Penulis:  Sherly Agustina, M.Ag. | Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik

Opini29 Views

 

Penulis:  Sherly Agustina, M.Ag. | Penulis Buku dan Pemerhati Kebijakan Publik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Rasulullah saw. memberikan khutbah perpisahan di Arafah dengan panggilan yang menyentuh seluruh umat manusia: “Wahai umat, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan nenek moyang kalian juga satu. Tidak ada yang lebih unggul antara orang Arab dan non-Arab, atau sebaliknya, kecuali dalam hal ketakwaan…”

Umat Islam melaksanakan ibadah haji di bulan Dzulhijjah, serangkaian proses ibadah dilakukan dengan semangat dan khusyuk. Panggilan Allah kepada siapa saja hamba-Nya yang mampu menunaikan ibadah haji disambut dengan suka cita.

Mendengar gema takbir berkumandang, membuat hati bergetar hingga tak terasa air mata menetes. Ada rasa di lubuk hati yang paling dalam, rasa cinta dibalut ketaatan. Dengan berbisik lirih penuh harap, Rabb, panggil kami ke rumah-Mu, Baitullah. Kami rindu pada-Mu.

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Jemaah haji dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Mekkah Al-Mukarramah, melakukan semua proses yang telah ditentukan oleh syariat. Kemudian, pada tanggal 9 Dzulhijjah jemaah haji melakukan wukuf di Arafah.

Seluruh umat Islam di dunia berkumpul dengan khusyuk di bukit Arafah. Sementara umat Islam yang tidak menunaikan ibadah haji dianjurkan melakukan puasa Arafah. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw., “Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim).

Bagi umat Islam, hadits tersebut menjadi penyemangat dalam berpuasa Arafah. Ada yang memulai puasa sejak tanggal 1 Dzulhijjah, ada yang berpuasa tanggal 8 Dzulhijjah yang disebut puasa Tarwiyah dan 9 Dzulhijjah yaitu puasa Arafah, ada pula yang hanya puasa Arafah saja.

Adapun dalil bagi yang berpuasa sejak tanggal 1 Dzulhijjah yaitu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 459).

Intinya, umat Islam dianjurkan agar banyak berbuat amal salih baik itu zikir, puasa, berdakwah, tilawah, dan lainnya sejak awal bulan Dzulhijjah. Dalil mengenai hal ini yaitu:

“Tidak ada satu amal salih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal salih yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim).

Simbol Persatuan Umat Islam Dunia

Melihat umat Islam sedunia berkumpul di tempat yang sama, Mekkah Al-Mukarramah, lalu wukuf di bukit Arafah dan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa hal yang sangat mungkin umat Islam sedunia bisa berkumpul. Fakta ini pun menjawab keraguan tidak mungkin umat Islam seluruh dunia bisa bersatu. Bagaimana tidak mungkin? Jutaan Muslim dari berbagai negara, dengan ragam bahasa dan warna kulit, berkumpul di Masjidil Haram dengan tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah Swt.

Maka, ibadah haji harus dipahami sebagai sarana meleburnya kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka melebur menjadi satu tanpa lagi melihat suku bangsa, warna kulit, bahasa, serta status ekonomi, dan sosialnya.

Semua menghamba hanya pada Rabb Yang Satu, yaitu Allah Swt. Kiblat mereka sama, mengenakan pakaian ihram yang sama, melaksanakan ritual yang sama tanpa membedakan status sosial maupun nation state.

Ibadah haji, momentum bahwa Islam adalah agama persaudaraan yang menyatukan umat Muslim seluruh dunia di atas dasar tauhid. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah di antara sesama saudara kalian itu, dan takutlah kepada Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” (QS. al-Hujurat [49]: 10).

Ibadah haji seharusnya tidak berhenti pada dimensi ritual individual semata, melainkan melahirkan kesadaran kolektif umat Islam dalam aspek sosial, politik, dan peradaban.

Berkumpulnya jutaan umat Islam dari berbagai bangsa, bahasa dan mazhab dalam satu kiblat dan satu tujuan sebagai wujud penghambaan kepada Allah Swt.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah fondasi persatuan Muslim seluruh dunia yang melampaui batas etnis maupun nasionalisme sempit.

Dalam sejarah Islam, semangat persatuan ini pernah menjadi kekuatan besar yang melahirkan solidaritas politik dan peradaban dunia Islam.

Seorang pengusaha wanita dan sejarawan Carly Fiorina, CEO Hewlett-Packard Corporation di pertemuan seluruh manajer perusahaan di seluruh dunia, pada 26 September 2001, menyampaikan:

“Pernah ada suatu peradaban yang merupakan peradaban terbesar di dunia. Peradaban itu mampu menciptakan negara super-benua yang membentang dari laut ke laut dan dari iklim utara ke daerah tropis dan gurun. Di dalam dominasinya hidup ratusan juta orang, dari berbagai kepercayaan dan etnis.”

“Salah satu bahasanya menjadi bahasa universal sebagian besar dunia, jembatan antara rakyat di ratusan negeri. Pasukannya terdiri dari orang-orang dari banyak negara, dan perlindungan militernya memungkinkan tingkat kedamaian dan kemakmuran yang belum pernah diketahui sebelumnya. Jangkauan perdagangan peradaban ini meluas dari Amerika Latin ke Cina, dan di manapun di antara keduanya.”

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah menjadi kekuatan besar dunia ketika umat bersatu dalam visi dan kepemimpinan yang kuat di bawah kepemimpinan seorang khalifah.

Realitas Hari Ini

Sayangnya, realitas dunia Islam saat ini menunjukkan kondisi yang berlawanan. Persatuan umat melemah akibat konflik politik, nasionalisme, dan kepentingan geopolitik global.

Krisis kemanusiaan di Gaza Palestina menjadi salah satu contoh nyata lemah dan buruknya solidaritas politik dunia Islam. Bayangkan, ribuan warga sipil terbunuh, infrastruktur hancur, blokade berkepanjangan menimbulkan penderitaan kemanusiaan yang tak berkesudahan.

PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan internasional berkali-kali melaporkan tingginya korban sipil dan kerusakan fasilitas publik di Gaza akibat genosida yang berkepanjangan.

Kondisi ini memperlihatkan adanya jurang antara simbol persatuan umat dalam ibadah dengan realitas politik Dunia Islam yang masih terfragmentasi. Sungguh, kondisi umat Islam saat ini sangat memprihatinkan.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga memperlihatkan kompleksitas hubungan antarnegara Muslim. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat pada tahun 2026 ini sering dipengaruhi oleh kepentingan politik regional maupun global.

Dalam kondisi demikian, sebagian negara Arab memiliki posisi politik yang berbeda-beda berdasarkan aliansi keamanan dan kepentingan nasional masing-masing. Umat Islam dalam kondisi terpecah-belah bagai buih di lautan.

Oleh karena itu, ibadah haji seharusnya tidak hanya sekadar dipahami sebagai ritual spiritual tahunan, tetapi juga sebagai momentum pembuktian ketaatan dan persatuan umat Islam sedunia. Jutaan kaum Muslim yang berkumpul di Masjidil Haram menunjukkan bahwa Islam memiliki potensi persatuan global yang sangat besar.

Dengan jumlah populasi lebih dari dua miliar jiwa, umat Islam sesungguhnya merupakan salah satu kekuatan demografis terbesar di dunia serta memiliki potensi lainnya yaitu sumber daya alam dan manusia.

Jika potensi tersebut disatukan dalam satu kepemimpinan politik, maka umat Islam dapat menjadi kekuatan peradaban yang disegani dunia.

Semoga Allah Swt. senantiasa menolong dan meridai perjuangan umat Islam di seluruh dunia untuk menegakkan kembali kejayaan peradaban Islam di bawah satu naungan bendera islam dunia.

Allah Swt. berfirman dalam surah Ali Imran ayat 103, “Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai.” Allahua’lam Bishawab.[]

Comment