Rally Anti-Islam di Detroit dan Ujian Konstitusi Amerika

Opini26 Views

 

Penulis: Dr. Shamsi Ali, Lc, M.A | Direktur Jamaica Muslim Center New York, Presiden Nusantara Foundation

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Akhir-akhir ini demonstrasi yang membawa narasi anti-Islam dan anti-syariah kembali muncul di sejumlah kota di Amerika Serikat. Pesertanya relatif sedikit, tetapi sebagian aksi tersebut diklaim membawa suara masyarakat Kristen Amerika secara lebih luas.

Salah satu nama yang disebut berada di balik aksi tersebut adalah Jack Lang. Ia diketahui pernah terlibat dalam kerusuhan di Capitol Hill pada 6 Januari 2021 dan sempat menjalani hukuman sebelum memperoleh pengampunan dari Presiden Donald Trump.

Lang kemudian kembali muncul dalam sejumlah aksi yang menyasar komunitas Muslim. Aksi serupa antara lain disebut berlangsung di Texas, Philadelphia, New York, Minnesota, Detroit, dan Los Angeles.

Di Detroit, aksi anti-Islam tersebut mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Sejumlah tokoh agama bahkan memilih bersatu untuk menyampaikan pesan bahwa perbedaan agama tidak semestinya menjadi alasan untuk memecah kehidupan sosial masyarakat Amerika.

Bagi saya, persoalannya bukan semata-mata tentang demonstrasi atau perbedaan pandangan. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana kebebasan berbicara dan berekspresi ditempatkan dalam kerangka konstitusi.

Ketika Kebebasan Berbicara Dipakai untuk Mengintimidasi

Sebagai seorang Muslim yang hidup di Amerika, saya sangat menghargai kebebasan berbicara dan berekspresi. Kebebasan tersebut merupakan salah satu nilai penting dalam kehidupan demokrasi Amerika.

Namun kebebasan tidak semestinya dipahami sebagai hak tanpa batas untuk mengganggu, mengintimidasi, atau menghalangi hak warga negara lain menjalankan keyakinannya.

Karena itu, penggunaan dalih kebebasan berbicara untuk melakukan provokasi terhadap komunitas agama tertentu patut dipertanyakan. Kebebasan seharusnya menjadi instrumen untuk menjaga ruang dialog, bukan menjadi alasan untuk menebarkan kebencian dan permusuhan.

Dalam konteks inilah aksi anti-Islam perlu dilihat secara lebih kritis. Apalagi jika demonstrasi tersebut dilakukan berulang kali dengan sasaran komunitas Muslim tertentu.

Rasisme dan Islamofobia

Jika melihat pola aksi dan narasi yang dibawa kelompok anti-Islam tersebut, saya melihat adanya dua persoalan yang saling berkaitan: rasisme dan Islamofobia.

Rasisme bukan persoalan baru dalam sejarah Amerika. Kelompok minoritas, terutama warga kulit hitam, Hispanik, dan kelompok imigran, telah lama menghadapi berbagai bentuk diskriminasi.

Komunitas Muslim juga tidak sepenuhnya terbebas dari persoalan tersebut. Dalam pandangan kelompok tertentu, Islam masih kerap ditempatkan sebagai agama asing yang identik dengan imigran, Arab, Asia Selatan, atau Afrika.

Padahal kenyataannya, Muslim Amerika merupakan bagian dari masyarakat Amerika yang sangat beragam. Mereka berasal dari berbagai latar belakang etnis, budaya, pendidikan, dan sosial.

Karena itu, mengidentifikasi Islam sebagai sesuatu yang asing bagi Amerika adalah pandangan yang tidak sesuai dengan kenyataan masyarakat Amerika hari ini.

Islamofobia juga tumbuh dari ketakutan yang tidak proporsional terhadap perkembangan komunitas Muslim. Ada kekhawatiran bahwa meningkatnya jumlah Muslim, termasuk keterlibatan mereka dalam politik dan pemerintahan lokal, akan mengubah wajah Amerika.

Detroit menjadi salah satu contoh menarik. Keterlibatan warga Muslim dalam kehidupan politik, pemerintahan, dan masyarakat sipil menunjukkan bahwa Muslim bukan lagi sekadar kelompok yang berada di pinggir kehidupan Amerika.

Bagi sebagian kelompok, perkembangan tersebut mungkin dianggap sebagai ancaman. Namun dalam perspektif demokrasi, keterlibatan warga negara dalam pemerintahan justru merupakan bagian dari proses demokrasi itu sendiri.

Jangan Biarkan Agama Dipertentangkan

Yang lebih mengkhawatirkan adalah apabila aksi-aksi semacam ini diarahkan untuk memperhadapkan umat Kristen dan Muslim.

Kristen dan Islam merupakan dua komunitas agama besar dunia. Keduanya memiliki jumlah pengikut yang sangat besar dan sama-sama memiliki komunitas yang hidup di Amerika.

Kedua komunitas tersebut seharusnya dapat bekerja sama dalam menghadapi persoalan kemanusiaan, kemiskinan, ketidakadilan, pendidikan, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Karena itu, setiap upaya yang sengaja membangun permusuhan antara umat Kristen dan Muslim justru berpotensi merugikan keduanya.

Saya tidak ingin berspekulasi mengenai siapa yang berada di balik aksi-aksi tersebut atau dari mana sumber pendanaannya tanpa bukti yang dapat diverifikasi. Namun satu hal yang jelas, narasi yang mempertentangkan Islam dan Kristen hanya akan memperlebar jarak antarkomunitas.

Pada akhirnya, yang menjadi korban bukan hanya umat Islam. Umat Kristen pun dapat menjadi korban apabila agama mereka digunakan sebagai legitimasi untuk melakukan permusuhan terhadap kelompok lain.

Patriotisme atau Pengkhianatan terhadap Konstitusi?

Hal yang lebih serius adalah ketika kebencian terhadap kelompok tertentu dibungkus dengan slogan patriotisme.

Amerika Serikat selama ini dikenal—setidaknya dalam narasi yang dibangun negaranya sendiri—sebagai salah satu negara yang menjunjung demokrasi, kebebasan beragama, dan kebebasan berekspresi.

Konstitusi Amerika juga memberikan perlindungan penting terhadap kebebasan beragama. Nilai tersebut merupakan salah satu alasan mengapa saya sendiri selalu memberikan apresiasi terhadap kehidupan keagamaan di Amerika.

Tetapi sebuah konstitusi tidak cukup hanya dipuji. Ia harus diwujudkan dalam perilaku warga negara dan institusi negara.

Ketika seseorang mengatasnamakan patriotisme untuk mengintimidasi warga negara lain karena agama atau identitasnya, pertanyaan yang patut diajukan adalah: patriotisme seperti apa yang sedang diperjuangkan?

Membela Amerika tidak berarti memusuhi sesama warga Amerika.

Mencintai Amerika tidak berarti merendahkan agama lain.

Dan memperjuangkan kebebasan tidak berarti merampas kebebasan orang lain.

Karena itu, kelompok yang menggunakan patriotisme untuk menyebarkan kebencian justru berpotensi merusak nilai yang mereka klaim sedang dibela.

Islam Tidak Akan Terintimidasi

Bagi komunitas Muslim, aksi-aksi semacam itu tidak seharusnya membuat kita takut ataupun mundur.

Sebaliknya, situasi tersebut harus menjadi pengingat bahwa umat Islam perlu terus berkontribusi secara positif bagi masyarakat Amerika.

Kita harus menunjukkan bahwa menjadi Muslim dan menjadi warga Amerika bukanlah dua hal yang bertentangan.

Muslim dapat menjadi dokter, guru, pengusaha, pejabat publik, akademisi, polisi, aktivis sosial, maupun profesional di berbagai bidang. Mereka dapat menjalankan keyakinan agamanya sekaligus memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa Amerika.

Karena itu, respons terbaik terhadap Islamofobia bukanlah kemarahan yang melahirkan kekerasan. Respons terbaik adalah memperkuat pendidikan, dialog, kerja sama lintas agama, serta kontribusi nyata kepada masyarakat.

Amerika adalah rumah bersama. Tidak ada satu kelompok pun yang berhak mengklaim negara ini hanya milik mereka.

Dan Islam tidak akan berhenti hanya karena ada kelompok yang berusaha menghambatnya. Selama umat Islam terus memberikan kontribusi positif, menjaga kedamaian, dan memperjuangkan keadilan, Islam akan tetap menjadi bagian dari perjalanan Amerika.[]

Comment