Penulis: Desti Sundari | Muslimah Ibu Generasi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Geger! Mayat pelajar perempuan berusia 16 tahun inisial VPR ditemukan di warung kosong Perumahan Made Great Residence, Lamongan. Korban dibunuh oleh teman sekolahnya, AI (16) karena perasaannya ditolak oleh korban.
Diketahui anaknya hilang pada 11 Januari 2025, setelah keluarga korban melapor dan polisi mencocokan hasil identifikasi mayat yang di temukan dengan laporan tersebut.
Polisi berhasil menangkap AI, yang mengaku melakukan penganiayaan dengan memukul korban dan membenturkan kepalanya ke tembok sebelum mengikat leher korban dengan kerudung.
Setelah melakukan penyelidikan yang mendalam seperti ditutup laman kompas.com (15/1/25), menunjukkan bahwa motif pembunuhan pelajar perempuan di Lamongan adalah sakit hati karena penolakan cinta.
Pendidikan dan pembinaan jangka panjang merupakan kunci untuk mencegah kekerasan pada generasi muda. Jika kita telisik lebih dalam, generasi hari ini tumbuh dan berkembang dalam asuhan sistem sekuler kapitalisme yang tidak menjadikan agama sebagai aturan dasar dalam kehidupan.
Sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang lemah iman yang tidak memiliki perisai kuat dalam mencegahnya berbuat maksiat.
Generasi lemah iman akan mudah terpengaruh pada perilaku, tontonan, dan konten negatif. Apalagi generasi hari ini lebih dekat dengan smartphone yang sangat mudah dalam mengakses apa pun serta berkomunikasi dengan siapa pun.
Di lain sisi, Guru dan orang tua harus menjadi contoh yang baik dalam mengelola emosi.
Kasus ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan betapa pentingnya pendidikan emosi dan kesadaran diri.
Untuk mewujudkannya perlu ada perubahan sistem pendidikan untuk menghindari kasus serupa di masa depan. Hanya sistem Islamlah yang dapat mengatasinya.
Melalui sistem pendidikan Islam, para siswa akan dibentuk agar memiliki pola pikir (aqliah) dan pola jiwa (nafsiyah) Islami sehingga perilakunya mencerminkan ketakwaan, termasuk akhlak mulia. Generasi muda tidak akan mudah tersulut emosi. Naluri eksistensi diri (garizah baqa) akan ia arahkan pada hal yang positif seperti semangat menuntut ilmu, meraih prestasi, membuat beragam inovasi, bahkan jihad fi sabilillah.
Islam juga memiliki aturan yang jelas terkait pergaulan laki-laki dan perempuan untuk mencegah timbulnya fitnah dan perilaku yang melampaui batas syariat.
Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah dalam buku An-Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam halaman 41 menyebutkan, Islam melarang pria dan wanita untuk berkhalwat (berdua-duaan), kecuali jika wanita itu disertai mahram.
Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah sekali-kali seorang pria dan wanita berkhalwat, kecuali jika wanita itu disertai mahramnya.” (HR Bukhari).
Dengan penerapan syariat kafah, siswa dapat mengoptimalkan potensinya untuk kebaikan dan amal salih sehingga menjadi generasi hebat taat syariat, paham ilmu sehingga bermanfaat untuk umat.
Inilah profil generasi yang akan mampu mewujudkan peradaban Islam nan gemilang. Wallahu a’lam bisshawab.[]













Comment