Perang Iran vs Amerika dan Israel: Momentum Persatuan Umat

Internasional407 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Konflik antara Iran dan Israel, dengan dukungan penuh Amerika Serikat, memunculkan berbagai reaksi dari dunia internasional, termasuk dari kalangan tokoh Muslim global.

Direktur Jamaica Muslim Center New York dan Presiden Nusantara Foundation,Dr. Shamsi Ali, Lc dalam pandangannya menilai konflik ini bukan sekadar perang biasa, melainkan momentum yang seharusnya menyadarkan dunia Islam akan pentingnya persatuan.

Ia mengaku sempat bersikap apatis terhadap perkembangan di Timur Tengah, terutama selama bulan Ramadan. Namun, sikap sebagian pemimpin dunia Islam yang dinilai mengecewakan justru memperkuat keprihatinannya.

“Saya sebenarnya malas, bahkan cenderung apatis melihat apa yang terjadi. Tapi sikap sebagian pemimpin dunia Islam justru membuat kita semakin prihatin,” ujar Shamsi Ali.

Dewan Perdamaian yang Dipertanyakan

Salah satu sorotan utama adalah pembentukan “Dewan Perdamaian” atau Board of Peace yang didukung sejumlah negara Muslim. Forum tersebut sempat digadang-gadang sebagai solusi konflik di Gaza dan Palestina.

Namun, menurut Shamsi, realitas di lapangan justru berbanding terbalik. Kekerasan terus berlangsung, bahkan meluas hingga berdampak pada penutupan Masjid Al-Aqsa selama Ramadan.

“Tidak saja BOP itu mulai mati suri, kekerasan juga terus berlangsung. Bahkan Masjid Al-Aqsa ditutup, sementara dunia Islam tak berdaya,” katanya.

Serangan ke Iran dan Kepentingan Geopolitik

Serangan Israel ke Iran, yang didukung Amerika Serikat, dinilai sebagai tindakan yang bertentangan dengan semangat perdamaian yang selama ini dikampanyekan.

Dalam serangan tersebut, sejumlah tokoh penting Iran dilaporkan menjadi korban, termasuk pemimpin tertinggi Ali Khamenei. Selain itu, korban sipil, termasuk anak-anak, turut berjatuhan.

Shamsi menilai alasan serangan terkait isu nuklir tidak memiliki dasar kuat.
“Tidak ada indikasi bahwa pengayaan uranium Iran bertujuan memproduksi senjata nuklir. Bahkan jika pun ada, tidak ada legitimasi hukum internasional untuk menyerang negara berdaulat tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB,” ujarnya.

Ia menambahkan, serangan tersebut lebih mencerminkan kepentingan geopolitik yang kompleks, mulai dari penguasaan sumber daya energi hingga upaya membendung pengaruh global negara lain.

Namun, menurutnya, tujuan utama yang paling nyata adalah ambisi ekspansi Israel.

Ambisi Israel Raya

Shamsi menilai konflik ini tidak bisa dilepaskan dari ambisi ideologis sebagian kalangan Zionis untuk mewujudkan “Israel Raya” dengan pusat di Yerusalem.

Dalam skenario tersebut, eksistensi Masjid Al-Aqsa dipandang sebagai penghalang.

“Ada agenda besar yang tidak banyak disadari, yaitu upaya sistematis menghilangkan eksistensi Masjid Al-Aqsa,” katanya.

Kritik terhadap Dunia Islam

Lebih jauh, Shamsi mengkritik keras ketergantungan dunia Islam terhadap pihak luar dalam menyelesaikan konflik Palestina.

“Kemerdekaan Palestina tidak akan pernah terwujud jika kita berharap pada kebaikan pihak lain, apalagi Amerika dan Israel,” tegasnya.

Ia menyebut sikap tersebut sebagai ilusi yang terus dipelihara, padahal fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Pelajaran dari Sejarah dan Realitas

Dalam pandangannya, kekuatan dunia Islam sebenarnya besar jika mampu bersatu. Ia mencontohkan bagaimana Arab Saudi di era Raja Faisal pernah mengguncang ekonomi global melalui kebijakan minyak.

Hari ini, langkah Iran yang mengancam jalur energi global dinilai memberikan dampak serupa terhadap posisi Amerika Serikat, termasuk terhadap dinamika politik dalam negeri yang dipimpin Donald Trump.

“Jika satu negara saja bisa mengguncang, apalagi jika dunia Islam bersatu,” ujarnya.

Shamsi juga menyinggung dinamika internal pemerintahan AS, termasuk peran Jared Kushner, yang disebut-sebut turut mempengaruhi kebijakan luar negeri terkait konflik tersebut.

Momentum Persatuan

Di tengah situasi yang semakin kompleks, Shamsi melihat adanya peluang besar bagi dunia Islam untuk bersatu.

Ia menilai narasi bahwa konflik ini merupakan perang terhadap Islam, baik Sunni maupun Syiah, seharusnya menjadi alarm bagi seluruh umat.

“Ini momentum. Jika umat Islam tidak juga bersatu, maka kita akan terus menjadi penonton dari tragedi yang menimpa saudara-saudara kita sendiri,” kata dia.

Namun, ia juga menyayangkan masih adanya sebagian pihak di dunia Islam yang justru terlibat dalam agenda yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan umat.

“Sedihnya, semua ini belum menyadarkan. Bahkan ada yang tanpa malu bergabung dengan agenda yang justru melemahkan posisi umat,” ujarnya.

Konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga ujian besar bagi solidaritas dunia Islam.

Di tengah ketidakpastian global, seruan untuk persatuan kembali mengemuka—sebuah pesan yang, menurut Shamsi Ali, tidak boleh lagi diabaikan.[]

Comment