by

Meski Berat Aku Tinggalkan 4 Anakku Demi Masa Depan Mereka

Siti Morfosa.[Dok/pribadi]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tahun 2010 adalah awal duka yang paling mendalam selama hidupku. Inilah tahun yang merobek rasa hatiku sebagai wanita desa dengan 4 orang anak yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Namun suka atau tidak suka, mereka harus merelakan dan menerima kenyataan ditinggal oleh ayah mereka bersama terbakarnya kapal laut yang ditumpangi ayahnya.
Sejak itu, hidupku selalu dihiasi air mata. Entah pagi, siang, sore bahkan pada larut malam tak hentinya air mata mengalir dari pelupuk mataku. Aku begitu kehilangan separuh jiwa yang selalu menemani dan mengayomi hidup keluargaku. Hanya kata istighfar yang kerap menyelinap di sela kesedihanku. Dengan kata-kata inilah aku menjadi kuat menghadapi musibah. Ku ucapkan kata-kata itu berulang-ulang bersama tasbih mengiring untuk semakin menguatkan hatiku.
Hatiku yang duka, hatiku yang lara mengisi sepanjang hari, memikirkan kepergian sang suami sehingga lupa segalanya. Lupa dengan diriku, lupa denga anak-anak-ku. Kesedihan menghias hari-hariku dengan linangan air mata.
Untunglah Allah mengingatkanku melalui lantunan kata Istighfar yang kuucapkan. Aku mulai bangkit dari kesedihan, kehancuran dan keterpurukan ini. Aku mulai hidupku dengan kesibukan dan berjualan kecil-kecilan. Aku mulai merangkak dan berjualan pisang, ubi dan jamur goring untuk menghidupi anak-anakku yang masih kecil. Aku coba mengembangkan bisnisku dengan menciptakan makanan aneka rasa yang aku jual keliling dan ke sekolah yang lumayan jauh dari rumahku. Bersama Zaki putra kecilku yang baru 1 tahun. Aaku hidup di jalan, dari satu desa ke desa lain untuk menjajakan pisang dan ubi goring. Begitu setiap hari aku jalani.
Waktu berlalu begitu cepat dan ujian silih berganti, saat usahaku mulai berkembang. Tiga tahun ku lalui hidup di jalan sejak putriku berusia satu tahun. Si kecil, Zaki, tampaknya sudah bosan dan jenuh hidup di jalan. Putri kecilku ingin masuk sekolah. Kebutuhan semakin membengkak dengan biaya sekolah anak-anaku yang lain. Aku berusaha tetap sabar tapi aku tidak sanggup menghadapi kenyataan ini. Aku tidak sanggup berpikir sendiri. 
Karena kondisi dan biaya hidup yang semakin berat, akhirnya aku putuskan untuk pergi ke negeri sebrang. Betapa berat dan sakitnya hati meninggalkan anak-anakku tanpa seorang ayah dan ibu. Hanya Allah tempatku mengadu dan menyandarkan segala kelemahanku. Demi masa depan ana-anakku, biarlah ku lepaskan mereka, kutinggalkan mereka bersama genangan air mata. Ku titip anak-anakku bersama kakek dan .nenek mereka.
Sebelum berangkat ke Taiwan sebagai TKI, ku ajak Zaki si kecil ke makam ayahnya. Di sana aku ceritakan kisah yang terjadi dengan ayahnya. Zaki seakan mengerti apa yang aku ceritakan itu. Zaki paham bahwa ayahnya telah tiada karena kecelakaan kapal laut Jakarta – Lampung yang ditumpanginya dulu. Ibu, aku rindu ayah, kata putriku saat berada di pusaran makam ayahnya.
Dengan bismillah aku langkahkan kaki ku menuju PT.PJP yang mengurus keberangkatan ku ke Taiwan. Di sini aku belajar dan diajarkan bahasa Mandarin sebagai bekal komunikasi di negeri yang aku tuju. Meski usiaku sudah tidak muda lagi, aku belajar dan belajar. Aku bersemangat mempelajari bahasa Mandarin. 
Tidak lama kemudian, akupun diberangkatkan ke Taiwan sebagai Tenaga Kerja Indonesia alias TKI. Dalam perjalananku, hanya Allah yang aku minta untuk menjaga anak-anakku. Aku yakin Dialah satu-satunya yang bisa menjaga dan menyelamatkan 4 anakku. Hanya doa yang bisa mengubah segalanya.
Satu bulan bekerja di Taiwan, aku sudah mendapatkan gaji. Meskipun masih dipotong, aku tetap bersyukur karena bisa mengirim biaya hidup dan pendidikan anak-anakku; Nanda Ulan Safitri, Indah Dwi Febriani, Ilham Akbar Sabili dan Zaki Yusril Amrullah yang aku tinggalkan di Indonesia.
Alhamdu lillah, selalu aku panjatkan puji dan syukur, kini putraku yang pertama sudah kuliah di Fakultas Hukum, yang kedua sudah sekolah di SMA, yang ketiga sudah duduk di bangku SMP dan si kecil Zaki sudah duduk di kelas 2 Sekolah Dasar. Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberi semangat dan kekuatan hingga saat ini.
Aku hanya berharap agar aku bisa menyekolahkan anak-anakku hingga Perguruan Tinggi. Ini mimpiku yang tumbuh saat anak-anakku begitu sulit menghadapi kehidupan dan biaya pendidikan di Indonesia. Kepada teman dan sahabat, aku ucapkan terima kasih juga atas dukungan dan doanya. Meskipun sebagai single parent, aku tidak mau berputus asa. Karena aku yakin bahwa Allah selalu mendengar doa kita. Dia akan member apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. [GF]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × five =

Rekomendasi Berita