Perempuan Urban dalam Naungan Islam (1)

Opini27 Views

 

Penulis: Vie Dihardjo | Alumni Hubungan Internasional UNEJ, Ketua Komunitas Ibu Hebat Bogor

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Fenomena kasus daycare serta kecelakaan kereta api yang melibatkan gerbong perempuan memperlihatkan satu benang merah tentang realitas perempuan urban hari ini. Mereka hidup di tengah ritme perkotaan yang serba cepat, tuntutan ekonomi yang tinggi, mobilitas padat, serta tekanan menjalankan banyak peran sekaligus.

Perempuan dituntut tetap produktif di dunia kerja, hadir sebagai ibu, menjaga rumah tangga, hingga aktif dalam kehidupan sosial. Dalam kondisi demikian, seolah perempuan tidak memiliki banyak pilihan.

Daycare hadir sebagai solusi sekaligus penopang agar ibu dapat tetap bekerja dengan rasa tenang karena anak dianggap berada di tangan yang aman dan profesional. Sementara itu, gerbong perempuan dipandang sebagai ruang aman di tengah kerasnya mobilitas kota.

Namun, ketika kecelakaan, kelalaian, hingga kekerasan justru terjadi pada fasilitas yang dianggap sebagai solusi tersebut, perempuan urban menjadi pihak yang paling rentan dan terdampak, baik secara fisik maupun emosional.

Mereka dihantui kecemasan meninggalkan anak, rasa takut terhadap keamanan transportasi publik, serta kelelahan akibat perjalanan panjang yang tetap harus diimbangi dengan produktivitas kerja.

Kehidupan urban pada akhirnya menempatkan perempuan pada beban ganda, yakni beban domestik sekaligus ekonomi.

Persoalan ini tidak bisa dipandang sekadar sebagai kasus individual. Dari peristiwa daycare hingga kecelakaan kereta yang menimpa gerbong perempuan, tampak adanya persoalan sistemik yang perlu segera diselesaikan.

Terjadi pergeseran pola asuh dari orang tua kepada industri jasa penitipan anak. Di sisi lain, ruang yang semestinya menjadi perlindungan bagi perempuan di area publik justru dapat berubah menjadi titik kerentanan baru bagi keselamatan mereka.

Karena itu, solusi seperti penutupan daycare, pemidanaan pelaku, maupun pemindahan gerbong perempuan belum cukup menyelesaikan akar persoalan.

Ada tiga hal besar yang harus dijawab secara menyeluruh, yakni keselamatan publik, perlindungan perempuan, dan arah prioritas pembangunan.

Cermin Retak Perempuan dalam Sekularisme

Dalam sistem yang berorientasi pada produktivitas ekonomi, perempuan kerap diposisikan sebagai tenaga kerja, target pasar, sekaligus penanggung jawab keluarga. Perempuan menjadi bagian dari mesin ekonomi yang terus dituntut bergerak.

Dalam kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, perempuan didorong untuk terus produktif, bekerja, membeli, dan bersaing. Mereka diberi ruang kebebasan dan fasilitas, tetapi makna keberhasilannya sering kali dibatasi pada kemampuan menghasilkan uang.

Faktanya, tidak sedikit perempuan justru mengalami tekanan ekonomi yang tak kunjung selesai.

Sebagaimana dirilis Katadata Insight Center (KIC) dalam survei terhadap 928 responden perempuan di Indonesia yang dipublikasikan pada 2024, sebanyak 60,3 persen perempuan mengalami emosi tidak stabil, 55 persen mengalami kecemasan berlebihan, 49,6 persen mengalami gangguan tidur, dan 42 persen mengalami kesulitan berkonsentrasi. Sebagian lainnya mengalami gangguan pola makan hingga ketergantungan pada media sosial maupun alkohol.

Data tersebut menunjukkan bahwa perempuan urban dalam sistem sekuler menghadapi tekanan yang berat, mulai dari kelelahan mental, kecemasan kronis, kehilangan waktu istirahat, hingga krisis makna hidup. Fenomena ini saling berkaitan dan membentuk lingkaran tekanan yang terus berulang.

Dalam sistem sekuler, kota mungkin tampak maju secara fisik, tetapi banyak perempuan justru hidup dalam kecemasan tinggi. Mereka cemas terhadap kondisi anak saat bekerja, keamanan di ruang publik, tuntutan menjadi perempuan ideal, hingga tekanan ekonomi yang terus meningkat.

Karena itu, dibutuhkan solusi yang bersifat sistemik, bukan sekadar solusi teknis seperti menutup daycare atau memindahkan gerbong kereta perempuan.

Perempuan dalam Naungan Islam

Islam memandang perempuan sebagai manusia mulia yang memiliki kehormatan, hak, dan perlindungan. Perempuan bukan sekadar pelengkap kehidupan ataupun alat produksi ekonomi, melainkan bagian penting dalam membangun peradaban.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Islam tidak melarang perempuan bekerja. Namun, Islam tidak menjadikan perempuan sebagai tulang punggung utama keluarga. Tanggung jawab nafkah tetap diwajibkan kepada laki-laki sebagai kepala keluarga.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 34: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita… dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”

Hal senada juga ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 233: “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.”

Dalam naungan Islam, perempuan tidak hidup dalam ketakutan, baik di ranah privat maupun publik. Keamanan jalan, kenyamanan ruang publik, serta perlindungan dari pelecehan dan kekerasan menjadi tanggung jawab negara.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kemuliaan perempuan dalam Islam juga tidak diukur dari besarnya kontribusi ekonomi yang dihasilkannya. Kemuliaan itu dapat diraih melalui peran besarnya dalam membangun generasi dan menjaga peradaban.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.”

Dari tangan para ibu lahir generasi besar yang memberi manfaat bagi umat manusia, seperti Muhammad Al-Fatih, Shalahuddin Al-Ayyubi, Imam Syafi’i, Thariq bin Ziyad, hingga Mush’ab bin Umair.

Islam tidak memaksa perempuan menjadi “super woman” dalam ukuran materialistik dengan memikul seluruh beban kehidupan sekaligus. Sebaliknya, Islam menjaga, menghormati, dan menempatkan perempuan sesuai fitrahnya sebagai manusia yang mulia. Wallahu a’lam bishshawab. (Bersambung). []

Comment