Palestina dan Mati Rasa Kemanusiaan Para Penguasa

Opini1798 Views

 

 

Penulis: Rosi Ummu Aura | Muslimah Peduli Umat

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Penjajahan Zionis atas Palestina semakin brutal. Blokade total diberlakukan, bantuan pangan dicegah masuk, dan kelaparan dijadikan senjata pembunuh massal. Menteri Keuangan entitas Zionis, Bezalel Smotrich, terang-terangan menyebut membiarkan warga Gaza mati kelaparan sebagai tindakan “adil”. Sementara Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, melarang penyaluran listrik dan makanan hingga sandera dibebaskan.

Meski bantuan hanya diizinkan melalui empat jalur resmi yang dikendalikan Gaza Humanitarian Foundation (GHF)—bentukan AS dan Zionis—proses distribusi berubah menjadi tragedi. Puluhan warga tewas ditembak saat berebut makanan. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 160 orang syahid dan ribuan lainnya terluka akibat insiden di titik distribusi.

Solidaritas Dunia, Ketegaran Umat

Di tengah kezaliman ini, solidaritas dunia tak padam. Aktivis Swedia, Greta Thunberg, bersama rekannya, berlayar membawa bantuan melalui kapal The Madleen pada 1 Juni 2025, namun dicegat tentara Israel di perairan internasional dan dideportasi. Dari daratan, lebih dari 1.500 aktivis Afrika Utara bergerak lewat konvoi Soumoud menuju Rafah. Ribuan lainnya mengikuti Global March to Gaza, menempuh 50 km dari El-Arish, Mesir. Relawan Indonesia juga turut serta.

Sayangnya, upaya ini sering dihalangi oleh rezim-rezim Arab sendiri.

Bungkamnya Pemimpin Muslim

Ironis, para penguasa negeri-negeri muslim justru bungkam. Mereka cukup puas dengan kecaman, tanpa tindakan nyata. Tangisan anak-anak kelaparan dan darah para syuhada tak mampu menggugah hati mereka. Alih-alih membela Palestina, mereka malah menormalisasi hubungan dengan Israel lewat Abraham Accords dan menanam investasi di tanah penjajah.

Nasionalisme sempit telah mematikan nurani mereka. Padahal Islam memerintahkan perlindungan terhadap nyawa sesama muslim. Tragisnya, orang-orang nonmuslim justru lebih vokal, sementara pemimpin muslim kehilangan empati dan keberanian.

Pembebasan Palestina: Jalan Jihad

Palestina bukan semata isu kemanusiaan, melainkan kewajiban akidah. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS Al-Hujurat: 10). Rasulullah ﷺ juga menegaskan kewajiban muslim melindungi saudaranya dari kezaliman.

Pembebasan Palestina tidak cukup dengan donasi atau demonstrasi. Hanya jihad yang mampu mengusir penjajah. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan, jihad adalah fardu ‘ain bagi yang diserang, dan fardu kifayah bagi yang lain sampai penjajah terusir.

Namun jihad butuh institusi negara yang mampu memimpin pasukan dan mendanai perjuangan. Saat ini, negara-negara muslim masih terbelenggu sekularisme dan nasionalisme, sehingga tak mungkin jihad terwujud tanpa kepemimpinan Islam Global.

Tegaknya Kepemimpinan Islam Global: Solusi Nyata Palestina

Kepemimpinan Islam Global adalah satu-satunya institusi yang mampu menyatukan kekuatan umat, menggerakkan pasukan, membangun industri pertahanan, dan mendanai jihad dari baitulmal. Bila dana kurang, bisa ditarik pajak sementara dari muslim kaya atau menyerukan infak.

Allah berjanji, “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7).

Maka, perjuangan menegakkan Khilafah adalah keniscayaan. Dakwah ideologis harus terus digencarkan agar umat meninggalkan sistem sekuler-kapitalis dan kembali pada Islam yang kaffah. Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104).

Semoga umat segera bangkit, menegakkan syariat Islam dalam naungan Khilafah, hingga Palestina benar-benar merdeka dan Zionis terusir dari bumi suci. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment