by

Miss Queen, Liberalisasi Moral Bangsa?

-Opini-32 views

 

 

 

Oleh: Sulistiana, S.Sn, Komunitas Menulis Babel

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Millen Cyrus seperti dilansir  palu.tribunnews.com, memenangi kontes kecantikan Miss Queen 2021 yang diselenggarakan di Bali, Kamis (30/9).
Kontes tersebut merupakan ajang kecantikan bagi para transgender. Dengan terpilihnya Millen Cyrus, ia kemudian berhak ikut Miss Internasional Queen 2021 di Thailand.

Meskipun MUI seperti dikutip republika.co.id mengatakan bahwa ajang Miss Queen bertentangan dengan nilai-nilai agama dan adat, sesuai dengan sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Miss Queen adalah aib bukan prestasi, tak pantas di Indonesia tetap saja ajang ini terlaksanakan.

Penyimpangan seksual dan kampanye LGBT semakin bebas dan masyarakat makin toleran terhadap kerusakan ini. Bahkan warganet ikut memberi dukungan pada pemenang untuk tampil di ajang sejenis di internasional.

Eksisnya kaum menyimpang ini tidak lepas dari bagaimana massifnya upaya yang mereka lakukan, termasuk ajang Miss Queen ini adalah upaya mereka untuk semakin mendapatkan pengakuan status mereka dari masyarakat.

Ini berkolerasi terhadap kerusakan-kerusakan yang dimunculkannya. Kerusakan yang paling dominan adalah kerusakan agama, kerusakan generasi, dan rusaknya tatanan kehidupan sosial.

Perlu kita ketahui bahwa gerakan LBGT ini bukanlah sebuah gerakan yang muncul dengan sendirinya tanpa ada dukungan dari pihak-pihak tertentu. Khususnya LGBT yang ada di Indonesia yang keberadaanya tak lepas dari dukungan internasional.

Sebut saja UNDP (United Nations Development Program) sebuah badan PBB yanag menjamin kemitraan regional dengan kedutaan Swedia di Bangkok, Thailand dan USAID. Tujuannya adalah untuk memajukan kesejahteraan komunitas Lesbian, Gay, Bisex, Transgender dan Intersex (LGBTI) serta mengurangi ketimpangan dan marginalisasi atas dasar orientasi seksual dan identitas gender (SOGI).

Merajalelanya kaum LGBT ini adalah akibat dari sistem yang rusak. Sistem Kapitalisme dengan ide dasar sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang diadopsi oleh masyarakat dan diterapkan oleh Pemerintah di negeri ini telah membuka pintu lebar-lebar bagi perkembangan berbagai macam pemikiran rusak dan kufur.

Para pengadopsi perilaku menyimpang seksual ini bisa gencar beraksi karena mendapat justifikasi dari ide liberalisme, kebebasan berekspresi yang dibangun diatas ideologi sekuler yang menafikan agama dari kehidupan. Hak asasi manusia (HAM) sering digunakan sebagai tameng dalam seluruh kegiatan mereka.

Sistem rusak inilah yang menjadi penyebab rendahnya ketakwaan masyarakat, penyebab minimnya pengetahuan masyarakat terhadap syariah Islam, juga penyebab lemahnya pemahaman masyarakat terhadap Islam sebagai solusi hidup.

Akibatnya semakin banyak di antara individu masyarakat yang menganggap bahwa menjadi homo atau lesbi bukanlah hal yang terlarang dalam agama.

Ini diperparah dengan gencarnya kampanye sesat dan menyesatkan dari pergerakan kaum homoseksual dan para pendukungnya.

Sistem yang rusak tersebut juga telah menyibukkan masyarakat dengan kehidupan materialistis yang membuat lemahnya pengawasan baik dari keluarga maupun masyarakat terhadap perkembangan ide dan pemikiran ini. Akibatnya, serangan tidak hanya menimpa orang dewasa, melainkan juga anak-anak para penerus generasi.

Secara tegas syari’at Islam menolak bahkan mengharamkan adanya LGBT bahkan melaknatnya. Allah SWT secara tegas menyatakan bahwa fitrah manusia diciptakan hanya dengan 2 jenis yaitu laki-laki dan perempuan.

Dan Allah SWT pun memberikan kepada masing-masing syahwat kepada lawan jenisnya (Ali Imron: 14).

Maka cukup jelas, untuk menyelesaikan masalah LGBT ini membutuhkan aturan hukum yang harus kuat dan tegas.  Kita akan sulit merealisasikannya ketika sistem demokrasi liberal yang dipakai saat ini justru memberi ruang bagi LGBT, karena sistem ini mengagungkan kebebasan bertingkah laku. dan dalam sistem demokrasi ini adalah sesuatu yang harus dijaga bahkan dilindungi.

Islam sebagai aturan kehidupan yang lengkap dan sempurna yang bersumber dari Al-qur’an dan As-Sunah merupakan satu-satunya pedoman hidup yang harus kita ambil sebagai sumber hukum dalam menjalani kehidupan kita di dunia ini dan menjadi solusi dengan beragamnya permasalahan yang dihadapi manusia.

Karena Islam merupakan sumber wahyu dari Al-Khaliq yaitu Allah SWT yang memahami betul manusia sebagai mahluk ciptaan-Nya.

Hanya sistem kepemimpinan Islam yang mampu untuk menjawab penyelesaian masalah LGBT. Ketika penyimpangan seksual (LGBT) terjadi, maka Islam akan memberikan sanksi yang tegas bagi para pelakunya.

Sistem kepemimpinan Islam pun tidak akan pernah menjalin bekerjasama, perjanjian atau menerima sesuatu dari pihak luar yang akan merusak aqidah, pemikiran dan kehidupan umat Dan atau rakyat.

Kedulatan dalam hukum bernegara merupakan sesuatu yang harus dikedepankan sehingga negara mempunyai kekuatan politik yang mampu menyingkirkan intervensi dari pihak manapun dalam upaya mengatur urusan rakyatnya.Wallahu a’lam bish showab.[]

Comment

Rekomendasi Berita