Paramadina Serukan Semangat Sumpah Pemuda: “Syubbanul Yaum Rijalul Ghod”

Nasional371 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA -— Dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, Universitas Paramadina menyerukan pentingnya kembali meneguhkan semangat kebangsaan melalui kerja nyata dan kolaborasi lintas generasi.

Pemikiran ini bersumber dari gagasan Nurcholish Madjid atau Cak Nur, pendiri Paramadina, yang menilai Sumpah Pemuda bukan sekadar ikrar historis, melainkan komitmen moral yang harus diwujudkan dalam tindakan.

“Cak Nur menafsirkan Sumpah Pemuda sebagai akad dan ikrar kebangsaan yang menuntut tindak lanjut berupa kerja-kerja nyata untuk kemajuan bangsa,” ujar Dr. Suratno dari Universitas Paramadina dalam rilis resmi lembaga tersebut, Selasa (28/10).

Kerja dan karya, tambahnya, adalah bentuk pengisian sejarah yang paling bermakna agar bangsa ini menjadi makmur dan cerdas, sesuai cita-cita para pendiri negara.

Dalam rilis tersebut, Suratno juga mengingatkan bahwa hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda 1928, Indonesia masih bergulat dengan persoalan lama –  kesenjangan sosial, rendahnya mutu pendidikan, dan perilaku elitis di kalangan penguasa.

“Kita seperti kehilangan semangat persaudaraan dan kebersamaan yang dulu membuat bangsa ini kuat,” tegasnya.

Mengutip semangat Bung Karno, Suratno menegaskan perlunya “samen bundeling van alle krachten van de natie”—pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa—sebagai energi moral baru untuk keluar dari keterpurukan.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai gagasan Cak Nur tetap relevan di tengah stagnasi demokrasi dan kemunduran moral elite bangsa.

“Cak Nur sejak lama mengingatkan bahwa demokrasi kita makin kehilangan ruhnya. Reformasi berjalan tanpa arah yang pasti,” ujar Didik.

Pemuda, lanjut Didik, seharusnya menjadi agen moral dan intelektual yang menggerakkan perubahan. Mereka bukan sekadar usia muda, tetapi kekuatan sejarah yang punya tanggung jawab memperbaiki keadaan.

Didik menambahkan, bangsa Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu memadukan iman, ilmu, dan kerja keras, sebagaimana ditulis Cak Nur dalam karya monumentalnya Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan.

“Hanya dengan itu, Sumpah Pemuda punya makna substantif –  bukan sekadar seremoni, tetapi semangat untuk membangun Indonesia yang beradab,” ujarnya.

Prof Didik  J Rachbini juga mengingatkan bahwa keindonesiaan sejati terletak pada kemampuan bangsa ini menjaga keberagaman.

“Indonesia adalah rumah bersama. Keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan sumber kekuatan untuk bersatu,” tulis pernyataan tersebut.

Dengan semangat itu, lanjut Didik, universitas Paramadina mengajak generasi muda untuk menyalakan kembali idealisme dan bekerja nyata bagi bangsa.

“Syubbanul yaum rijalul ghod,” tutur Didik mengutip pepatah Arab. “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Maka dari mereka-lah masa depan Indonesia ditentukan.”[]

Comment