by

Preservasi Dan Pelebaran Jalan Mantingan Hingga Ponorogo Diduga Sarat Penyimpangan

Ilustrasi.[realita]
RADARINDONESIANEWS.COM, NGAWI – Kontraktor sebagai pelaku jasa konstruksi untuk melaksanakan pekerjaan lapangan yang sesuai dengan spesifikasi teknis dalam memenuhi keinginan pemberi kerja tentu bukan hal yang mudah. Di samping harus mengerjakan pekerjaan sesuai dokumen kontrak akan tetapi di sisi lain hal-hal non teknis yang dihadapi, harus mengarah ke pekerjaan yang sedikit melenceng dari dokumen kontrak. Hal yang demikian sering kita jumpai hampir di setiap paket pekerjaan yang menggunakan Anggaran Negara baik APBD maupun APBN.

Seperti Pelaksanaan Preservasi dan Pelebaran Jalan Mantingan – Ngawi – Maospati – Madiun – Caruban – Ponorogo yang di duga tidak dikerjakan sesuai sepesifikasi teknis dan gambar rencana. Pemenang PT. NUSANTARA MAKMUR SADHANA dengan Harga penawaran Rp 44.361.610.000,00 dari HPS Rp 56.870.540.000,00.

Di dalam syarat-syarat khusus kontrak di sebutkan, ketentuan indikator kinerja jalan dan batas waktu tanggap penanganan, sesuai Surat Edaran Dirjen Bina Marga Nomor:08/SE/Db/2015 Tanggal:28 Agustus 2015, aturannya sudah sangat jelas akan tetapi aturan tinggal aturan penanganan jalan berlubang, bergelombang/ keriting, retak buaya, retak garis atau yang lain jalan, bisa berbulan-bulan baru ditangani Padahal dengan berlakunya kontrak berbasis long segment, diharapkan menciptakan ruas jalan yang sesuai dengan yang diharapkan.

Jalan Mantingan – Ngawi – Maospati – Madiun – Caruban – Ponorogo, yang masuk katagori jalan sedang. Melihat kondisi jalan di beberapa titik sepanjang ruas tersebut tampak jalan berlubang, bergelombang/keriting, retak buaya, retak garis dibiarkan, bahkan ada tanda putih di titik-titik lubang sudah hampir tiga minggu belum juga dikerjakan, padahal dalam penanganan jalan katagori sedang, tidak boleh ada lubang dengan diameter 10 cm dan kedalaman lebih dari 4cm Retakan lebih besar 10%. Setiap 100 m dan amblas lebih dari 3 cm dengan luasan permukaan yang amblas lebih besar 5% setiap 100 meter jalur jalan. Kerusakan-kerusakan jalan tersebut Harus selesai diperbaiki dalam waktu maksimum 7 (tujuh) hari.

Begitu juga dengan bahu jalan, tampak tidak rata dan berlubang, rambu peringatan dan rambu petunjuk, tumbuh-tumbuhan di beberapa titik tidak dirapikan atau dipotong sesuai ketentuan. Tumbuh-tumbuhan yang diijinkan mempunyai tinggi minimal 2,5 cm dan maksimum 10 cm pada lokasi median jalan dan masih banyak item yang belum disentuh oleh kontraktor pelaksana.

Sementara itu baik Gatot PPK ruas jalan Mantingan – Ngawi – Maospati – Madiun – Caruban – Ponorogo ataupun Sodli Satker PJN Wilayah II Surabaya, telah dikonfirmasi terkait paket pekerjaan tersebut tidak pernah merespon. (Shohib)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 3 =

Rekomendasi Berita