Penulis : Naimatul-jannah | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS .COM, JAKARTA – Bulan Ramadhan adalah “Syahr al-Qur’an”. Dibulan inilah Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rosulullah sebagai mukjizat bagi beliau dan menjadi pedoman bagi umat Islam. Di bulan mulia ini pula umat Islam berlomba-lomba membacanya, menghafalnya, menghatamkannya hingga mentadaburinya.
Semangat umat Islam dalam beribadah dan berinteraksi dengan Al Qur’an sangat luar biasa di bulan Ramadhan. Berupaya sungguh-sungguh berburu satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar.
Namun, gencarnya serangan pemikiran sekulerisme dan budaya liberalisme membuat kehidupan kaum muslimin semakin jauh dari Al-Qur’an. Paham sekulerisme telah memisahkan agama dari kehidupan umat Islam hari ini.
Sekulerisme, Akidah Sesat
Islam diturunkan oleh Allah SWT melalui wahyu-Nya didalam Al-Quran dan Sunnah melalui Rosulullah untuk membimbing manusia di dunia. Namun jika manusia tidak mau mengambil Islam sebagai petunjuk hidupnya, tentulah akan buta dan tersesat. Manusia hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu di dunia.
Sekulerisme menjadikan manusia mengambil pemahaman tanpa melibatkan agama dalam urusan kehidupan. Dan menjadikan manusia hanya cenderung mengikuti hawa nafsunya dalam menyolusi berbagai problem kehidupan.
Sehingga ketika sekulerisme ini dibiarkan dalam mengatur kehidupan maka berbagai persoalan pasti silih berganti menerpa kehidupan manusia.
Beban hidup akan terasa sulit dan berat jika hidup jauh dari Al-Qur’an. Banyak umat Islam yang terkena racun sekulerisme sehingga kebejatan moral, minimnya adab, perzinahan, pembunuhan, pelecehan seksual dan berbagai kriminalitas menjadi awan gelap yang menutupi kehidupan umat hari ini.
Sehingga ketika ini dibiarkan maka kerusakan di dunia dan penderitaan akibat siksaan-Nya di akhirat akan terus terjadi.
Allah Swt. berfirman, “Barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu. Kami akan masukkan ia ke Jahanam dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS An-Nisa: 115).
“Kemudian, Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu. Janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS Al-Jatsiyah: 18).
Kembali Kepada Al-Qur’an
Umat Islam hari ini sering membatasi ayat Al-Qur’an pada ranah ibadah ruhiyah. Padahal Al-Qur’an berbicara tentang kehidupan secara menyeluruh: spritual, akhlak, dan siyasah kehidupan manusia.
Tidak ada ruang memilih hukum Allah sesuai selera. Ketaatan bukan parsial, tapi secara total. Bukan hanya shaum dan sholat, melainkan juga muamalah, politik pemerintahan, ekonomi, pendidikan, hingga kehidupan sosial.
Sesungguhnya, salah satu konsekuensi iman adalah tunduk pada seluruh hukum Islam, termasuk hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an. Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208).
Oleh karenanya, kehadiran Ramadhan semestinya menjadi momentum bagi umat untuk kembali menjalankan Al-Qur’an sebagai tuntunan kehidupan, bukan hanya sebatas bacaan yang berlomba dikhatamkan. Allah Swt. berfirman:
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS Al-Baqarah: 185).
Hal itu tampak dalam kehidupan Rosulullah dan para generasi terbaik setelahnya. Mereka benar-benar menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan level perjuangan.
Betapa banyak peperangan antara Islam dan kekufuran terjadi saat Ramadan. Diantaranya Perang Badar, peristiwa penaklukan Makkah, Perang Khandaq, dan Perang Ain Jalut yang terbukti sangat menentukan masa depan umat Islam.
Inilah dimensi politik Ramadhan yang kian hari kian dilupakan banyak orang hingga Ramadhan ke Ramadhan dilalui umat Islam tanpa adanya pengaruh yang signifikan, bahkan kondisi umat Islam kian hari kian menyedihkan.
Oleh karenanya, menjadi tugas kita untuk mengubah pemahaman masyarakat sehingga mereka paham bahwa ibadah Ramadhan dan ajaran Islam lainnya bukan hanya memiliki dimensi ruhiyah saja, melainkan dimensi politik yang akan menjadi kunci pembuka kebangkitan umat Islam. Bahwa Islam adalah sebuah ideologi yang bukan hanya mengandung fikroh, melainkan juga memiliki thariqah agar bagaimana fikroh itu diterapkan.
Tentu bukan sekedar paham melainkan umat Islam siap memperjuangkannya dan mengamalkan Islam sebagaimana yang diperintahkan. Inilah hakikat takwa sejati yang menjadi tujuan disyariatkan puasa Ramadhan. Yakni kesiapan untuk hidup dibawah penerapan syari’at secara Kaffah. Wallahu A’lam Bis Showab.[]














Comment