Pendidikan Sekuler dan Menjamurnya Kasus Bullying 

Opini306 Views

 

Penulis: Siti Aminah |  Aktivis Muslimah Kota Malang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Satuan Reserse Kriminal Polres Tangerang Selatan, sebagaimana ditulis Detik.com (26/11/2025), mengusut kematian Muhammad Hisyam, siswa kelas VII SMPN 19 Tangerang Selatan, yang diduga menjadi korban bullying. Sepupunya, Rizky Fauzi, menjelaskan bahwa perundungan itu terjadi pada 20 Oktober 2025.

Pelaku memukul kepala Hisyam dengan bangku besi. Awalnya, Hisyam menutupi kejadian tersebut, namun sehari kemudian ia mengaku karena kondisinya semakin memburuk. Korban dirawat di High Care Unit (HCU) Rumah Sakit Fatmawati hingga akhirnya meninggal setelah seminggu perawatan.

Kapolres Tangsel, AKBP Victor Daniel Henry Inkiriwang, bahkan mengunjungi rumah duka di Kampung Maruga Ciater, Serpong, pada 16 November 2025.

Kepolisian Resor Lombok Tengah, sebagaimana ditulis Antara (4/8/2025), menangani kasus perundungan yang menewaskan seorang pelajar berusia 13 tahun di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Janapria, Lombok Tengah.

Peristiwa bermula dari saling ejek yang berujung penganiayaan. Pelaku menendang korban hingga kepala korban terbentur tembok dan meninggal dunia.

SMP Negeri 1 Geyer Grobogan, sebagaimana diberitakan media lokal (11/10/2025), juga menjadi lokasi perundungan yang berujung maut. Seorang siswa kelas VII bernama Angga Bagus Perwira meninggal dunia setelah diduga dibully teman sekelasnya. Polres Grobogan hingga kini masih menyelidiki kasus tersebut.

Polsek Denpasar Selatan, sebagaimana ditulis Tempo (19/11/2025), menyelidiki penyebab kematian mahasiswa Universitas Udayana, Timothy Anugerah Saputra, yang diduga melompat dari lantai empat Gedung FISIP Unud akibat perundungan. Polisi telah memeriksa 19 saksi terdiri dari rekan korban, pihak kampus, hingga petugas keamanan.

Rangkaian kasus di berbagai daerah ini menunjukkan bahwa bullying telah menjamur dan merenggut banyak nyawa. Ini bukan semata perilaku menyimpang individu, melainkan bukti adanya problem sistemik dalam pendidikan berbasis sekulerisme.

Kurikulum sekuler menjauhkan generasi dari ajaran agama sehingga mereka tumbuh tanpa kendali moral dan bertindak mengikuti hawa nafsu.

Pengaruh media sosial dan film kekerasan tanpa filter memperparah fenomena ini. Bullying bahkan dijadikan candaan. Hal ini menandakan terjadinya krisis adab dan hilangnya fungsi pendidikan. Konten kekerasan yang berseliweran menjadi rujukan bagi anak dan remaja untuk melampiaskan kemarahan atau dendam melalui tindakan berbahaya.

Sistem pendidikan sekuler–kapitalistik yang berorientasi pada materi terbukti gagal membentuk kepribadian. Dalam Islam, pendidikan bertujuan membentuk kepribadian Islam melalui pembinaan intensif yang mencakup pola pikir islami (al-‘aqliyyah al-islâmiyyah) dan pola sikap islami (an-nafsiyyah al-islâmiyyah). Pendidikan tidak hanya menekankan nilai akademik, tetapi juga nilai maknawi, adab, dan ruhiyah.

Sejak masa Rasulullah saw., pendidikan Islam mencetak generasi ulul albab yang unggul secara spiritual dan intelektual. Islam tidak menolak sains –  Rasulullah bahkan mendorong umat mempelajari teknologi, pengobatan, keterampilan menulis, serta olahraga seperti memanah, berenang, dan berkuda. Tujuannya untuk melahirkan generasi cerdas, beradab, dan berakhlak mulia.

Dalam Islam, keluarga, masyarakat, dan negara memiliki peran integral dalam pendidikan. Orang tua wajib mendidik anak dengan nilai syariat, masyarakat wajib menjalankan amar makruf nahi mungkar, dan negara wajib menyediakan sistem pendidikan Islam serta menerapkan sanksi yang adil.

Sejarah membuktikan bahwa sistem pendidikan Islam yang diterapkan secara menyeluruh melahirkan generasi emas yang memimpin peradaban dunia berabad-abad lamanya.

Pada akhirnya, hanya negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah (khilafah) yang mampu menjamin pendidikan, membina moral umat, dan melindungi generasi dari kezaliman sosial. Negara seperti inilah yang mampu menuntaskan akar masalah bullying hingga ke akarnya.[]

Comment