by

Rahmi Surainah, M.Pd*: Bukan Hanya Bumi, Infrastruktur Langit Digencarkan

Rahmi Surainah, M.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemilu sudah berlalu. Meski berlalu tentu menyisakan kesan kepada masyarakat bagaimana penyampaian visi misi calon pemimpin Indonesia saat kampanye. Khususnya, pada debat terakhir Capres-Cawapres saat salah satu calon presiden memberikan perhatian kepada game online, terutama eSports. 
Olah raga elektronik menjadi permainan yang tidak bisa dikesampingkan lagi karena turut menyumbang angka pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
“Kita lihat nilai ekonomi eSport tumbuh sangat pesat. Catatan di 2017 perputarannya 11-12 triliun, per tahun tumbuh 35%”, ujar Capres 01. Oleh sebab itu, pemerintah terus menggencarkan pembangunan infrastruktur langit seperti Palapa Ring untuk menunjang permainan tersebut karena banyak keuntungan yang dihasilkan di sana. 
“Ini profesi yang sekarang anak-anak senang jadi gamers, anak-anak muda harus memiliki infrastruktur mengembangkan profesinya sebagai gamer. Kita jangan sampai terlewat merespon, anggaran iklan sekarang bergeser ke sana dalam jumlah besar. Kita merespon dengan regulasi yang benar dan eSport profesional butuh latihan besar”. (CNBCIndonesia, 13/4/2019)
Demikianlah sikap salah satu Capres untuk Indonesia mendatang dalam kepemimpinannya. Tentu pemerintah nantinya tidak akan berjalan sendiri dalam menggencarkan infrasturktur langit. Perusahaan swasta pasti terlibat, salah satunya Telkom Indonesia memiliki ambisi besar untuk menjadi pemain besar di industri game. 
Ambisi di Industri gaming berdasarkan pada trend game khususnya mobile yang sedang menjadi perhatian besar masyarakat. Disampaikan oleh Joddy Harnady selaku EVP Digital & Next Busininess Telkom, industri game memiliki tingkat pendapatan yang paling tinggi dibandingkan jenis hiburan lainnya. “Gaming itu penghasilannya bisa tujuh kali lipat dari pendapatan sebuah film”, terangnya.
Pertumbuhan industri game di Indonesia mencapai angka 40% . Tapi perusahaan dalam negeri yang khusus fokus pada online game hanya memakan 19%. Tingkatan investasi pada perusahaan lokal pada industri game sangat rendah. Hal ini menjadi alasan utama pengembang game lokal tidak berkembang. Ditambah kurangnya SDM yang benar-benar fokus pada industri game ini. Telkom menyadari bahwa industri game perlu tumbuh dan dukungan dari korporasi sebesar mereka. (Marketeers.com,12/4/2019)
Infrastruktur Langit Menumbalkan Generasi
Kebanggaan pemerintah dalam hal infrastruktur dianggap prestasi. Jangankan infrastruktur di bumi Indonesia, infrastruktur langit pun tidak ketinggalan untuk digencarkan. Hal ini karena melihat potensi ekonomi yang bisa digali dari sana. Orientasinya adalah bisnis, mengeruk pundi-pundi rupiah sebanyak-banyaknya, bukan pelayanan untuk kepentingan dan kemaslahatan masyarakat Indonesia. 
Sebagaimana sistem ekonomi kapitalisme yang diadopsi negara ini peluang apa pun diharapkan mampu menghasilkan materi dan keuntungan. Bahkan kewajiban pemerintah dalam hal primer atau kebutuhan masyarakat dikomersialisasi dan diabaikan. Dalam pendidikan dicabutnya BHP, dalam perusahaan milik negara menjadi swastanisasi, dan dalam BBM pembatasan subsidi, serta dalam kesehatan dialihkan perannya ke BPJS, dsbnya. 
Oleh karena itu ketika digencarkannya infrastruktur langit atau digital berupa Broadband, Palapa Ring, dan 4G otomatis kendala teknis akses internet misalnya game tidak akan terganggu. Padahal, tanpa negara gencarkan infrastruktur langit, generasi sudah banyak kecanduan game online, konten merusak seperti kekerasan dan pornografi mengancam. Apalagi, jika negara semakin gencarkan infrastruktur langit, bagaimana nasib generasi kita nantinya?
Bahkan Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) berpendapat eSport harus mulai masuk kurikulum pendidikan untuk mengakomodisi bakat-bakat muda. Kemenpora sudah menganggarkan Rp.50 miliar untuk kompetensi di level sekolah. (CNNIndonesia.ckm,28/01/2019)
Demikianlah ketika negara menerapkan sistem kapitalis sekuler, sistem pendidikan pun digiring untuk mendukung game online misal eSport bahkan mau dimasukkan kurikulum pendidikan. Lantas bagaimana arah pendidikan jika game online yang biasanya dikeluhkan orang tua dan para guru dijadikan orientasi? 
Negara seakan hanya melihat dari sisi bisnis berbasis proyek digitalisasi namun abai dengan tanggung jawab rusaknya generasi dari media akibat digencarkannya infrastruktur langit.
Infrastruktur Langit Mengorbankan Infrastruktur Primer
Tidak sepantasnya infrastruktur langit digencarkan dalam rangka meningkatkan industri game. Infrastruktur langit seharusnya digencarkan dalam hal meningkatkan kualitas pendidikan, moral, dan peradaban generasi. Bukan menjadi salah satu pos penerimaan negara.
Negara salah besar berbangga dengan gencarnya infrastruktur. Jangankan infrastuktur jalan tol, infrastruktur jalan umum yang rusak pun belum diperbaiki. Jangankan infrastruktur langit berupa mudahnya akses infrastruktur digital, infrastruktur sekolah kebutuhan dasar masih banyak yang rusak dan tidak layak. 
Infrastruktur Langit Meningkatkan Kualitas Generasi
Tidak salah jika negara menggencarkan infrastruktur langit. Hanya saja negara harus menjamin generasi dari kerusakan media. Generasi memang harus menguasai teknologi digitalisasi namun hadirnya dalam hal meningkatkan kualitas keilmuan dan ketakwaan. Digitalisasi digunakan untuk kemaslahatan seperti pendidikan dan konten dakwah.
Infrastruktur langit digencarkan tidak terlepas dengan sistem mendasar negara yang mampu melindungi generasi. Dalam hal ini, hanya Syariah Islam beserta sistem Islam lainnya yang mampu menjaga generasi dari kerusakan akibat digitalisasi. Syariah Islam akan menjadikan generasi ahli agama dan ahli keilmuan termasuk cerdas berteknologi memanfaatkan infrastruktur langit untuk meningkatkan kualitas bukan kemerosotan dan hancurnya generasi.Wallahu a’lam.[]
*Alumni pascasarjana Unlam

Comment

Rekomendasi Berita