Penulis: Vie Dihardjo | Alumnus Hubungan Internasional UNEJ dan Guru Bimbingan Konseling
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Peringatan Hari Kartini saban tahun kerap dipenuhi nuansa artifisial—busana adat, lomba, dan seremoni. Semua itu memang meriah, namun jika refleksi berhenti pada simbol, maka esensi perjuangan Raden Ajeng Kartini justru berpotensi terabaikan. Kartini tidak sekadar memimpikan kemajuan perempuan; ia menapaki jalan ilmu dan menelusuri makna agama sebagai cahaya kehidupan.
Salah satu fase penting yang kerap luput dari perhatian adalah perjumpaan Kartini dengan Kiai Sholeh Darat. Dalam keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan pada masanya, semangat belajar Kartini justru menggelora. Ia meminta agar Al-Qur’an ditafsirkan dalam bahasa yang dapat ia pahami.
Respons Kiai Sholeh Darat menjadi titik balik. Ia menulis tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa (pegon) melalui karya Faidur Rahman, dengan tujuan agar Al-Qur’an tidak sekadar dibaca, tetapi juga dimengerti.
Salah satu ayat yang menginspirasi Kartini adalah QS. Al-Baqarah ayat 257: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.” Dari sini, Kartini menemukan makna spiritual yang memperkaya cara pandangnya terhadap kehidupan.
Kekaguman Kartini terhadap Islam kemudian tercermin dalam surat-suratnya kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Surat tersebut dihimpun oleh J.H. Abendanon dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Di dalamnya, Kartini menuangkan kegelisahan atas berbagai persoalan sosial—mulai dari ketimpangan akses pendidikan hingga kritik terhadap tradisi yang membatasi peran perempuan.
Surat-surat itu menegaskan bahwa perubahan berawal dari pemikiran yang jernih dan keberanian untuk bersuara.
Ilmu sebagai Jalan Perubahan
Gagasan Kartini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sumber inspirasi yang menegaskan bahwa ilmu, iman, dan perubahan sosial adalah satu kesatuan. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan ilmu sebagai fondasi peradaban.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” Kartini tidak berhenti pada membaca teks, tetapi berupaya memahami maknanya. Dari pemahaman itulah lahir perubahan cara pandang, yang kemudian menjelma menjadi perubahan sosial.
Keresahan terhadap kondisi perempuan yang terbelenggu mendorong Kartini terus mencari ilmu dan berpikir kritis. Hal ini selaras dengan QS. Al-Mujadilah ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu.
Lebih jauh, surat-surat Kartini menunjukkan bahwa perubahan tidak berhenti pada gagasan. Ia mengolah ilmu menjadi pemikiran, lalu menggerakkannya menjadi aksi. Sebagaimana QS. Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
Namun, perubahan yang sejati bukan sekadar kemajuan, melainkan perubahan yang benar dan bermakna—yang berakar pada iman dan takwa. QS. Al-Hujurat ayat 13 mengingatkan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya.
Pada akhirnya, peringatan Hari Kartini semestinya tidak berhenti pada seremoni. Ada pelajaran substansial yang perlu dipetik – bahwa ilmu harus menggerakkan, pemahaman harus melahirkan perubahan, dan kegelisahan harus diolah menjadi aksi nyata.
Kartini memulai dengan pena—dari kegelisahan menuju pencerahan. Sementara Islam memberi fondasi bahwa seluruh proses itu adalah bagian dari ibadah dan jalan perubahan.
Wallahu a’lam bishawab.[]











Comment