Penulis: Nana Juwita Hasibuan, S.Si | Aktivis Muslimah dan Pendidik
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Beras sebagai makanan pokok utama masyarakat Indonesia kini tengah disorot tajam. Selain karena harganya yang melambung tinggi, masyarakat juga dihadapkan pada persoalan kualitas. Ironisnya, beras yang diklaim sebagai beras premium ternyata merupakan beras oplosan yang dikemas secara menipu.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa beras oplosan tersebut bahkan beredar bebas di rak-rak supermarket dan minimarket. Dikemas seolah-olah beras premium, padahal kualitas dan kuantitasnya menipu. Sebagaimana dikutip dari kompas.com (13/07/25), beberapa merek mencantumkan kemasan “5 kg”, namun isinya hanya 4,5 kg. Banyak pula yang mencantumkan label premium, padahal kualitasnya biasa saja.
Dalam laporan yang dimuat metrotvnews.com (28/06/25), Mentan menyampaikan bahwa kecurangan ini berpotensi merugikan konsumen hingga sekitar Rp99–100 triliun per tahun. Konsumen beras premium mengalami kerugian sekitar Rp34,21 triliun, sementara pada beras medium mencapai Rp65,14 triliun. Angka ini tentu bukan kerugian kecil dan menjadi persoalan serius dalam sektor pangan nasional.
Lebih mencengangkan lagi, seperti ditulis oleh kompas.com (13/07/25), empat perusahaan besar tercatat sebagai produsen beras yang tidak sesuai standar mutu. Satgas Pangan menemukan ketidaksesuaian regulasi setelah mengambil sampel dari berbagai daerah.
Kapitalisme: Sistem yang Melahirkan Kecurangan
Praktik semacam ini tak lepas dari sistem ekonomi yang dominan saat ini—kapitalisme sekuler. Sistem ini menempatkan keuntungan sebagai tujuan utama, dan memisahkan nilai-nilai agama dari urusan publik, termasuk ekonomi. Maka tak heran jika kecurangan dan manipulasi dianggap sebagai strategi bisnis biasa.
Pengawasan yang lemah serta sistem sanksi yang tidak tegas membuat pelaku usaha curang merasa aman. Negara tampak kurang hadir dalam memberi efek jera. Di sisi lain, sistem pendidikan sekuler gagal mencetak individu yang amanah dan bertakwa. Pengusaha dan pejabat yang tak lagi takut kepada Allah hanya mengejar profit, tanpa peduli halal-haram atau dampaknya pada masyarakat.
Islam: Sistem Solutif dan Komprehensif
Berbeda dengan kapitalisme, Islam mengatur sistem ekonomi dengan adil dan menyeluruh. Islam mewajibkan penguasa berlaku amanah sebagai ra’in (pengurus rakyat) dan junnah (pelindung). Negara bertanggung jawab memastikan keadilan ditegakkan, termasuk dalam aktivitas ekonomi dan perdagangan.
Salah satu mekanisme penting dalam sistem Islam adalah kehadiran qadhi hisbah, yaitu aparat pengawas pasar yang bertugas memastikan transaksi berjalan sesuai syariat. Rasulullah ﷺ bahkan menunjuk sahabat untuk mengawasi pasar.
Umar bin Khattab juga mengangkat Asy-Syifa, seorang perempuan dari kaumnya, sebagai qadhi hisbah di Madinah. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha dan Imam Syafii dalam Musnad asy-Syafii.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Ahmad).
Allah SWT juga mengingatkan dengan tegas dalam Al-Qur’an: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi…” (QS. Al-Muthaffifin: 1–6).
Islam melarang keras praktik kecurangan dan mewajibkan adanya muamalah yang adil dan saling ridha. Negara dalam sistem Islam bertugas penuh mengurusi kebutuhan rakyat, termasuk sektor pangan—dari produksi, distribusi, hingga konsumsi. Negara tidak boleh menyerahkan kontrol pangan kepada korporasi. Bila hanya 10% pasokan pangan dikuasai negara, maka sangat sulit untuk melawan dominasi korporasi dalam rantai pasok dan niaga.
Kecurangan beras premium adalah cerminan dari kerusakan sistemik akibat dominasi kapitalisme sekuler. Islam hadir menawarkan sistem yang tidak hanya menjamin keadilan melalui mekanisme hukum dan pengawasan, tetapi juga membentuk pribadi yang bertakwa serta masyarakat yang saling mengontrol.
Sudah saatnya kita melihat Islam tidak sekadar sebagai agama spiritual, tetapi juga sebagai sistem kehidupan yang mampu mengatur urusan pangan, perdagangan, dan keadilan dengan paripurna. Wallahu a’lam bish-shawab.[]










Comment