Persatuan Umat Islam untuk Palestina Hingga Rohingya

Opini55 Views

 

Penulis: Azizah Nur Fikriyyah | Mahasantriwati Kampus Dai Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Sudah lebih dari 100 hari kekejaman zionis yahudi belum berakhir. 100 hari atau hari ke-100 genosida di Gaza, Palestina, Minggu (14/1/2024), sejak balasan Israel atas serangan Hamas 7 Oktober 2023, tercatat sudah sebanyak 23.843 orang warga Palestina yang tewas dan lebih dari 60.317 luka-luka.(tribunpriangan.com).

Kekejaman zionis belum berakhir, bahkan menunjukkan peningkatan intensitas tindak kekerasan. Kaum muslim Palestina jelas membutuhkan bantuan, khususnya tentara muslim yang akan membantu perjuangannya.

Agresi Israel yang masih berlangsung di Gaza sejauh ini telah menewaskan 106 wartawan dan pekerja media. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengonfirmasi penyelidikan atas dugaan kejahatan terhadap jurnalis saat agresi Israel berlangsung di Jalur Gaza yang terkepung. Investigasi itu dilakukan menyusul adanya aduan dari Organisasi internasional Wartawan Tanpa Batas (Reporters sans frontieres/RSF).(republika.co.id)

Warga sipil terus berlarian tak tahu arah, mencari tempat aman lantaran berulang kali diperintahkan untuk evakuasi. Dari utara ke selatan, hingga ke ujung selatan lagi, mereka harus terus berpindah demi menyelamatkan nyawa di dalam “penjara terbuka”. (cnnindonesia.com)

Palestina membutuhkan tentara kaum muslimin untuk melenyapkan Entitas Penjajah. Sayangnya negeri muslim tidak banyak yang membantu untuk melenyapkan penjajah. Dan yang dapat membantu pun mengalami keterbatasan akibat adanya hukum-hukum internasional dan sekat nasionalisme yang menghalangi satu negara masuk negara lain.

Palestina membutuhkan adanya pergerakan dunia Islam untuk membangkitkan umat, yang mampu mewujudkan bantuan nyata dari negeri-negeri muslim berupa pengiriman tentara. Solusi tuntas pendudukan Palestina hanya akan tuntas dengan keberadaan persatuan umat Islam dalam satu kepemimpinan.

Kepemimpinan Islam tersebut akan membebaskan Palestina dengan segenap kemampuan karena menjadi kewajibannya sebagai pelindung kaum muslim secara keseluruhan. Maka umat harus berjuang bersama untuk menegakkan persatuan umat Islam dalam satu kepemimpinan tersebut.

Dalam sebuah riwayat dari jalur Salim bin Abdullah bin Umar dari Abdullah bin ‘Umar ra. dengan lafaz,

ُقَاتِلُكُمُ الْيَهُودُ فَتُسَلَّطُونَ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقُولُ الْحَجَرُ يَا مُسْلِمُ هَذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَاقْتُلْهُ

“Kaum Yahudi nanti akan memerangi kalian. Akan tetapi, kalian (diberi kekuatan) menguasai (mengalahkan) mereka, kemudian (sampai) batu pun berkata, ‘Wahai muslim, ada orang Yahudi di belakangku, bunuhlah dia.’”(HR Tirmidzi No. 2236).

Dalam hadits tersebut, tidak ada teks langsung terkait dengan palestina secara khusus namun bersifat umum bisa terjadi di palestina atau tempat lain serta tidak dijelaskan tentang kapan terjadinya. Namun Rasulullah saw. hanya menyampaikan apa yang menjadi tanda-tanda akhir zaman. Maka, kehancuran Yahudi pasti terjadi sebelum hari kiamat.

Makna dari kandungan hadits tersebut mengabarkan bahwa akan ada peperangan besar antara kaum muslim dengan Yahudi, yang menunjukkan bahwa kiamat telah dekat. Karena dengan tanda tersebut Allah swt. hendak menguji hamba-hamba-Nya. Bahwa pertarungan hak dan batil akan terus menerus ada hingga kiamat kubra kelak. Dan permusuhan mereka terhadap Islam dan kaum muslim. Allah Swt. gambarkan dalam firman-Nya,

۞ لَتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ اَشْرَكُوْاۚ

“Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS Al-Maidah [5]: 82).

Saat ini sungguh miris dan menyedihkan ketika Yahudi mempu melakukan genosida dan pembantaian terhadap muslim di palestina sedangkan negeri-negeri kaum muslim sekitarnya memiliki kekuatan yang lebih besar daripada Yahudi Israel itu sendiri. Dan ini disebabkan oleh sekat-sekat akibat nasionalisme yang membatasi kaum muslim untuk saling membela dalam satu tubuh.

Betapa pilunya nasib kaum muslim di berbagai belahan dunia. Ada yang terkurung dalam perang, ada yang terusir tanpa kewarganegaraan, ada yang tersiksa di bawah tangan penguasa tiran, ada pula yang tenggelam dalam kehidupan sekuler liberal yang jauh dari aturan Islam.

Kondisi ini mengingatkan kita pada sabda Nabi saw. tentang kaum muslim, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. Maka seseorang bertanya, ‘Apakah karena sedikitnya jumlah kita?’ Bahkan kalian banyak, tetapi kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menimpakan dalam hati kalian penyakit al-wahn. Seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah al-wahn itu?’ Nabi saw. bersabda, ‘Cinta dunia dan takut akan kematian.’” (HR Abu Dawud No. 4297).

Sudah selayaknya kapasitas para penguasa negeri-negeri muslim adalah dengan memobilisasi pasukan militer mereka ke Palestina. Umat Islam sesungguhnya mampu melakukan ini, cukup dengan menghadirkan keberanian dan hati nurani terhadap saudara seakidah.

Palestina adalah kiblat pertama umat Islam. Palestina juga merupakan tempat Rasulullah melakukan Isra Mikraj. Di sisi lain, tanah Palestina adalah tanah yang ditaklukkan pasukan kaum muslim pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Jadi, sangat beralasan bagi kaum muslim untuk membebaskan Palestina.

Langkah-langkah taktis ini harus tetap diiringi dengan kesadaran untuk bersatu hingga kaum muslim mampu tampil di pentas politik internasional secara mandiri tanpa intervensi pemikiran Barat.

Di sinilah urgensi upaya-upaya strategis untuk mengembalikan institusi pemersatu umat Islam, yakni sebuah negara yang menerapkan sistem aturan Islam secara menyeluruh. Institusi inilah yang akan menjadi pelindung mereka dari berbagai bentuk penjajahan kaum kuffar, kini dan nanti.

Di tengah kepedihan melihat pembantaian kaum muslim Palestina, umat Islam di negeri ini sedang diuji dengan urusan kaum muslim Rohingya. Gelombang demi gelombang para penyintas genosida Rohingya datang mengais pertolongan. Mereka sangat berharap, saudaranya seiman di Indonesia mau mengulurkan tangan untuk mengangkat mereka dari penderitaan.

Namun apa daya, harapan mereka nyaris pupus. Sebulan terakhir, gelombang penolakan akan kedatangan pengungsi Rohingya makin meluas di Aceh, Riau, dan Medan.

Penduduk di wilayah-wilayah tersebut berusaha mendorong perahu-perahu yang datang untuk kembali ke laut lepas. Alhasil banyak perahu-perahu reyot berisi ratusan pengungsi Rohingya itu tertahan di bibir-bibir pantai atau kembali terkatung-katung di lautan.

Nasib muslim Rohingya memang sangat menyedihkan. Mereka sudah berabad-abad tinggal di Myanmar, terutama di Rakhine, Arakan. Tanah tersebut secara de facto merupakan milik mereka. Hanya saja, pergolakan politik yang panjang atas dasar isu agama, serta makar imperialis kolonial yang diwariskan dari masa ke masa, membuat muslim Rohingya menjadi terjajah di tanahnya sendiri.

Bagaimanapun keadaannya, kita tidak bisa menolak fakta bahwa kaum muslim Rohingya sedang benar-benar menderita. Tidak berbeda dengan yang terjadi pada warga Palestina, apa yang terjadi pada muslim Rohingya benar-benar menjadi batu uji bagi iman umat Islam di dunia, termasuk Indonesia.

Sayang, pemerintah negeri-negeri muslim tampak gamang dalam menyelesaikan masalah Rohingya, sebagaimana mereka gamang untuk solusi problem Palestina.

Mereka sudah terjebak dalam narasi penjajah soal konsep negara bangsa, konsep “kedaulatan negara” dan konsep non intervensi yang mengeliminir sisi kemanusiaan, bahkan spirit keagamaan. Padahal dalam ajaran Islam, menolong sesama, apalagi saudara seakidah dengan maksimal adalah tuntutan keimanan sekaligus wujud ukhuwah islamiah.

Pada akhirnya, kita memang tidak bisa berharap pada negara-negara adidaya, atau lembaga-lembaga internasional, semisal PBB, UNHCR, maupun lembaga-lembaga lain yang ada di semua levelnya.

Ini karena prinsip-prinsip yang ada pada mereka, termasuk narasi soal HAM dan konsep negara bangsa terbukti hanyalah alat untuk melanggengkan hegemoni kapitalisme global. Mereka tidak tertarik berserius untuk menyelesaikan sehingga persoalan ini akan tetap menjadi PR umat Islam. Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Comment