by

Nestapa Harga BBM dan Gas Non-Subsidi Naik

 

 

Oleh: Siti Sahara, Freelance Writer

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perusahaan minyak dan gas bumi (Migas) pelat merah yakni PT Pertamina (Persero) secara resmi sudah menaikkan harga tiga jenis Bahan Bakar Minyak (BBM). Di antaranya harga tiga jenis BBM yang naik adalah Pertamax Turbo, Dexlite dan juga Pertamax Dex.

Kenaikan harga tiga jenis BBM itu resmi naik pada 10 Juli 2022. Sementara itu, dilansir cnbcindonesia (20)7)2020) untuk harga Pertamax masih di level Rp 12.500 per liter dan Pertalite masih Rp 7.500 per liter.

Berdasarkan informasi, Pertamax Turbo (RON 98) naik dari semula Rp 14.500 per liter menjadi Rp 16.200 per liter, sedangkan Dexlite naik dari semula Rp 12.950 per liter menjadi Rp 15.000 per liter.

Sementara itu, dilansir okezone.com (16/7/2020), Pertamax Dex naik dari Rp 13.700 per liter menjadi Rp 16.500 per liter untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Tidak hanya harga BBM yang naik, namun harga LPG Bright Gas juga naik sekitar Rp 2.000 per kilogram. Sekretaris perusahaan Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menjelaskan alasan kenaikan BBM dan LPG non-subsidi karena mengikuti perkembangan harga minyak dan gas dunia (Okezone.com, 11/07/2022).

Walaupun harga bahan bakar subsidi seperti pertalite, solar dan LPG 3 kg tidak mengalami perubahan harga sebagai upaya Pertamina menjaga daya beli masyarakat, namun keberadaan BBM non-subsidi maupun subsidi sama-sama penting untuk industri dan kebutuhan domestik.

“Bagaimanapun kenaikan energi akan memicu kenaikan harga barang. Kami juga pasti kena dampak operasional cost-nya. Jadi memang situasinya cukup berat apalagi di tengah pariwisata yang masih dalam upaya pemulihan,” Kata Maulana Yusran selaku sekretaris jenderal perhimpunan hotel dan restoran Indonesia (PHRI) seperti dilansir (13/07/2022).

Jika sekelas hotel dan restoran saja mendapatkan dampak, jelas ketakutan pasti dirasakan para pedagang kaki lima atau warung makan kelas pinggir kota. Karenanya, kenaikan harga LPG dapat mengakibatkan pengguna beralih dari gas non-subsidi ke LPG 3 kg yang bersubsidi. Situasi ini tentu tidak menutup kemungkinan akan terjadi.

Padahal dunia pun tahu bahwa negeri ini memiliki banyak sumber daya alam yang melimpah, namun sayangnya sumber daya alam tersebut dikelola oleh asing atau swasta.

Kemudian yang lebih menarik perhatian bahwa Indonesia menjadi negara eksportir migas dalam bentuk minyak mentah, namun juga menjadi importir minyak dari hasil produksi negara luar. Hal ini dengan alasan jika negara lain memiliki kilang minyak yang besar dalam memproduksi bahan Migas mentah.

Hal tersebut terjadi di antaranya karena sumber daya alam dikelola oleh swasta, sedang posisi negara dianggap sebagai regulator semata, yang mana minim peranan. Sehingga, investasi maupun kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam pengelolaan Migas tidak dapat dihindari.

Sementara dalam Islam, pengelolaan Migas sangatlah penting, karena hal ini berkaitan erat dengan kebutuhan rakyat seperti industrialisasi dan domestik. Sehingga, negara berkewajiban atas beberapa hal, yakni: Pertama, kilang minyak yang dimiliki merupakan kepemilikan umum yang mana harus negara sendirilah yang mengelolanya.

Kedua, hasil dari pengelolaan sumber daya alam tersebut bisa langsung diberikan kepada masyarakat dalam bentuk BBM ataupun listrik rumah tangga secara gratis. Jikapun dijual akan diberikan dengan harga yang terjangkau.

Hasil lainnya dari produk akan dialokasikan untuk pemakaian industri, manufaktur, pertanian dan petrokimia sehingga industri-industri tadi bisa tetap berjalan tanpa kekurangan bahan baku.

Jika pemenuhan konsumsi dalam negeri telah tercukupi, maka barulah dapat diekspor keluar negeri dengan memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Hal ini bisa dijadikan sebagai kekuatan diplomasi.

Ketiga, hasil dari keuntungan penjualan komersil dan ekspor luar negeri dapat digunakan untuk perbelanjaan keperluan pengelolaan harta milik umum seperti administrasi, perencanaan, ekplorasi, produksi, pemasaran dan distribusi sehingga negara mampu membangun industri-industri yang canggih dan berteknologi tinggi.

Pada akhirnya mampu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, serta secara lanjut demi kemaslahatan rakyat dan dapat mencakup lebih banyak memenuhi kebutuhan dalam negeri, seperti sekolah, rumah sakit, dan lainnya secara gratis.

Oleh karena itu, tidak mudah menjaga kestabilan dan harga BBM serta gas yang terjangkau, jika pengelolaan dan distribusinya tidak berjalan sebagaimana yang ditetapkan syara. Karena itu, hanya dengan kembali pada aturan dari yang maha sempurna, yakni Allah Swt. maka kesejahteraan baru akan benar-benar dirasakan oleh semua umat. Wallahu a’lam.[]

Comment