Penulis: Diana Nofalia, S.P. | Pendidik dan Pemerhati Masalah Remaja
RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA — Mencintai adalah fitrah manusia yang akan mendatangkan rasa tenang jika dilandasi dengan akal yang sehat dan iman yang kuat. Tapi jika cinta dibingkai dengan hawa nafsu, maka cinta akan liar dan buas dan bahkan membinasakan.
Seorang mahasiswi menjadi korban pembacokan di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Kamis pagi, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB. Korban dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka berat di bagian kepala.
Peristiwa penganiayaan tersebut menurut laman metrotvnews.com terjadi di Lantai 2 Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Jalan Soebrantas, Kota Pekanbaru. Seorang mahasiswi Faradilla Ayu dibacok mahasiswa berinisial RM. Aksi brutal ini berlangsung saat korban akan mengikuti seminar proposal.
Pelaku, Reyhan Mufazar (22), diketahui menyimpan perasaan terhadap korban sejak keduanya mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam satu kelompok yang sama.
Laman kumparan melaporkan bahwa otif diduga terkait persoalan pribadi setelah penolakan cinta saat keduanya mengikuti KKN. Inilah pemicu pelaku akhirnya melakukan aksi penyerangan di kampus.
Kekerasan, pembunuhan, pergaulan bebas yang kerap terjadi di kalangan pemuda saat ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan dalam membentuk generasi berkepribadian mulia. Sistem pendidikan Sekularisme-Kapitalisme membentuk standar kebebasan di luar batas.
Perilaku bertindak semaunya tanpa mempertimbangkan dampaknya sudah menjadi karakter yang melekat dalam diri mereka. Tentunya hal ini tidak terjadi dengan sendirinya.
Hal ini adalah dampak dari normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya pergaulan bebas seperti pacaran, perselingkuhan, dan lain-lain di tengah keluarga dan masyarakat. Dari sinilah munculnya perilaku-perilaku yang bertentangan dengan norma agama bahkan berujung pada pembunuhan.
Di samping itu negara dengan sistem kapitalis sekuler dinilai kurang memprioritaskan pembinaan generasi, sehingga generasi sering dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi.
Mental dan kepribadian mereka bukan menjadi persolan penting, akhirnya berbagai persolan generasi saat ini semakin hari semakin kompleks, tanpa ada upaya yang serius dalam penanganannya. Terbukti kasus-kasus kekerasan semakin merajalela di kalangan generasi saat ini.
Berbeda dengan sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan Islam dibangun di atas dasar akidah, dengan tujuan membentuk kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap sesuai dengan nilai syariat). Akidah sebagai pondasi perilaku dibentuk sedini mungkin sebelum usia baligh.
Mereka dipahamkan bahwa sebagai makhluk ciptaan Allah Swt kelak akan dimintai pertanggungjawaban di kemudian hari. Maka dari itu, setiap tindak tanduknya di dunia ini harus sesuai dengan aturan pencipta-Nya.
Generasi dididik untuk memiliki kesadaran untuk taat pada syariat. Mereka dipahamkan standar dalam berperilaku apakah halal ataukah haram. Selain itu juga dipahamkan akan makna tanggung jawab dan ketakwaan, bukan hanya fokus pada capaian akademik atau keterampilan.
Tak hanya membentuk akidah yang kokoh, lingkungan masyarakat juga menjadi support sistem bagi generasi. Adanya budaya saling mengingatkan dalam kebaikan dan menentang kemaksiatan, sehingga tercipta suasana yang mendukung dalam ketaatan dan menjauhkan generasi dari perilaku menyimpang.
Tak kalah penting dari pembinaan akidah dan lingkungan masyarakat yang mendukung adalah negara dengan sistem pemerintahan Islam yang berperan penuh dalam menjaga akidah dan perilaku generasi.
Hal ini dilakukan dengan menerapkan aturan dan sanksi yang tegas tanpa pandang bulu sesuai dengan hukum Islam, untuk memberi efek jera demi menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat. Wallahu a’lam.[]














Comment