by

Nur Azizah Achmad: Korupsi Dana Bansos,  Keterlaluan

-Opini-17 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Musibah covid-19 telah berlangsung lama terkhusus di negri berflower ini. Banyak dampak negatif yang disebabkan oleh pandemi virus corona ini, salah satunya adalah kemiskinan berupa kemerosotan ekonomi, matinya UMKM, PHK di mana-mana dan masih banyak lagi akibat yang disebabkan oleh pandemi ini.

Karena meningkatnya kemiskinan ini, pemerintah mengambil kebijakan dengan memberikan bantuan sosial (Bansos) kepada masyarakat yang kurang mampu khususnya yang terkena dampak langsung.

Sejak awal pandemi bantuan ini sudah diberikan, baik berupa uang tunai, maupun sembako dan lainnya.

Beberapa waktu lalu ramai diberitakan melalui layar kaca bahwa Mensos (Mentri sosial) Juliari pernah berucap; “Kalo ada yang korupsi atas uang bansos terutama, maka sangat tak pantas sekali, karena rakyat sedang kesusahan, malah menambah kesusahan masyarakat saja, jika ada yang korupsi uang bansos maka jangan ragu untuk melaporkannya kepada kami.” Kurang lebih seperti itu ucapan mentri sosial.

Namun ternyata, beliau sendiri yang mengingkari ucapannya itu. KPK menetapkan Menteri Sosial Juliari Batubara sebagai tersangka kasus dugaan suap bantuan corona. KPK menyebut total uang yang diduga diterima Juliari sebesar Rp 17 miliar.

Tak hanya itu, dilansir detik.com, KPK juga menyebut pada periode kedua, sudah terkumpul uang senilai Rp 8,8 miliar yang dikelola oleh Eko dan Shelvy selaku orang kepercayaan Mensos Juliari.

Tak habis pikir memang, dalam sistem demokrasi ini korupsi sudah begitu sering terjadi tanpa ada yang mampu menghentikannya. Sangat disayangkan bahwa para pelaku korupsi alias koruptor Namun hanya dipidana dengan hukuman yang ringan.

Korupsi uang bansos di tengah pandemi ini sangat keterlaluan, di mana pejabat sang koruptor justeru bersenang-senang di atas penderitaan rakyat. Tentu sangat pantas sekali bila mereka mendapat hukuman yang sangat berat, yang bisa membuat jera para koruptor.

Islam telah menyiapkan hukuman yang tepat bagi para koruptor dengan hukuman mati yang membuat jera pelaku yang telah berbuat zalim.

Tapi dalam sistem demokrasi sekuler tidak akan pernah terjadi kecuali dalam tataran teori. Demokrasi sekuler telah rapuh dan tidak mampu menyelesaikan persoalan bukan saja korupsi.

Dengan banyak pertimbangan baik politik dan lainnya, hukuman mati tetap hanya sebatas rencana dan teori. Rakyat pun semakin menderita akibat perilaku yang tidak berprikemanusiaan itu.

Maka untuk mengakhiri penderitaan akibat tindak korupsi ini harus ada upaya mencari penyelesaian masalah ini. Kembali kepada Islam yang lengkap dan adil.

Islam akan melahirkan penguasa-penguasa yang amanah, shingga tidak akan ada penguasa yang melakukan tindak korupsi dan kesejahteraan rakyatpun bisa dirasakan secara penuh.

Islam sebaga agama rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam bukan hanya umat Islam yang mendapatkan rahmatnya, tapi untuk semua tanpa membedakan suku, ras dan agama. Allahu A’lam.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight − seven =

Rekomendasi Berita