by

Pristria Dini Aranti ST*: Telaah Film My Flag Dan Dampak Di Masyarakat

-Opini-67 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Marah, dan sakit hati ini adalah respon awal yang saya rasakan ketika melihat film My Flag, Merah Putih VS Radikalisme. Film pendek yang di unggah oleh NU Channel di YouTube pada Jumat 23 Oktober 2020 dalam rangka memperingati hari santri.

Bagaimana tidak, selain narasi yang dapat mengarah kepada adu domba sesama muslim, juga terdapat adegan duel antara dua wanita berjilbab vs wanita bercadar yang dimenangkan wanita berjilbab.

Pertarungan yang tidak mungkin terjadi dalam konteks islam ini tampak dipaksakan dengan menampilkan adegan di mana pemenang membuka paksa cadar wanita yang kalah dalam duel tersebut. Seakan ada misi dan framing yang sangat tendensius terhadap cadar.

Tak ayal kolom komentar film kontoversi tersebut dipenuhi dengan kritikan dan kecaman dari netizen bahkan kalangan warga NU sendiri, dalam akun Lux five menyesalkan adegan tersebut.

“Saya NU, tolong adegan tarung sesama muslim apalagi tarung antara wanita dan mencabut cadar itu dihilangkan karena terlihat merupakan bentuk pelecehan karena melucuti pakaian yang menutupi bagian tubuh wanita yang diyakini sesuai dengan Ajaran Islam seperti yang diyakini Imam Syafi’i yang menafsirkan aurat seorang wanita adalah seluruh tubuh termasuk wajahnya. Itu harus dihormati”.(r.moljatim.com)

Belakangan jumlah like dan dislike film pendek ini disembunyikan tak ditampilkan lagi oleh pengelola akun NU Channel.

Film ini menjadi contoh sebuah propaganda permusuhan yang tidak memiliki sikap ramah, melainkan sifat marah kepada sesama muslim.

Radikalisme lagi lagi menjadi gorengan yang paling gurih karena dimasifkan oleh media-media televisi dan jejaring sosial media(sosmed). Film ini bisa masuk dalam kategori yang kontraproduktif dengan fakta sebenarnya.

Radikalisme walau sudah basi dan tidak laku lagi di era keterbukaan informasi ini masih menjadi cara yang terus diperbaharui dalam bentuk berbeda dan sebagai amunisi yang ditembakkan secara masif ke seluruh penjuru dunia islam sehingga muncul friksi tentang jilbab dan cadar di kalangan umat islam sendiri.

Sangat disesalkan bila amunisi ini nantinya menyasar dan menyisir kesemua ranah aspek kehidupan dan membentuk pemikiran negatif yentang cadar di tengah masyarakat.

Phobia pada cadar yang disandarkan sebagai muslim radikal ini telah begitu kuat ditanamkan di negeri negeri muslim termasuk indonesia.

Radikalisme dikemas sedemikian rupa ibarat hantu yang menakutkan di masyarakat sehingga dianggap perlu diadakan program anti radikalisme yang berujung dengan deislamisasi ajaran Islam mulai dari sekedar mengenakan kerudung pada anak, mengenalkan hukum pergaulan Islam semisal batasan mahram pun dianggap radikal.

Hal ini menimbulkan rasa takut umat islam yang mayoritas di negeri ini untuk mengkaji Islam secara kaffah dan berdiam seribu bahasa atas kebijakan yang tidak sesuai ajaran Islam bahkan ironisnya, mereka phobia pada agamanya sendiri.

Padahal jika kita kaji lebih dalam, secara etimologis, kata ‘radikal’ diturunkan dari bahasa latin klasik, yakni ‘radix’ yang berarti ‘akar’ dalam tumbuhan. Jika dikonversi ke dalam terminologi agama, maka pengertian radikal beragama adalah memahami agamanya sampai pada sumber agamanya, misal dalam ajaran islam yaitu Al-Qurán dan hadist. Atau minimal menjadi muttabi, yakni menjadi orang yang mengerti argumentasi dari ajaran agamanya, baik itu dalam hal akidah maupun syariah.

Bila ditarik dari sudut pandang pengertian ini, dapat  disimpulkan bahwa seorang muslim radikal memiliki konotasi positif dalam menjalankan agama yang didasari sumber hingga ke akar yang shahih.

Sumber phobia ini diakibatkan oleh sekulerisme yang dipaksakan barat di negara berkembang termasuk indonesia.

Sekulerisme yang dirancang oleh akal manusia telah banyak melahirkan berbagai pergolakan di tengah-tengah masyarakat.

Agama dalam sudut pandang sekuler hanya boleh dibawa dalam area individu. Artinya, agama dilarang untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pembatasan wilayah beragama pada ranah individu ini sejatinya agar kekuasaan politik mereka langgeng memimpin dunia.

Faktanya, di hadapan kita terbentang sejumlah persoalan nyata, seperti penurunan pertumbuhan ekonomi. Apalagi setelah pandemi Covid 19. Bila tidak segera diatasi masalah ekonomi ini akan membawa negara ini ke dalam jurang resesi.

Peningkatan jumlah pengangguran dan kemiskinan, korupsi semakin menjadi jadi, kerusakan moral, maraknya LGBT, ketidakadilan di berbagai bidang, meningkatnya gerakan separatisme dan sebagainya.

Apakah semua problem itu timbul akibat radikalisme (Islam)? Bila tidak lantas mengapa radikalisme menjadi kambing hitam? Maka strategi utama perbaikan ekonomi ini adalah fokus atasi masalah tanpa harus menggoreng isu radikalisme yang sudah basi.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven − 1 =

Rekomendasi Berita