Nestapa Gaza di Tengah Hari Raya Idulfitri

Opini64 Views

Penulis: Amirah Desi | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Duka yang tak berkesudahan terus menyelimuti warga Gaza. Konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas telah merenggut puluhan ribu nyawa, menyisakan luka kemanusiaan yang kian dalam. Seperti dilaporkan AFP, jumlah korban jiwa terus meningkat bahkan setelah gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Oktober lalu. Dalam kurun lebih dari dua tahun konflik, tidak kurang dari 70.000 orang dilaporkan tewas.

Sebagaimana dirilis Kementerian Kesehatan Gaza dan dikutip internationalmedia.co.id (30/11/2025), sedikitnya 354 warga Palestina kembali menjadi korban tembakan sejak gencatan senjata diberlakukan. Fakta ini menegaskan bahwa kekerasan belum benar-benar berhenti, dan warga sipil tetap menjadi pihak paling rentan.

Gaza makin terlupakan

Penderitaan yang dialami warga Gaza menjadi ironi pahit di tengah perayaan Idulfitri. Hari kemenangan yang seharusnya dipenuhi suka cita justru dirayakan dalam suasana duka, di antara puing-puing bangunan, keluarga yang tercerai-berai, serta harapan yang kian memudar.

Blokade yang dilakukan Israel memperparah situasi kemanusiaan. Akses terhadap bantuan makanan dan kebutuhan pokok dibatasi, bahkan distribusi bantuan kerap diwarnai ancaman kekerasan. Warga dipaksa berkumpul di titik-titik tertentu untuk memperoleh bantuan, namun dalam kondisi tersebut mereka justru berada dalam risiko serangan. Tidak ada lagi ruang aman, termasuk bagi perempuan dan anak-anak.

Kejahatan perang yang terjadi telah melampaui batas kemanusiaan. Namun, dunia tampak gamang untuk bertindak tegas. Bahkan dalam momentum sakral seperti salat Idulfitri, warga Palestina harus menjalankan ibadah di bawah bayang-bayang ancaman.

Penutupan Masjid Al-Aqsa dan pembatasan akses ibadah menjadi simbol nyata tergerusnya hak-hak dasar umat. Di sisi lain, perhatian global terhadap Palestina kian teralihkan oleh dinamika konflik lain di Timur Tengah.

Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut menggeser fokus dunia, membuat tragedi Gaza seolah kian terpinggirkan. Warga Palestina pun berada dalam posisi terjepit—terlupakan di tengah pusaran konflik geopolitik yang lebih luas.

Ironisnya, sebagian negara di kawasan justru menunjukkan sikap pragmatis dengan menjalin aliansi strategis yang tidak berpihak pada penderitaan Gaza. Solidaritas yang diharapkan dari dunia Islam belum sepenuhnya terwujud dalam langkah nyata.

Padahal, dalam ajaran Islam, umat digambarkan sebagai satu tubuh: ketika satu bagian sakit, bagian lain turut merasakan.

Umat butuh perisai

Islam sebagai agama yang paripurna telah mengatur hubungan antarmanusia, termasuk prinsip solidaritas dan perlindungan terhadap sesama.

Dalam Al-Qur’an surah Al-Fath ayat 29, Allah Swt. menggambarkan karakter kaum mukmin yang tegas terhadap pihak yang memusuhi, namun penuh kasih sayang terhadap sesama.

Ayat ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara ketegasan dan kasih sayang dalam membangun kekuatan umat. Begitu pula dalam surah At-Taubah ayat 123, umat Islam diperintahkan untuk bersikap tegas terhadap ancaman yang nyata, dengan tetap berlandaskan ketakwaan.

Dalam konteks ini, ukhuwah Islamiyah menjadi fondasi penting untuk membangun solidaritas global umat. Persaudaraan tidak berhenti pada ikatan emosional, tetapi harus terwujud dalam tindakan nyata: membantu, melindungi, dan memperjuangkan keadilan bagi sesama.

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya.” (HR Muslim).

Pesan ini mengandung tanggung jawab kolektif yang tidak bisa diabaikan. Ketika solidaritas melemah, ruang bagi kezaliman justru semakin terbuka lebar.

Karena itu, ukhuwah Islamiyah tidak boleh berhenti sebagai konsep normatif. Ia harus hadir dalam aksi nyata—melalui doa, bantuan kemanusiaan, penguatan ekonomi, hingga edukasi publik.

Persatuan umat menjadi kunci untuk membangun kembali kekuatan dan martabat yang sempat berjaya dalam sejarah panjang peradaban Islam.

Jika pihak lain mampu bersatu dalam kepentingannya, maka umat Islam seharusnya lebih mampu bersatu dalam kebenaran dan keadilan. Dengan kesamaan akidah, ibadah, dan sejarah, setiap muslim pada hakikatnya adalah saudara.

Pada akhirnya, harapan akan kebangkitan tidaklah mustahil. Dengan persatuan dan kepedulian yang nyata, bukan hanya penderitaan yang dapat diakhiri, tetapi juga jalan menuju peradaban yang lebih adil dan berkeadaban dapat kembali dibangun. Wallahu a’lam.[]

Comment