kehidupan yang bebas tanpa aturan yang jelas. Inilah dampak dari tayangan yang tidak sehat. Sungguh meresahkan masyarakat terutama kalangan anak-anak. Di mana peran KPI di luar bulan Ramadhan dalam memantau seluruh tayangan?

Berbeda dengan Islam, mengatur setiap tayangan yang pantas dan layak tayang.  Islam memberantas seluruh tayangan yang tidak mendidik, memicu kekerasan, serta tayangan yang mengandung unsur – unsur negatif.

Islam menyaring dengan ketat untuk kebaikan umat. Sebab media akan dijadikan alat untuk menyebarkan dakwah, film-film yang mengandung hikmah, serta tayangan-tayangan yang mengedukasi seluruh lapisan masyarakat. Baik itu bidang kesehatan, pendidikan, sosial dan lain-lain. Sehingga dapat mendukung kaum muslim untuk mencapai taqwa sepanjang hari. Bukan hanya pada moment tertentu saja.

Oleh karena itu marilah kita bersama mengaplikasikan Islam secara komprehensif Di semua aspek. Hanya Islam yang mampu memberikan tayangan yang dapat menutrisi masyarakat dengan pemahaman yang benar untuk diaplikasikan dalam kehidupan.[]

_____

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat menyampaikan opini dan pendapat yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Setiap Opini yang ditulis oleh penulis menjadi tanggung jawab penulis dan Radar Indonesia News terbebas dari segala macam bentuk tuntutan.

Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan dalam opini ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawab terhadap tulisan opini tersebut.

Sebagai upaya menegakkan independensi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Redaksi Radar Indonesia News akan menayangkan hak jawab tersebut secara berimbang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + 2 =

Rekomendasi Berita