by

Pemberdayaan Perempuan Antara Selera Dan Syara

 

 

Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Menteri Sosial Tri Rismaharini membawa program Pahlawan Ekonomi (PE) di Surabaya menjadi percontohan nasional. Selain itu, Kemensos juga ingin UMKM berkembang secara nasional.

Tahun ini, para Pahlawan Ekonomi dari Surabaya akan menjadi mentor. Mereka akan berkeliling memperkenalkan strategi menjaga bisnis UMKM secara nasional, khususnya di wilayah Indonesia Timur.

“Itulah yang kami mulai. Sebab, teman-teman timur ini sebenarnya punya keinginan dan pekerja keras. Sehingga, kemudian kami ajari marketing produk, branding, hingga packaging,” kata Mensos Risma di Surabaya, Minggu (26/6/2022).

Risma mengatakan PE digagas untuk mengubah nasib warga yang kurang mampu. Melalui pemberdayaan UMKM, warga diajarkan dalam hal produksi, pengemasan, perizinan, hingga marketing. Hasilnya, banyak pelaku UMKM sukses memasarkan berbagai produk hingga ke luar negeri hingga merekrut banyak pekerja.

Pahlawan Ekonomi ini merupakan salah satu program yang digagas oleh Mensos Risma saat masih menjabat sebagai Wali Kota Surabaya tahun 2010 lalu. Dimana para ibu rumah tangga dari keluarga kurang mampu diberi modal mengembangkan UMKM melalui pelatihan dan pendampingan komprehensif.

Dilansir detik.com, umlah UMKM pun naik pesat. Di tahun 2010, jumlah UMKM yang ikut pelatihan sebanyak 92 UMKM. Kemudian, naik hingga mencapai 8.565 UMKM setelah 7 tahun berselang.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa perempuan berdaya adalah ketika mereka berhasil mencapai kemapanan finansial atau mempunyai kemampuan dalam hal ekonomi. Yang menjadi pertanyaan, apakah ketika perempuan berdaya maka otomatis kesejahteraan akan digapai karena berkurangnya tingkat kemiskinan?

Kemiskinan yang tak berkesudahan adalah dampak dari kesalahan sistemik, sehingga menganggap pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai solusi sangatlah absurd. Apalagi kemiskinan bukan hanya menimpa kaum perempuan, tetapi juga kaum laki-laki. Sistem kapitalisme yang diterapkan, menjadikan materi sebagai poros kehidupan.

Maka tak mengherankan, perempuan berdaya adalah mereka yang berhasil mendulang cuan. Padahal bahaya lain sudah siap menyergap. Perempuan tercerabut fitrahnya sebagai pengasuh yang pengasih, akibat diprovokasi dengan iming semu kehormatan sebagai perempuan berdaya ekonomi. Angka perceraian dan kehancuran keluarga melejit luar biasa.

Secara logika, sulit bagi seorang perempuan mendapatkan semuanya sekaligus, karier, keluarga dan kebahagiaan dirinya. Ujung-ujungnya, perempuan tak lebih menjadi tumbal perekonomian global.

Sistem kapitalisme juga memformat para pemangku kebijakan tak lebih dari sekadar regulator. Wajarlah, masyarakat dipersilakan menyelesaikan masalahnya masing-masing, kalau pun membantu, terkesan ala kadarnya bahkan sebatas pencitraan. Makna perempuan berdaya pun didasarkan ‘by selera’ kapitalisme!

Bagaimana perempuan berdaya menurut Islam atau ‘by syara’? Islam telah menggariskan, perempuan disebut berdaya jika ia mampu menjalankan peran sebagai ibu dan manajer rumah tangga secara maksimal dan sesuai syariat Islam; sebagai mitra laki-laki untuk melahirkan generasi cerdas, bertakwa, menjadi pejuang agama Islam yang tangguh.

Islam tidak melarang perempuan untuk bekerja dan berkarier. Rasulullah SAW bersabda : “Allah telah mengijinkan bagi kalian (kaum perempuan) untuk keluar memenuhi kebutuhan kalian.” (HR. Bukhari).

Namun, mereka tidak seharusnya didorong atau dipaksa, baik dengan tekanan sosial maupun tekanan ekonomi demi memenuhi kebutuhan mereka sendiri atau keluarga mereka, sehingga mengkompromikan tugas utama mereka untuk merawat dan membesarkan anak-anak mereka agar menjadi generasi emas penerus peradaban gemilang.

Negara yang bertanggung jawab untuk menjamin keuangan setiap perempuan yang tidak memiliki kerabat laki-laki yang mencukupi kebutuhannya, atau kepada laki-laki yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nafkah dirinya dan keluarganya. Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang mati meninggalkan harta, maka harta itu untuk keluarganya. Dan barangsiapa mati meninggalkan utang atau tanggungan, maka itu tanggung jawabku.” (HR. Muslim dari Jabir).

Kata ‘tanggung jawabku’ dalam Hadits ini mempunyai implikasi Rasulullah SAW sebagai kepala pemerintahan atau penguasa kala itu.

Negara pun semestinya tak perlu selalu dalam kondisi tak ber cuan. Begitu melimpah SDA yang dikandung dalam tanah air negeri ini, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, jika pengelolaan dan pemanfaatannya sepenuhnya di tangan negara bukan malah dijual kepada swasta lokal dan asing.

Islam pun memupuk keyakinan terhadap rezeki, yaitu pemberian yang telah ditetapkan dari Allah SWT, sehingga kecemasan karena kesulitan ekonomi tidak lalu memaksa perempuan bekerja untuk memastikan keamanan keuangan dan kesejahteraan keluarga, melainkan memahami bahwa laki-laki lah yang bertanggung jawab untuk menyediakan nafkah bagi keluarganya. Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 52 :

“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.”

Maka Pemberdayaan Ekonomi Perempuan bukanlah solusi atas problematika finansial perempuan, karena sangatlah klise berdayanya dan produktifnya perempuan dilihat dari seberapa banyak harta yang berhasil ia kumpulkan dengan bekerja.

Penerapan sistem kapitalisme lah yang mengakibatkan perempuan berkubang dalam kesulitan. Negara-negara gembong sistem ini terbukti telah gagal melepaskan perempuan dari kemiskinan dan kelaparan, gagal memberikan keamanan dan ketenteraman perempuan, dan gagal mewujudkan kehormatan perempuan. Kalau pun ada keberhasilan dari ide ini, hanyalah menghasilkan kemajuan semu dan justru membelit perempuan semakin kuat dalam persoalan.

Hanya Islam yang mampu memuliakan perempuan. Rasulullah SAW bersabda : “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita. “ (HR. Muslim : 3729).

Islam tidak hanya menjamin hak-hak perempuan, tetapi juga menjaga mereka dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Atas dasar inilah kemudian aturan ditetapkan oleh Allah SWT agar kaum perempuan dapat menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik umat generasi mendatang.

Sistem kapitalisme tidak akan pernah benar-benar menberdayakan perempuan secara hakiki. Ia memberi harapan palsu dengan kebahagiaan materi dan fisik sekelip mata, namun menggadaikan kebahagiaan sejati perempuan.

Bilakah sistem buruk ini dibuang ke dalam keranjang sampah peradaban dan diganti dengan sistem Islam yang diterapkan secara menyeluruh. Wallahu’alam.[]

Comment