by

Nur Rahmawati, S.H*: Poor Nutrition Thinks,  Menyerang Pemuda

-Opini-101 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — “Berikan aku 10 orang pemuda akan kuangkat gunung, dan 100 orang pemuda akan aku ubah dunia” inilah petikan dari Ir.Soekarno yang punya makna mendalam. Tentunya kita sepakat jika pemuda adalah tonggak kekuatan dan estafet kepemimpinan suatu negara. Sehingga jika ingin melihat suatu negara kuat atau tidak, maka lihatlah bagaimana pemudanya.

Berangkat dari pernyataan di atas, apa sebenarnya yang menjadikan pemuda negeri ini jauh dari harap? Trend korea yang telah menjamur di kalangan pemuda kita, menjadikan mereka tidak lagi paham dan peduli masa depan bangsa. Sehingga jika ditanya soal negara dan kepedulian mereka maka, akan dijawab dengan geleng-geleng kepala. Bahkan tak sedikit dari mereka abai akan rambu-rambu agama, hukum, sosial dan kesopanan.

Sehingga yang kita temui saat ini adalah kenakalan remaja semakin hari bertambah jumlahnya, dengan tingkat kenakalan yang sulit ditoleransi, sebut saja tawuran, perzinahan, narkoba, gank motor, bahkan pembunuhan, serta akhir-akhir ini aksi unjuk rasa yang berakhir ricuh.

Seperti dilansir, republika.co.id, Dalam beberapa aksi unjuk rasa akhir-akhir ini disuguhkan kerusuhan yang melibatkan usia remaja bahkan masih di bawah umur.

Bahkan, setiap ada demonstrasi yang melibatkan massa banyak, petugas selalu mengamankan ratusan remaja yang diduga terlibat atau akan berbuat kerusuhan. Ada beberapa di antara mereka yang harus jadi tersangka dan diproses hukum, (25/10/2020).

Menjawab tantangan zaman, bagaimana pemuda saat ini mulai mengidap “Poor nutrition thinks” (gizi buruk pemikiran)? Yaitu sebuah istilah yang penulis ambil karena krisis berpikir yang kini diidap oleh pemuda saat ini. Di mana mereka tidak menggunakan potensi berpikirnya untuk masa depan yang sesungguhnya yaitu akhirat. Sehingga lebih mendahulukan nafsu di atas akalnya, yang berdampak pada kenakalan remaja.

Jika kita mengambil pengertian menurut para ahli mengenai Gizi buruk (Kurang) adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan, (Khaidirmuhaj, 2009) dikutip dari idtesis.com. (11/03/2014).

Maka, kita dapatkan dampak yang mengerikan tidak hanya pada dirinya, orang lain bahkan negara.
Pemikiran yang ada pada pemuda saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor:

Pertama, faktor keluarga yaitu minimnya pendidikan keluarga sehingga tidak memahami peran masing-masing anggota.

Padahal kita tahu bahwa Ibu memiliki peran sebagai ibu rumah tangga yang mendidik anak mereka mengenai pondasi agama yang kuat sebelum ilmu terapan, peran sebagai pendidik pertama dan utama oleh ibu tidak dapat dilepaskan, karena sangat mempengaruhi akidah dan kepribadian anak yang kelak menjadi pemuda yang membawa perubahan atau sebagai pecundang.

Kedua, faktor sosial yaitu rendahnya kesadaran masyarakat akan peran sertanya dalam membangun lingkungan masyarakat yang Islami, sehingga tidak dapat mendidik pemuda dan mengontrol tingkah laku pemuda agar tidak keluar dari norma agama. Faktor ini cukup berpengaruh besar karena lingkungan yang sehat dari paham-paham yang menyesatkan akan membawa mereka pada kemajuan berpikir.

Ketiga, faktor negara yaitu sebagai pengayom yang bertanggung jawab besar dalam melahirkan pemuda penakluk dan pembawa perubahan posistif. Sehingga bagaimana dapat menciptakan gizi baik pemikiran bagi penerus bangsa dengan mengambil sistem apa yang dianut.

Jika sistem saat ini kapitalisme demokrasi, maka yang ada akan melahirkan pemuda yang individualisme, hedonisme dan pemuda yang minim berpikir untuk kemajuan negara. Namun jika sistem yang diadopsi tepat, maka akan melahirkan pemuda sekelas Ali bin Abi Thalib, Imam Syafi’i, dan Muhammad Al Fatih.

Lantas, sistem apakah yang mampu memberikan nutrisi pada gizi buruk pemikiran? Maka, bisa kita dapatkan hanya sistem Islam yang mampu mencerdaskan, melahirkan pemikiran cemerlang yang dapat berpikir masa depan yang sesungguhnya yaitu akhirat.

Selain itu, gizi yang ditawarkan untuk otak/ pemikiran benar-benar akan mengubah pemikiran yang terpuruk menjadi terdepan dan cemerlang. Sistem Islam, mengatasi dan menyelesaikan beberapa faktor di atas yang menjadi penyebab gizi buruk pemikiran.

Di mana Islam menawarkan sebuah tatanan yang sistematis dalam menangani semua permasalahan hidup. Islam juga mengatur bagaimana kita dituntut untuk berpikir cemerlang tentang pertanyaan mendasar dalam kehidupan, yaitu dari mana kita berasal? untuk apa kita di dunia? Dan akan kemana setelah kehidupan usai? Untuk menjawabnya perlu pemikiran yang cemerlang, sehingga akan berpengaruh pada bagaimana kita menjalankan kehidupan ini.

Menjawab pertanyaan tersebut, diperlukannya dalil yang shohih sebagai penguat.

Untuk pertanyaan pertama, dari mana kita berasal? Tentunya dari Allah Swt sang pemilik kehidupan dan sang pencipta, sebagaimana yang terdapat dalam surah (Al-Mu’minun : 12-13)

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim),” (TQS. Al-Mu’minun: 12-13).

Pertanyaan kedua, untuk apa kita diciptakan? Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya, yang terdapat pada surah (Adz Dzariyat: 56)

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (TQS. Adz Dzariyat: 56).

Dalam surah tersebut adanya perintah menyembah Allah Swt dan beribadah kepada-Nya. Sehingga mengisyaratkan pentingnya tauhid yaitu menuhankan Allah semata dan menghamba hanya pada Allah.

Pertanyaan ketiga, akan kemana setelah kehidupan ini berakhir? Maka didapatkan akan kembali kepada Allah Swt, sebagaimana surah (Al-Baqarah [2]: 156) yang artinya

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun (sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah SWT).” (QS. Al-Baqarah [2]: 156).

Segala sesuatu di dunia ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sehingga kita pahami bahwa pada akhirnya kita akan kembali kepada Allah Swt.

Dengan kemampuan berpikir cemerlanglah dalam menjawab pertanyaan tersebut di atas akan membawa kita pada derajat mustanir. Sehingga kita tidak akan kekurangan gizi pemikiran karena memahami hakikat hidup sesungguhnya.

Maka kembali pada Islam untuk mengatur segala aspek kehidupan, sehingga remaja muslim tidak lagi mengalami krisis pemikiran dampak gizi buruk seperti saat ini. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 1 =

Rekomendasi Berita