Presiden Kolombia: Saya tidak Menghormati Netanyahu dan Siap Kirim Pasukan

Internasional426 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  -— Seperti dilaporkan Reuters, Presiden Kolombia Gustavo Petro kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang ia tuding bertanggung jawab atas kematian ribuan warga sipil di Gaza.

“Saya tidak menghormati Netanyahu, yang membunuh anak-anak,” ujar Petro dalam sebuah forum terbuka di Bogotá, seperti diberitakan AP, Sabtu (5/10/2025).

Dalam pernyataannya, Petro menegaskan penolakannya terhadap agresi Israel di Jalur Gaza dan menyebut tindakan Netanyahu sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan.” Ia bahkan menyinggung Amerika Serikat yang terus memberikan dukungan militer kepada Israel.

“Peteo berkata kepada Trump, jika Anda mengirim pasukan Anda ke sana, saya akan mengirim pasukan Kolombia, dan kita akan bertempur,” lanjut Petro dengan nada tegas.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pidato panjang Petro tentang posisi Kolombia dalam isu kemanusiaan global, terutama menyangkut Palestina.

Presiden AS Donald Trump yang menjadi sasaran sindiran Petro. Dalam lingkup lebih luas, kebijakan luar negeri Kolombia kini menjadi sorotan Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Israel.

Pernyataan Petro disampaikan di Bogotá pada awal Oktober 2025, beberapa hari setelah ia menghadiri sidang Majelis Umum PBB di New York. Saat itu, Petro juga bergabung dengan aksi pro-Palestina yang menuntut gencatan senjata di Gaza.

Seperti diberitakan El País, Petro menganggap serangan Israel ke Gaza telah menewaskan banyak warga sipil dan anak-anak, serta melanggar prinsip dasar kemanusiaan. Ia juga menuduh Amerika Serikat bersikap “hipokrit” karena membiarkan pembunuhan massal terjadi di bawah dalih pertahanan diri.

Bagi Petro, sikap ini bukan sekadar politik, melainkan bentuk solidaritas moral dan ideologis. Ia dikenal sebagai pemimpin sayap kiri Amerika Latin yang sering menyuarakan kritik terhadap hegemoni AS dan kebijakan luar negeri Barat.

Pernyataan Petro memicu reaksi beragam. Pemerintah Israel mengecam keras ucapan itu dan menilai Petro “menghasut permusuhan terhadap negara Yahudi.” Amerika Serikat, melalui Departemen Luar Negeri, disebut Anadolu Agency telah mencabut visa diplomatik Petro pasca-pidatonya di New York.

Sementara itu, kelompok pro-Palestina di berbagai negara memuji keberanian Petro sebagai pemimpin dunia yang menentang “impunitas Israel”. Di dalam negeri Kolombia sendiri, dukungan dan kritik terhadap Petro mengalir deras.

Partai oposisi menuduhnya “menyeret Kolombia ke konflik global,” sedangkan kelompok progresif menilai ia menunjukkan keberpihakan pada nilai kemanusiaan.

Seperti dilaporkan Reuters, hubungan diplomatik antara Bogotá dan Tel Aviv kini berada pada titik terendah. Sebelumnya, Petro telah mengusir delegasi diplomatik Israel dari Bogotá pada 1 Oktober 2025 sebagai bentuk protes atas serangan di Gaza.

Langkah itu menandai memburuknya hubungan dua negara yang selama ini cukup erat di bidang pertahanan dan teknologi.

Analis politik menilai, sikap Petro ini dapat memperlemah posisi Kolombia dalam kerja sama keamanan regional dengan AS, namun di sisi lain memperkuat citra Petro sebagai pemimpin Latin yang berani menentang ketidakadilan global.

Pernyataan Gustavo Petro memperlihatkan pergeseran tajam dalam politik luar negeri Kolombia yang kini lebih berorientasi pada isu kemanusiaan ketimbang kepentingan strategis Barat. Namun, keberanian ini juga membawa risiko diplomatik yang besar di tengah kompleksitas geopolitik dunia.[]

Berita Terkait

Baca Juga

Comment