Perdagangan Orang Tak Akan Berhenti Selama Kemiskinan Masih Terjadi

Opini1542 Views

 

 

 

Oleh: Devi Surianingsih, Aktivis Dakwah

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA— Seperti tak berkesudahan masalah yang muncul di negeri Indonesia tercinta ini, setiap harinya terjadi berbagai macam kasus seperti pembunuhan, penculikan bahkan hari ini yang kita dengar adalah kasus perdagangan manusia.

Masalah ini bukan untuk pertama kalinya terjadi, telah diketahui pada tahun 2000, PBB telah menetapkan aturan mengenai pelarangan perdagangan manusia melalui Protokol Palermo, yaitu peraturan untuk mencegah, menghapuskan, dan menghukum pelaku perdagangan manusia, khususnya perempuan dan anak.

Polisi Bandara Internasional Soekarno Hatta berhasil mengungkap sindikat perdagangan manusia melalui Pekerja Migran Indonesia atau PMI, modus yang dilakukan para pelaku yakni menjanjikan kepada calon korbannya pekerjaan di luar negeri dengan gaji yang menggiurkan.

Menurut liputan6.com (11/02/2023), ada tiga tersangka yang berhasil ditangkap. Mereka adalah RC alias UR(43) yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga asal Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Lalu BM alias O bin M (46) yang berprofesi sebagai wiraswasta, dia berperan memberangkatkan calon pekerja migran Indonesia yang berasal dari Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri mengungkap tindak pidana perdagangan orang (TPPO) bahkan melibatkan jaringan internasional Indonesia-Kamboja, dengan menangkap dua tersangka.

Direktur Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro di Jakarta, seperti ditulis antaranews.com, Jumat (10/02/2023) mengatakan bahwa pengungkapan ini berawal dari adanya laporan dari Kedubes RI untuk Kamboja di Phon Penh terkait tindak pidana perdagangan orang yang korbannya WNI.

Kemiskinan adalah faktor utama penyebab munculnya permasalahan ini. Seharusnya negara serius mengatasi persoalan kemiskinan yang menghantui kehidupan ekonomi rakyat.

Dalam sistem kapitalisme seperti saat ini, kemiskinan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya perdagangan manusia. Tekanan ekonomi yang yang terus mewarnai kehidupan masyarakat membuat setiap individu berlomba dalam menghasilkan uang tanpa memperdulikan moralitas dan agama.

Kapitalisme dapat membentuk hati manusia menjadi bengis dan kejam. Karena tuntutan gaya hidup dan hasrat keserakahan dunia, manusia pun dijadikan sebagai komoditas perdagangan.

Berbeda saat sistem Islam diterapkan secara sempurna.  Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz misalnya, kedudukan lembaga sosial diperkuat. Dengan itu, kemiskinan berhasil ditekan sekaligus menghadirkan kesejahteraan di tengah masyarakat. Asas keadilan di bidang ekonomi benar-benar ditegakkan. Masalah ini tidak luput dari perhatian para sarjana ekonomi muslim abad pertengahan.

Kontribusi pemikiran mereka sangat berpengaruh. Diskusi dan kajian ilmiah mengenai kemiskinan dan bagaimana mengatasinya berlangsung intens. Para sarjana, ilmuwan, cendekiawan, dan juga ulama mengaitkan persoalan ini dengan aspek sosial, politik, budaya, hingga keagamaan.

Sistem yang rusak saat ini seharusnya menjadi pelajaran. Banyak rakyat yang tidak memiliki pekerjaan dan seringkali hanya diangkat sebagai pekerja dengan gaji rendah tetapi kaum kapitalis pemilik usaha menguasai Sumber Daya Alam (SDA) negeri ini.

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Azza wa Jalla mengancam keras orang yang menjual manusia ini dengan ancaman permusuhan di hari kiamat. Imam Al-Bukhâri dan Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu :

عَنْ أَبيْ هُريْرَةَ رَضِيَ اللّه عنه عَنْ النَّبِيِّ صلىاللّه عليه وسلم قَاَلَ : قَالَ اللَّه : شَلاَشَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَومَ الْقِيَا مَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ وَرَجُلٌ بَاعَ حَُرًافَأَكَلَ ثَمَنَهُ وَرَجُلٌ اسْتَأ جَرَ أَ جِيرًا فَسْتَوْ فَىمِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: “ Tiga golongan yang Aku akan menjadi musuh mereka di hari kiamat; pertama: seorang yang bersumpah atas nama-Ku lalu ia tidak menepatinya, kedua: seseorang yang menjual manusia merdeka dan memakan hasil penjualannya, dan ketiga: seseorang yang menyewa tenaga seorang pekerja yang telah menyelesaikan pekerjaan itu akan tetapi dia tidak membayar upahnya.

Dari hadist di atas dapat disimpulkan bahwa Islam melarang perdagangan manusia dan kemiskinan bukan sebagai suatu alasan bertindak tidak manusiawi. Wallahu a’lam Bishawab.[]

Comment