Palestina Kembali Terluka di Tengah Pengkhianatan Gencatan Senjata dan Bencana Kemanusiaan

Internasional314 Views

 

 

RADAR INDONESIA NEWS.COM, GAZA  — Krisis kemanusiaan di Palestina kembali mencapai titik kritis. Di tengah upaya diplomasi yang terus digaungkan dunia internasional, rezim Zionis kembali melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Serangan demi serangan dilancarkan ke wilayah sipil, termasuk kamp-kamp pengungsian yang kini dihantam banjir hebat akibat hujan berkepanjangan.

Zionis Mengkhianati Gencatan Senjata

Meski kesepakatan jeda kemanusiaan sempat diumumkan, pasukan Israel kembali meluncurkan serangan udara serta operasi darat di sejumlah titik. Pelanggaran ini menambah daftar panjang tindakan agresi militer yang telah menewaskan ribuan warga sipil.

Sumber-sumber lokal menyebutkan, serangan terbaru menargetkan area permukiman dan tenda pengungsian, menghancurkan fasilitas darurat yang selama ini menjadi satu-satunya tempat bertahan hidup warga.

Banjir Menggenangi Kamp Pengungsian, Anak-Anak Jadi Korban Terbanyak

Di tengah serangan militer, kamp pengungsian Palestina dilanda banjir besar. Tenda-tenda yang rapuh tidak mampu menahan derasnya air, membuat ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal untuk kedua kalinya.

Laporan lembaga kemanusiaan mengungkapkan bahwa anak-anak adalah korban paling banyak. Mereka terjebak dalam lumpur, kedinginan, kekurangan makanan, dan rentan terserang penyakit akibat sanitasi yang rusak. Kondisi ini memperparah tragedi yang sebelumnya sudah sangat berat bagi warga Palestina.

Himbauan Negara-Negara Islam: Saatnya Bertindak

Sejumlah ulama, aktivis kemanusiaan, dan lembaga-lembaga Islam menyerukan negara-negara Muslim agar tidak tinggal diam.

Mereka mendesak negara-negara mayoritas Muslim untuk: Mengirim bantuan kemanusiaan skala besar, memberikan perlindungan diplomatik di forum internasional, menekan Zionis dengan embargo ekonomi dan politik dan membantu perlawanan Palestina melalui dukungan nyata dan terukur

Ajakan ini muncul karena dunia melihat betapa lemahnya respons sebagian negara Islam dalam menghadapi tragedi paling kejam abad ini.

Fakta Pahit: Normalisasi Hubungan Negara-Negara Islam dengan Israel

Di tengah jatuhnya ribuan korban di Gaza, sejumlah negara Islam justru menjalankan atau melanjutkan proses normalisasi hubungan dengan Israel.

Normalisasi ini disebut-sebut sebagai bentuk kompromi politik dan kepentingan ekonomi, meski jelas bertentangan dengan nurani umat Islam di seluruh dunia.

Langkah tersebut mengundang kritik keras dari para ulama dan aktivis karena dianggap melemahkan perjuangan Palestina dan memberi legitimasi pada rezim yang merampas tanah serta nyawa warga sipil.

Hamas dan Faksi Perlawanan: Garda Terdepan Umat Islam

Di tengah keterpecahan dunia Muslim, rakyat Palestina tetap menunjukkan keteguhan. Hamas dan faksi-faksi perlawanan lainnya terus menjadi benteng terdepan dalam menghadapi agresi Zionis.

Mereka diyakini sebagai para mujahid yang membela umat Islam di mana pun mereka berada. Perlawanan mereka bukan sekadar perjuangan lokal, tetapi bagian dari membela kehormatan umat.

Mereka memegang teguh prinsip:

Allahu Ghoyatuna (Allah tujuan kami)
Al-Qur’an Dusturuna (Al-Qur’ân pedoman kami) Al-Jihadu fi Sabilillah Asma Amanina (Jihad di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami).

Dalam pandangan umat Islam, mereka bukan teroris, tetapi para penjaga tanah suci dan martabat umat.

Mengapa Umat Islam Tidak Bersatu?

Para pengamat menyebutkan setidaknya tiga faktor utama yang membuat dunia Muslim terus tercerai-berai:

1. Nasionalisme sempit yang mengutamakan batas negara ketimbang persatuan umat.

2. Kepentingan dunia — termasuk jabatan, pengaruh politik, dan ekonomi.

3. Kelemahan visi kepemimpinan yang lebih mementingkan relasi internasional daripada amanah membela sesama Muslim.

Namun, para pejuang Palestina tidak pernah merasa sendiri. Mereka meyakini bahwa pertolongan Allah selalu bersama orang-orang yang berjuang menegakkan keadilan.

Kemenangan Sejati Milik Allah” — Dalil dan Hadits tentang Janji Kemenangan.

Al-Qur’an dan hadits telah menegaskan bahwa kaum tertindas yang berjuang di jalan Allah akan mendapatkan kemenangan.

Allah berfirman:

1. “Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi.”
(QS. Al-Mu’min: 51).

2. “Dan Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj: 40).

3. “Berapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah: 249).

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tampil memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak akan celaka oleh orang yang menelantarkan mereka hingga datang keputusan Allah.”
(HR. Muslim).

Para ulama menafsirkan bahwa para mujahid Palestina termasuk dalam kelompok ini.

Peringatan bagi Umat Islam yang Tidak Peduli

Para ulama mengingatkan bahwa sikap acuh terhadap penderitaan Palestina — baik tidak berdoa, tidak membantu, maupun tidak bersuara — dapat menjadi sebab penyesalan besar di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan kaum Mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh…” (HR. Bukhari-Muslim). Bila satu bagian sakit, seluruh tubuh merasakan sakitnya.

Artinya, ketika umat Islam di Palestina disakiti, setiap Muslim wajib merasakan kepedihan dan menunjukkan pembelaan.

Tragedi Palestina bukan hanya isu politik — ia adalah ujian iman, moral, dan solidaritas umat manusia. Umat Islam dituntut tetap berdiri bersama rakyat Palestina, karena perjuangan mereka adalah bagian dari harga diri umat dan janji kemenangan yang telah Allah tetapkan.[]

Berita Terkait

Baca Juga

Comment