by

Umi Hanifah S.Ag*: Kaum Ibu Dalam Kubangan Kapitalisme 

-Berita-20 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu dengan tujuan mengapresiasi perannya yang mulia. Ibu adalah sosok tangguh yang mampu membuat anggota keluarga merasa nyaman dirumah. Jasa ibu sungguh sangat luar biasa, dengan jam kerja yang tak ada batasnya. Itulah salah satu peran besar yang tak bisa digantikan, menjadikan ibu istimewa di mata mereka.

Ketika ibu bahagia maka dia akan maksimal dalam menjalankan tugas dan amanah.

Tahun 2020 ini merupakan peringatan hari ibu yang ke 92. Dari peringatan yang kesekian kali ini muncul sebuah pertanyaan besar, apakah peringatan hari ibu berpengaruh terhadap kesejahteraan mereka ? Ternyata fakta dan harapan berbicara sebaliknya.

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy bicara soal keluarga miskin di Indonesia. Menurut Muhadjir, jumlah keluarga miskin yang masih tinggi di Indonesia itu tidak lepas dari sebuah pernikahan yang terjadi dalam lingkaran antar keluarga miskin.

“Sebagaimana kita ketahui bapak ibu sekalian, rumah tangga miskin di Indonesia itu jumlahnya masih sangat tinggi, masih sekitar 76 juta rumah tangga miskin di Indonesia itu,” kata Muhadjir Effendy dalam pemaparannya sebagaimana dilansir detik.com dalam webinar Kowani, Selasa (4/8/2020).

Jumlah kemiskinan yang sangat besar di negeri yang berlimpah dengan sumber daya alam ini ternyata belum bisa membuat kehidupan rakyat sejahtera apalagi bahagia. Kemiskinan berdampak pada kondisi psikologis keluarga terutama pada diri ibu.

Ibu yang berhati lembut bisa menjadi ganas hingga tega menghabisi buah hatinya karena beban dan himpitan ekonomi yang dihadapi.

Hal ini terjadi di Nias Utara. Seorang ibu muda berinisial MT (30), tega menghabisi nyawa tiga anak kandungnya yang masih balita dengan cara yang keji.  Usai menghabisi ketiga balitanya itu lalu dirinya bunuh diri dan menghembuskan napas terakhir.

Tahanan Polres Nias ini meninggal dunia di RSUD Gunungsitoli, Minggu (13/12) pagi.

Sebelumnya, MT disangka telah membunuh tiga putranya YL (5), SL (4), dan DL (2) di rumah mereka di Dusun II Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa, Nias Utara, Rabu (9/12). Dia menghabisi nyawa ketiga balita itu menggunakan sebilah parang pada saat anggota keluarga lain pergi mencoblos ke Tempat Pemungutan suara (TPS) di Pilkada Nias Utara.

Berdasarkan pemeriksaan sebagaimana dilansir Merdeka.com (13/12/2020), motif tersangka melakukan pembunuhan sadis ini karena stres akibat himpitan ekonomi.

Kasus pembunuhan ibu terhadap buah hatinya bukan terjadi sekali ini saja.

Sistem kapitalis saat ini telah menjadi sebuah kubangan dan memungkinkan terjadinya tekanan mental seorang ibu yang dikenal sebagai sosok lemah lembut menjadi ganas melebihi binatang.

Ekonomi kapitalis tanpa disadari telah menciptakan kemiskinan secara struktural dan sistemis.  Maka terjadilah kesenjangan yang dalam di mana si kaya semakin kaya dan si miskin semakin sengsara.

Dalam sistem ini kekayaan alam yang seharusnya bisa memberi kesejahteraan masyarakat, dikelola para kapital baik individu atau kelompok. Sehingga kekayaan hanya berputar kepada mereka, sedangkan masyarakat tetap kesulitan memenuhi kebutuhannya.

Pemerintah pun belum maksimal menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki, terlebih saat pandemi seperti sekarang ini, para ayah banyak terdampak PHK yang meyebabkan ibu dan anggota keluarga yang lain tidak bisa hidup layak.

Beban hidup yang berat kerap memunculkan pertengkaran antara suami istri hingga menjadikan mereka hilang kendali.

Lain halnya dengan islam, sebagai sistem punya aturan yang efektif dalam mengurus kebutuhan masyarakat yang meliputi sandang, pangan, papan selain  kesehatan, pendidikan dan keamanan yang menjadi hak rakyat.

Dana yang diperlukan demi pemenuhan kebutuhan tersebut berasal dari harta milik umum. Sebagaimana Hadist Rosulullah saw:

Al-muslimûna syurakâ`un fî tsalâtsin: fî al-kalâ`i wa al-mâ`i wa an-nâri”

Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Kekayaan milik umum meliputi rumput atau hutan, air secara umum dan api adalah tambang dengan semua kandungannya. Individu atau kelompok dilarang memiliki bahkan menguasainya.

Negaralah yang harus mengelola dan hasilnya dikembalikan lagi pada rakyat. Sumber pendapatan negara juga berasal dari ghanimah, fai’, kharaj, khumus, rikaz dan harta orang yang tidak punya ahli waris.

Sedang zakat; baik zakat fitrah maupun zakat pertanian, perdagangan, maupun ternak didistribusikan kepada delapan golongan yang telah ditetapkan oleh syariat.

Dengan mekanisme tersebut kemiskinan bisa dihindari, kesehteraan akan dirasakan oleh ibu dan semua anggota masyarakat.

Bisa dipastikan bahwa dalam islam, Ibu akan merasa bahagia dan tidak akan merana karena kebutuhannya terpenuhi dengan baik.

Terlebih negara juga tetap kuat karena tidak tergantung pada dominasi para kapitalis atau negara lain.

Kaum Ibu pernah merasakan berada pada posisi terhormat dan mulia di saat kejayaan Islam selama 13 abad. Allahu a’lam.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − one =

Rekomendasi Berita