by

Milda, S.Pd*: Kapitalisme Biang Kerok Disintegrasi Bangsa

-Opini-141 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Indonesia harus bertindak tegas atas pernyataan Benny Wenda yang mengklaim telah membangun pemerintahan Papua Barat dan melepaskan diri dari wilayah NKRI. Bahkan, kalau perlu Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden.

Pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah mengatakan deklarasi sepihak tersebut merupakan masalah serius yang harus segera ditanggapi oleh Indonesia.

Jika tidak, dikhawatirkan ini akan menjadi kesempatan bagi pihak lain untuk mendukung deklarasi tersebut sehingga mengancam kedaulatan dalam negeri.
https://kabar24.bisnis.com/read/20201202/15/1325541/pengamat-presiden-harus-buka-suara-soal-klaim-gerakan-papua-barat

Disintegrasi muncul karena kegagalan negeri ini dalam memberikan kesejahterahan dan mewujudkan keutuhan, akibatnya daerah tersebut merdeka secara sepihak, tanpa adanya perundingan terlebih dahulu.

Semua ini adalah bentuk ketidakadilan terhadap seluruh rakyat yang harusnya tidak membeda-bedakan suku, ras, budaya maupun agama dalam bernegara.

Seharusnya penguasa bertindak tegas dalam hal ini, karena kejadian ini suatu hal serius. Sebagaimana Timor Leste merdeka dari ketidakadilan negeri ini. Harus ada upaya menyelamatkan negeri ini sehingga tidak akan ada lagi daerah yang ingin merdeka sendiri.

Permasalahan lain yang juga menjadi pemicu daerah tersebut merdeka yakni dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah tapi tidak dapat mereka nikmati. Bahkan kesejahterahan sulit didapatkan oleh masyarakat Papua.

Seperti kebutuhan pangan, pendidikan, tempat tinggal yang layak, dan sebagainnya. Perlu adanya kesadaran bagi seluruh masyarakat bahwa segala sumber kekayaan alam adalah hak milik masyarakat, bukan hak milik segelintir para pemilik modal maupun penguasa yang dengan mudahnya mendapatkan keuntungan dari hasil sumber daya alam di negeri ini tanpa memikirkan masyarat di daerah setempat.

Dengan konflik yang terjadi saat ini, maka pihak asing berpeluang untuk bisa menikmati segala kekayaan alam di daerah tersebut.

Inilah salah satu bentuk penjajahan yang terjadi di negeri ini tanpa disadari pihak asing beromba-lomba merebut kekayaan alam dan rakyat hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

Terbukti puluhan tahun sistem demokrasi diterapakan di dunia termasuk Indonesia tetapi selalu mendapatkan kegagalan mengatasi setiap permasalahan rakyat.

Seharusnya kita sebagai masyarat sadar bahwa penyebab konflik ini akibat dari kapitalisme sekuler, sistem buataan manusia yang sangat rapuh dan tidak berkeadilan.

Banyaknya masalah yang terjadi di tengah manusia saat ini adalah akibat kecintaan terhadap dunia sehingga segala bentuk larangan dari Allah SWT tidak lagi dipedulikan. Segala sesuatu yang dinginkan menjadi halal tanpa mengenal halal dan haram.

Sebagai manusia hendaklah berprinsip pada Al-Quran yang berlaku adil di antara ummat dengan hidup rukun tanpa memandang perbedaan mulai dari warna kulit, suku, ras, budaya, dan agama.

Karena sejatinya perbedaan itu hanya dilihat berdasarkan ketakwaan kepada Allah SWT sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ( Al-Hujurat 13 ).

Sangat jelas bahwa terdapat dalil-dalil yang menjelaskan tentang kewajiban berbuat adil menerima perbedaan maupun pemenuhan seluruh kebutuhan ummat dari hasil kekayaan sumber daya alam yang mestinya menjadi kepemilikan umum.

Dan untuk menyelesaikan semua konflik yang ada, hanya akan terwujud dengan penerapan hukum-hukum Allah SWT.

Sehingga negeri ini mampu menjadi teladan bagi negara-negara lain serta keberkahan akan senantiasa menaungi negeri pertiwi. Seluruh masyarakat sejahtera menikmati hasil kekayaan alam secara adil tanpa adanya diskriminasi dan kapitalisasi. Wallahu Alam Bishowab.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − two =

Rekomendasi Berita