by

Mengemis Online dan Life Style

-Opini-37 Views

 

 

Oleh: Rahmi Ekawati, S.H, Penulis dan Content Creator

_________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Fenomena ‘mengemis online’ dengan cara live di TikTok sedang ramai dan menjadi pembahasan warganet. Hal itu karena sejumlah orang yang mengaku kreator melakukan siaran langsung atau live di TikTok dengan melakukan kegiatan ekstrem atau tak wajar.

Beberapa konten yang banyak disoroti warganet adalah dalam live tersebut berendam di air hingga mandi lumpur. Fenomena ‘mengemis online’ dengan cara-cara tersebut tidak hanya dilakukan satu orang, namun juga sejumlah orang bahkan juga orang tua atau lansia.

Mereka memanfaatkan fitur ‘gift’ yang ada di TikTok dan berharap bisa mendapatkan gift dengan jumlah banyak dari penonton dan kemudian menukarnya dengan uang.

Menurut analisa sosiolog, kemungkinan besar hal ini terjadi dan diorganisir oleh sindikat. Sebab konten seperti ini juga menjamur di banyak negara dan akhirnya ditindak oleh aparat kepolisian lantaran diketahui ada indikasi ekploitasi anak.

Untuk itulah, pemerintah Indonesia disarankan berkoordinasi dengan pihak platform demi memastikan konten-konten serupa tidak disalahgunakan.(Dikuti dari Kompas.com).

Aksi seorang ibu paruh baya sedang duduk di tengah kolam air dan mengguyur dirinya sendiri sudah berlangsung kira-kira empat jam. Tampil dalam siaran langsung di TikTok, konten ini disaksikan 1.400 orang. Kalau ada penonton yang memberikan hadiah virtual berupa koin, bunga, atau gambar hati, ia akan berkata “terima kasih, terima kasih banyak” sembari mengguyur tubuhnya berkali-kali di depan kamera.

Tapi dari pantauannya, tak semua orang yang membuat konten meminta-minta ini dilatari oleh persoalan keterdesakan hidup akibat diberhentikan bekerja atau butuh dana untuk berobat.

Ada juga yang didasari oleh kecanduan obat-obat terlarang sehingga cara paling gampang mendapatkan uang dengan pura-pura minta pertolongan. Di sisi lain hal ini terjadi karena ada kebutuhan-kebutuhan “gaya hidup” yang harus dipenuhi sehingga memilih jalan pintas seperti itu.

Dalam sistem kapitalis, apapun dimanfaatkan demi meraih keuntungan materi. Kemiskinan pun dieksploitasi menggunakan kemajuan teknologi, meski merendahkan harkat dan martabat diri sendiri ataupun orang lain. Bahkan ada yang melakukan demi tuntutan gaya hidup masa kini.

Fenomena ini menggambarkan masyarakat sakit yang hidup di tengah sistem rusak dan tak mampu menyejahterakan rakyatnya.

Negara seharusnya menyelesaikan problem kemiskinan dari akar masalah sehingga tak terjadi hal yang merendahkan manusia atau ada mafia yang memanfaatkaan kemiskinan rakyat demi meraih keuntungan pribadi.

Solusi tuntas persoalan ini membutuhkan kerjasama semua pihak, mulai dari individu yang memiliki kesadaran menjaga kemuliaan sebagai manusia, masyarakat yang memberikan kontrol dan juga negara yang menjamin hidup rakyat dan juga memberikan asas yang tepat dalam memanfaatkan teknologi untuk kemajuan bangsa dan kebaikan umat manusia.

Konten pengemis online yang sedang tren sejatinya tidak muncul secara tiba-tiba. Ada banyak faktor penyebab fenomena ini terjadi. Faktor tersebut bisa kita rangkum dalam beberapa poin berikut.

Pertama, eksploitasi kemiskinan dengan menjual kesedihan dan nasib malang. Kemiskinan membuat seseorang bisa berbuat apa saja asal menghasilkan uang. Mereka rela merendahkan diri, harkat, dan martabatnya sebagai manusia hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak jarang pula  mereka memanfaatkan empati dan simpati masyarakat dan menampilkan konten dengan raut muka sedih, memelas agar masyarakat merasa iba dan memberikan “gift” untuk mereka. Para pelakunya pun beragam, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia.

Kedua, tuntutan gaya hidup. Sebagaimana konsep ekonomi kapitalisme, modal sekecil-kecilnya untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Barangkali konsep inilah yang diterapkan mereka demi memenuhi tuntutan gaya hidupnya. Ingin bergaya, tetapi modal tidak punya.

Jadilah salah satu caranya dengan meminta-minta di media sosial. Dengan melakukan itu, mereka berharap mengumpulkan pundi-pundi cuan melalui belas kasih orang. Tanpa berusaha kerja, materi bisa didapatkan.

Ketiga, kapitalisme membelokkan visi misi hidup manusia yang semestinya untuk beribadah, kini hanya bertujuan untuk mencari kesenangan materi sebanyak-banyaknya. Segala cara dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Dari perilaku terlarang hingga perbuatan yang merendahkan diri sendiri.

Kapitalisme juga membuat teknologi digital bagaikan pisau bermata dua, yaitu pemanfaatannya tergantung pada siapa dan untuk apa. Terkait fenomena pengemis online, bukan hanya pelaku yang mendapat manfaat dari aksi tersebut. Ada pihak lain yang disinyalir juga ketiban untung dari aksi tersebut, yaitu platform media sosial itu sendiri dan si pemberi “gift”.

Keempat, fenomena mengemis online secara tidak langsung telah mengonfirmasi lemahnya fungsi negara dalam upaya menyelesaikan kemiskinan yang sudah menjadi problem menahun. Masyarakat miskin adalah korban kebijakan kapitalisme yang serakah. Tidak ada satu pun manusia yang berharap hidup miskin dan susah.

Mereka pasti juga berharap bisa hidup nyaman dan sejahtera. Sayangnya, kemiskinan yang terjadi bukan hanya karena individu malas bekerja, melainkan ada andil negara yang mengabaikan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat secara luas. Kebijakan yang diterapkan cenderung berpihak pada kepentingan pemilik modal.

Pandangan Islam

Islam melarang meminta-minta, sebagaimana sabda Nabi saw.,
“Barang siapa meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api; terserah kepadanya, apakah ia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya.” (HR Muslim no. 1041).

Pertama, negara mengedukasi dan mendidik masyarakat agar tertanam kesadaran untuk menjaga martabat dan kemuliaannya sebagai manusia dengan senantiasa terikat aturan Allah Taala, yakni tidak melakukan yang dibenci-Nya dan menjalankan perintah-Nya.

Kedua, atmosfer saling menasihati dalam kebaikan antaranggota masyarakat harus menjadi kebiasaan yang terus menerus dihidupkan. Masyarakat harus paham bahwa berdakwah amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban bagi setiap hamba-Nya. Dengan pembiasaan semacam ini, akan terbentuk kepekaan dan kepedulian yang tinggi antarindividu masyarakat dalam mencegah kemaksiatan, perilaku negatif, dan kriminalitas.

Ketiga, negara memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Pemenuhan yang dimaksud bukan memberi secara cuma-cuma, melainkan berupa kemudahan bagi masyarakat untuk mencari nafkah, semisal membuka lapangan kerja, memberi modal usaha, dan pelayanan publik gratis atau murah.[]

Comment