Puing Kematian Anak Gaza Antara Kelaparan dan Mati Rasa

Opini798 Views

 

Penulis: Ns. Sarah Ainun, M.Si  | Pegiat Literasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10)

Kelaparan yang melanda Gaza hari ini bukan sekadar bencana kemanusiaan, tapi adalah bentuk genosida modern yang sangat keji. Kebiadaban Zionis Israel makin meningkat dan tak lagi dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Terlalu mengerikan untuk dikatakan sebagai ulah manusia. Mereka membiarkan dua juta jiwa yang terjebak dalam blokade menghadapi kelaparan, kehausan, dan kematian perlahan—seakan mereka bukan manusia, tetapi target pembasmian sistematis yang di rancang dengan sadar dan dingin

Sejak gencatan senjata enam pekan gagal diperpanjang dan Israel memberlakukan blokade penuh pada 2 Maret 2025, akses bantuan kemanusiaan praktis dihentikan. Menurut laporan OCHA (15 Maret 2025), hanya sekitar 10% bantuan yang dibutuhkan yang berhasil masuk ke Gaza. Di luar pagar Gaza, lebih dari 6.000 truk penuh makanan, obat, dan sabun tertahan, menunggu izin masuk.

Sementara itu, lebih dari 90% anak-anak Gaza kini menghadapi kekurangan makanan akut, dan banyak dari mereka hanya makan satu kali sehari (WHO & UNICEF, dikutip Al Jazeera, Juli 2025). Mereka tidak sekadar lapar—mereka sedang dihukum perlahan menuju kematian.

Dalam tiga hari terakhir, menurut The Japan Times, 21 anak meninggal dunia di Rumah Sakit Al-Shifa dan Al-Aqsa Martyrs hanya dalam waktu 72 jam akibat malnutrisi. Itu berarti, tujuh anak tewas setiap hari hanya karena tidak makan.

UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, melaporkan bahwa dari lebih dari 242.000 anak di bawah usia lima tahun yang diperiksa, satu dari sepuluh dinyatakan mengalami malnutrisi. Mereka bukan sekadar statistik—mereka adalah nyawa yang dicabut perlahan oleh kejahatan sistematis.

Ironisnya, bahkan saat bantuan datang, antrian bantuan pun berubah menjadi barisan kematian. Dalam beberapa pekan terakhir, hampir 900 warga Gaza tewas saat berusaha mendapatkan makanan, sebagian besar di pusat distribusi swasta. Mereka mati bukan karena perang, tetapi karena hendak bertahan hidup.

Ini bukan kelalaian, ini adalah strategi. Human Rights Watch secara tegas menyatakan bahwa taktik kelaparan sistematis terhadap penduduk sipil merupakan kejahatan perang dan bentuk genosida (2024). Dunia menyaksikan ini semua dalam bisu. Tak ada peluru yang ditembakkan, tapi nyawa-nyawa melayang.

Inilah genosida tanpa peluru, pembantaian dalam diam. Rakyat Gaza dipaksa bertahan hidup dengan sisa-sisa makanan, menunggu ajal dalam kelaparan. Inilah wajah Zionisme yang sebenarnya—bukan hanya kejam, tapi juga penuh perhitungan untuk menghancurkan secara perlahan dan menyakitkan.

Dunia Bisu, Kemanusiaan Mandul

Apa yang bisa diharapkan dari dunia internasional? PBB, yang konon menjadi simbol perdamaian global, telah berubah menjadi institusi yang tumpul dan mandul. Sejak awal agresi besar-besaran di Gaza pada 2023 hingga kini, puluhan resolusi gencatan senjata dibatalkan hanya karena satu kata: veto Amerika Serikat. Veto yang dipakai berulang kali untuk membela penjajah Zionis, bahkan ketika bukti-bukti kejahatan perang telah terpampang jelas di hadapan mata dunia.

Bukan rahasia lagi bahwa Washington menjadi tulang punggung keberanian Zionis. Menurut laporan Middle East Eye (Juli 2025), lebih dari 90% resolusi PBB yang mengutuk agresi Israel gagal diloloskan karena veto AS.

Sementara itu, miliaran dolar senjata dan dukungan intelijen terus mengalir ke Tel Aviv. Maka jangan heran jika Israel berani menghancurkan rumah sakit, membom kamp pengungsi, dan kini membiarkan kelaparan menjadi senjata pembunuh massal.

Retorika kemanusiaan tak lagi berarti. Bantuan makanan dan air yang dikirim oleh relawan hanya menjadi pelipur lara sesaat dan simbolik semata. Dunia ini, yang mengklaim menjunjung tinggi hak asasi manusia, ternyata hanya diam ketika pelanggaran hak itu terjadi atas nama kepentingan geopolitik.

Kekejaman seperti ini tak bisa lagi dilawan dengan retorika kemanusiaan atau bantuan logistik. Ini bukan soal distribusi sembako atau diplomasi. Ini adalah soal penjajahan, genosida, dan penghancuran sistematis terhadap sebuah bangsa yang tak berdosa.

Pemimpin Muslim: Mati Rasa, Tak Lagi Peka

Namun yang lebih menyakitkan dari diamnya dunia adalah matinya rasa di antara para pemimpin Muslim sendiri. Di saat anak-anak Gaza meregang nyawa karena kelaparan dan serangan udara, para penguasa negeri-negeri Muslim sibuk dengan pesta politik, perayaan ekonomi, dan urusan kekuasaan. Tak satu pun dari mereka yang benar-benar bergerak dengan kekuatan riil. Bahkan sekadar menarik duta besar atau memutus hubungan diplomatik pun nyaris tak terdengar.

Seolah tidak ada darah yang mengalir di Gaza. Seolah tidak ada anak-anak yang mati kelaparan, tidak ada perempuan yang menjerit kehilangan. Ke mana mereka yang mengaku pembela Islam? Ke mana mereka yang katanya saudara seiman?

Umat Islam sesungguhnya tidak lemah. Tapi mereka telah ditumpulkan dan ditipu oleh propaganda Barat dan dikhianati oleh para penguasa mereka sendiri, yang sengaja menanamkan narasi bahwa Islam hanyalah agama spiritual tanpa kekuatan politik. Umat dijauhkan dari sejarah kejayaannya sendiri, sementara penguasanya menjadi pelayan kepentingan penjajah dan korporasi global.

Mereka dijejali ilusi bahwa kita tak punya daya, bahwa perlawanan tak berguna, bahwa solusi cukup dengan bantuan dan doa. Padahal, sejarah telah mencatat: umat ini punya kekuatan besar yang bersumber dari akidah dan persatuan ideologis.

Padahal Allah telah memperingatkan keras kepada mereka yang berdiam diri atas penderitaan saudaranya:

“Dan jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan) agama, maka wajib atas kalian menolong mereka…” (QS. Al-Anfal: 72).

Diamnya pemimpin Muslim hari ini bukan sekadar pengkhianatan terhadap rakyat Palestina, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah Allah dan Rasul-Nya.

Palestina butuh Khilafah dan Jihad

Berbagai forum internasional telah gagal. Lobi diplomasi tak membuahkan hasil. Bantuan kemanusiaan hanya menunda kematian. Lantas sampai kapan umat ini akan bergantung pada jalan-jalan yang telah terbukti mandul?

Palestina hanya bisa dibebaskan dengan kekuatan—dan kekuatan itu hanya akan lahir dari persatuan politik Islam. Bukan sekadar idealisme. Hal ini telah terbukti dalam sejarah menyatukan umat dan membebaskan negeri-negeri Islam dari cengkeraman penjajah.

Dalam hadits sahih, Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai, umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim)

Selama dunia Islam masih terpecah dalam puluhan negara bangsa, selama pemimpin Muslim tunduk pada kepentingan Barat, maka penderitaan ini akan terus berulang. Sejarah telah membuktikan. Saat kekuatan dan persatuan islam terukir di masa kejayaannya, tidak ada satu pun penjajah yang berani menginjakkan kaki di negeri kaum Muslimin.

Jamaah Dakwah: Obor Kesadaran dan Perubahan

Kini, di tengah gelapnya zaman, jamaah dakwah ideologis harus menjadi pelita—membangkitkan umat dari tidur panjangnya. Mereka harus menggugah perasaan dan pikiran umat, meningkatkan kesadaran ideologis, dan menunjukkan jalan Rasulullah saw. dalam menegakkan Islam sebagai sistem kehidupan.

Para pengemban dakwah bukan hanya dituntut memahami syariah, tetapi juga harus mampu menggugah emosi umat, menyentuh hati mereka, membangun keberanian, dan menunjukkan arah perjuangan. Dakwah harus disampaikan dengan hikmah, disertai keteladanan, dan terus disinergikan dengan pendekatan spiritual agar kita semua layak ditolong oleh Allah.

Sejarah tidak akan berubah oleh keluhan dan air mata. Ia akan berubah oleh keyakinan yang teguh, perjuangan yang istiqamah, dan pemimpin yang berani melawan arus.

Kemenangan Itu Dekat, Jika Kita Mau Bergerak

Gaza adalah luka kita semua. Luka itu tak akan sembuh oleh waktu, melainkan oleh tindakan. Kita tak bisa lagi berharap pada Barat atau pada PBB. Kita hanya bisa berharap pada Allah dan pada kekuatan yang dibangun di atas dasar Islam.

Kini saatnya berhenti menunggu. Saatnya umat ini bangkit, menyatukan kekuatannya, dan menempuh jalan perubahan hakiki. Kemenangan tidak datang dari kompromi. Kemenangan akan datang dari perjuangan ideologis yang tak tergoyahkan—dari jihad dan tegaknya persatuan islam dunia di muka bumi.

“Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya darah kalian satu, kehormatan kalian satu, dan tanah kalian satu.”[]

Comment