by

Islamophobia, Penyakit Akut Masyarakat Sekuler

-Opini-61 views

 

 

Oleh : Yusseva, Pemerhati Politik Islam

_____

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dalam dunia kedokteran, mungkin sering kita mendengar istilah penyakit akut dan kronis.

Keduanya bisa dibedakan dari waktu berlangsungnya penyakit dan gejala yg ditimbulkannya. Penyakit akut mengacu pada kondisi medis yang berlangsung dalam waktu yang relatif singkat.

Tetapi ketika muncul, menimbulkan serangan dalam waktu cepat dan berbahaya. Penyakit akut juga dapat diartikan dengan penyakit yang terjadi secara mendadak, dalam waktu singkat, dan biasanya merupakan indikasi penyakit yang serius.

Salah satu contoh penyakit akut yang diderita masyarakat sekuler adalah Islamophobia. Islamophobia diartikan sebagai ketakutan berlebihan yang tidak memiliki dasar berpikir yang kuat tentang Islam bahkan dapat disebut dengan mengada-ada.

Kasus Islamophobia di negara-negara Barat, terutama Eropa – akhir-akhir ini mengalami peningkatan yang luar biasa. Sebut saja seorang guru di Batley Grammar School, West Yorkshire, Inggris, menggambar kartun Nabi Muhammad SAW yang diambil dari majalah satir Perancis, Charlie Hebdo kemudian menampilkan gambar Nabi Muhammad SAW kepada muridnya. Meskipun setelah itu dia mengakui bahwa gambar tersebut sangat tidak pantas. (Republika.co.id.London)

Dunia perfilman dan pertelevisian negara-negara Barat juga masih saja menggambarkan Islam tidak jauh dari teroris.

Dilansir dari The Guardian via laman Republika.co.id, menurut laporan tahunan Tell MAMA 2017 mencatat peningkatan Anti-Muslim atau Islamophobia dengan 1.201 insiden terverifikasi, meningkat 26 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan pada 2018 ada 1.072 serangan terverifikasi. Misalnya saja acara Bodyguard berisiko memicu Islamophobia dan memperburuk stereotip perempuan Muslim.

Begitu juga dari hasil riset lembaga think tank Turki, SETA, yang dipublikasikan pada Minggu (21/6/2020).

Dalam “Laporan Islamophobia Eropa 2019 “, disebutkan, Muslim yang tinggal di negara-negara Eropa cenderung mendapat perlakuan diskriminatif. Masyarakat Eropa menurut laporan ini semakin kewalahan oleh wacana Islamophobia.

Laporan itu juga menunjukkan pemerintah dan media arus utama berpartisipasi mereproduksi wacana Islamophobia yang membahayakan hak-hak dasar jutaan warga Eropa. Pada 2019, ada kenaikan jumlah insiden kebencian pada muslim dan bangkitnya ketakutan pada orang asing.

Menyebarnya Islamophobia ini tentu sangat mengkhawatirkan karena akan memperkuat pandangan dan sikap yang menyudutkan warga Muslim. Semua ini akan mendorong sikap saling curiga, kebencian, dendam dan kemarahan yang berujung pada menguatnya konflik horisontal di tengah masyarakat.

Terbukti, tidak sedikit masjid yang dilempari kotoran, muslimah yang menggunakan hijab diludahi dan dilecehkan di negara minoritas muslim.

Dalam negara mayoritas beragama Islam seperti Indonesia, sikap  anti Islam ini menjadikan kaum Muslim takut dan enggan dalam mengkaji Islam, karena takut akan disebut radikal dan teroris. Kaum Muslim yang menjadikan Islam hanya sebatas agama ritual semata, contohnya sholat lancar namun maksiat lanjut. Lebih jauh lagi menciptakan kaum Muslim hedonis dan materialistis, yang senang dengan kehidupan dunia dan lupa bahwa dunia hanya sementara dan akhirat adalah tempat yang kekal.

Padahal sejatinya Islam adalah agama yang sempurna dan tidak ada satupun keraguan di dalamnya. Allah swt berfirman, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu..” (QS. Al-Maidah:3).

Oleh karena itu, sikap yang harus dibangun dan ditunjukkan oleh seluruh umat Islam tidak lain adalah memenuhi perintah Allah SWT dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Ini adalah perintah Allah SWT kepada semua orang mukmin untuk mengambil dan mengamalkan semua ajaran Islam dan Syariah-Nya, termasuk mengagungkan syiar-syiar-Nya. Ini berarti, setiap mukmin harus mencintai Islam sepenuhnya sebagai wujud totalitas kecintaan kepada Allah SWT.

Kecintaan kepada Allah itu harus dibuktikan dengan mengikuti kekasih-Nya, yakni Rasul saw; Katakanlah, “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni  dosa-dosa kalian.”

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Nash ini menjadi pemutus atas tiap orang yang mengklaim mencintai Allah, sementara dia tidak berada di atas jalan nabi Muhammad SAW maka dia adalah pendusta dalam klaimnya pada perkara yang sama, sampai dia mengikuti syariah Nabi Muhammad SAW dan agama kenabian dalam semua ucapan dan keadaannya.”

Maka aneh bin ajaib bila masih ada sebagian kaum muslim yang justru sekuler bahkan alergi dengan ajaran Islam. Lalu kemana selama ini keimanan dan koensekuensi janji sucinya terhadap agama Allah? Waallahua’lam.[]

_____

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat menyampaikan opini dan pendapat yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Setiap Opini yang ditulis oleh penulis menjadi tanggung jawab penulis dan Radar Indonesia News terbebas dari segala macam bentuk tuntutan.

Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan dalam opini ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawab terhadap tulisan opini tersebut.

Sebagai upaya menegakkan independensi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), Redaksi Radar Indonesia News akan menayangkan hak jawab tersebut secara berimbang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 4 =

Rekomendasi Berita