by

Mutiara Aini: Refleksi Dan Resolusi

-Opini-72 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah pribahasa yang tepat menggambarkan kondisi rakyat Indonesia saat ini. Bagaimana tidak, setelah runtuhnya sistem Islam di Turki, negara ini semakin tak tentu arah.

Tahun 2020 sebentar lagi akan berlalu, namun kondisinya masih menyedihkan. Bahkan negeri ini tak henti dililit masalah. Penjajahan masih terjadi di dunia Islam dalam berbagai bentuk seperti politik, ekonomi,sosial, pendidikan dan sebagainya. Meski pemerintahan telah berjalan lebih dari satu tahun. Alih alih bertambah baik, negeri ini justru semakin karut marut.

Rezim demi rezim yang berkuasa di Indonesia makin hari makin liberal, bahkan membuka diri untuk dijajah oleh asing. Mereka mengundang asing untuk datang seolah olah Indonesia butuh asing.

Maka wajar dalam kondisi psikologis seperti ini asing banyak tingkah. Hingga penguasapun rela memberikan apa saja kepada mereka. Kekayaan alam milik rakyat yang seharusnya dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat, justru dimanfaatkan asing atas nama investasi.

Kebijakan menaikkan harga bahan pokok, listrik, BBM, kesehatan makin menyengsarakan rakyat, utangpun terus meningkat. Sedikit demi sedikit aset negara ditawarkan kepada asing.

Tentunya masih terngiang di benak rakyat akan janji janji yang dilontarkan oleh sang penguasa negeri ini saat kampanye, yang menyatakan untuk tidak bagi bagi kursi kepada partai pendukungnya, tolak utang luar negeri, menghentikan impor daging, menciptakan lapangan pekerjaan, dan lain lain. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tidak heran jika sebagian publik menilai rezim ini ingkar janji.

Kekuasaan dijadikan alat untuk menekan rakyat. Demi para kapitalis mereka harus berkhianat terhadap rakyatnya, hingga mengorbankan nyawa rakyat mereka sendiri.

Demokrasi Biang Kegagalan Rezim

Polemik dari kegagalan rezim ini menjadi tanda tanya besar. Bagaimana nasib bangsa ini dalam menjalankan roda pemerintahannya dimasa yang akan datang. Sementara permasalahan selama periode pertama hingga saat ini tak menghasilkan titik terang,yang ada malah semakin runyam.

Kegagalan di periode pertama kini terulang kembali di program kerja kedua saat ini. Mengapa demikian?

Sebagaimana kita ketahui, bahwasannya ketika aturan yang bersumber dari akal manusia yang terbatas, maka akan menghasilkan masalah masalah baru. Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah akibat lemahnya sistem pemerintahan. Sehingga Sering terjadi konflik antar partai politik dalam pemerintahan untuk mendapatkan kekuasaan.

Padahal Islam telah lama hadir di tengah tengah umat sebagai pembawa solusi atas segala bentuk permasalahan.
Contoh lain, ketika menangani permasalahan kesehatan masyarakat. Sebagimana jaminan kesehatan dalam islam itu memiliki tiga sifat.

Pertama, berlaku umum tanpa diskriminasi, dalam artian tidak ada pengkelasan dan pembedaan dalam memberikan layanan kesehatan kepada rakyat.

Kedua, bebas biaya, rakyat tidak dikenakan pungutan biaya apapun untuk mendapat pelayanan kesehatan oleh Negara.

Ketiga, seluruh rakyat harus diberi kemudahan untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan oleh negara.

Demikianlah cara islam dalam menangani berbagai permasalahan umat manusia.

Namun nyatanya negara saat ini tidak demikian. Sistem demokrasi yang dianut saat ini merupakan sistem kuno yang di adopsi oleh Indonesia, justru rakyatlah yang semakin dipersulit, disengsarakan bahkan kehilangan hak atas segala fasilitas di negri ini. Karenanya dibutuhkan solusi tuntas sebagai pemecah atas sekelumit permasalahan di negeri ini.

Umat Butuh Perisai

Inilah potret negara yang tidak amanah mengurus rakyat, tidak profesional, bahkan bertindak zalim. Penguasa muslim saat ini mengikuti ‘sunnah’ Barat sekuler.

Mereka mengambil selain dari syariah Allah SWT sebagai sistem hidup mereka. Bangga dengan sistem sekuler yang mereka jalankan. Mereka meninggalkan petunjuk al Quran dan as Sunnah serta meninggalkan syariah-Nya.

Padahal dalam pandangan islam seorang pemimpin harus merdeka, artinya ia tidak boleh berada dalam pengruh siapapun, baik orang, lembaga, terlebih lagi negara lain. Namun tidak hanya cukup dengan merdeka, seorang pemimpin harus berkepribadian kuat.

Orang lemah tidak pantas menjadi pemimpin karena sangat memungkinkan dipengaruhi oleh orang lain. Penerapan hukum dibutuhkan ketegasan dan keberanian.Karena jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti.

Sistem kapitalis yang mengusung ide neoliberalisme yang saat ini menguasai dunia, telah terbukti gagal untuk memberi kesejahteraan. Rakyat semakin terpuruk dan semakin jauh dari islam.

Karena itu, jika bangsa ini menghendaki negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, semestinya mereka berusaha keras mengubah kondisi yang rusak ini agar sesuai dengan tuntunan Allah SWT.

Caranya adalah dengan meninggalkan sistem barat yang usang dan kembali kepada Islam sebagai rahmatan lil alamin.Wallahu àlam bishowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita