Remaja Tanpa Bullying, Mungkinkah?

Opini1049 Views

 

 

Oleh : Vinda Puri Orcianda, Aktivis Dakwah

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kasus perundungan atau yang biasa kita sebut dengan kata bullying semakin hari bukannya semakin tuntas, namun semakin menjadi trend disetiap sekolah bahkan lingkungan pertemanan remaja masa kini.

BULLYING adalah sikap seseorang yang membuat orang lainnya tertindas, tidak berdaya, malu karena diolok-olok, tertekan karena diintimidasi, rendah diri karena di ejek-ejek,  dipermalukan dihadapan orang banyak atau penggunaan kekuasaan untuk melakukan kekerasan,  ancaman, atau paksaan untuk menyalah gunakan atau mengintimidasi orang lain. (wikipedia.org).

Belakangan ini disekitar kita semakin sering terjadi kasus bullying di berbagai daerah di Indonesia. Di daerah Sumatera Utara salah satunya ada kasus 6 orang pelajar yang masih menggunakan seragam sekolah menendang seorang nenek di daerah Tapanuli Selatan.

Kasus kedua terjadi di SMP Plus Baiturrahman Ujungberung, Kota Bandung, yang dilakukan oleh sesama siswa. Kejadian berawal dari seorang siswa yang mengenakan baju olahraga dipasangi helm berwarna merah oleh siswa lainnya yang hendak melakukan perundungan tersebut. Setelah helm dipasangkan, siswa tersebut langsung tendang kepala korban sebanyak tiga kali hingga korban tumbang atau diduga pingsan. (news.detik.com, 21/11/22).

Kasus ketiga terjadi di daerah Malang, peristiwa miris ini terjadi di Kabupaten Malang. Tepatnya di SDN 1 Jenggolo. Kejadian bullying itu sendiri dilakukan di Bendungan Sengguruh yang terletak di depan sekolah korban dan para pelaku yang tidak lain adalah kakak kelas korban. (popmama.com, 24/11/22 ).

Kasus keempat terjadi di sebuah pondok pesantren yang terletak di Aceh, dimana sang korban mengalami luka lebam dan muntah darah karena ditendang oleh temannya sendiri yang seorang santri juga. ( mandalika.pikiran-rakyat.com, 1/11/22 ).

Hari ini banyak kasus bullying yang mencuat dan viral di masyarakat itu dikarenakan kasus yang sudah berdampak fisik bagi korbannya, bahkan sampai merenggut nyawa, namun ada lebih  banyak juga kasus bullying yang berdampak pada psikis korbannya dan ini tidak semuanya terindra oleh penglihatan kita selama ini disetiap sekolah-sekolah.

Kekerasan di dunia pendidikan hari ini seolah-olah menjadi budaya. Tentunya ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan, tetapi ini terjadi karena kondisi yang telah turun-temurun diwariskan di generasi sebelumnya.

Permasalahan bullying ini juga tidak lain buah dari pendidikan yang semakin liberal dan sekuler saat ini. Menjauhkan pendidikan dari kriteria pendidikan Islam sebenarnya, sehingga menjadikan anak-anak sebagai sosok yang individualis dan minim empati.

Generasi muda saat ini memiliki gaya hidup bebas sekehandak hati, mereka tidak mengindahkan segala norma yang ada, serba boleh dan menomor duakan agama, agama hanya dianggap ritual ibadah saja yang bahkan lebih banyak ditinggalkan.

Pemerintah saat ini belum tegas dan serius dalam menangani permasalahan bullying pada dunia pendidikan di Indonesia saat ini, bahkan angkanya semakin hari semakin tinggi.

Pemerintah hanya lebih banyak berfokus pada pembangunan prasarana pendidikan yang juga sebenarnya belum merata di bandingkan fokus dalam membangun pribadi dan pemikiran generasi muda pendobrak peradaban.

Buah dari sistem kapitalis ini menjadikan pemuda harapan bangsa kini semakin hari semakin rusak pemikiran dan perilakunya.

Padahal dalam Islam ada 3 pilar yang sangat penting untuk membentuk generasi muda agar menjadi pendobrak perubahan bangsa, yaitu yang pertama keluarga, kedua lingkungan, dan yang ketiga adalah peran negara.

Dimana ketiga pilar ini harus bersinergi dalam membentuk dan menjadi tameng dalam menjaga generasi muda dari berbagai pemahaman yang dapat merusak masa depannya.

Keluarga sebagai institusi terkecil yang menanamkan nilai-nilai keislaman yang baik dan benar, bukan hanya sebagai orang tua yang bertugas memberikan segala fasilitas kebutuhan sang anak, namun juga turut membimbing dengan penuh kasih untuk membentuk dan membangun kepribadian anak agar taat kepada Allah semata.

Menumbuhkan kesadaran dan menanamkan nilai akidah yang kuat kepada anak, sehingga muncul idrak silah billah yaitu kesadaran akan pengawasan dari Allah dan kecintaan yang kuat akan agamanya sendiri.

Peran lingkungan juga mempengaruhi pendidikan dan pola kepribadian seorang anak, dimana lingkungan juga butuh untuk bersama-sama mengontrol generasi muda dengan menyeru kepada kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.

Peran negara sebagai pengatur dan pengambil kebijakan juga lebih memiliki nilai yang sangat krusial didalam masalah bullying seperti saat ini. Semua tontonan, media sosial dan game yang mampu mendangkalkan pemikiran para remaja bisa dilarang oleh negara.

Negara juga menerapkan sanksi yang tegas kepada pelaku bullying apalagi yang sudah terkategori baligh dalam Islam. Namun bagi yang belum baligh maka dipulangkan dan diberikan hak kepada walinya untuk menasehati dan mendidik anak tersebut dengan lebih ketat lagi.

Negara juga harus menerapkan sistem pendidikan Islami dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasan pendidikan. Dalam sistem pendidikan Islam penanaman keimanan kepada Allah SWT dan ketaatan kepada ajaran Islam sangatlah penting untuk ditanamkan secara mendalam kepada anak-anak didik. Dengan begitu mereka akan menjadi individu yang semakin beriman dan bertakwa

Sistem pendidikan Islam juga memiliki tujuan yang jelas yaitu mencetak individu berkepribadian Islam, bukan sekedar mencetak individu penyembah ijazah dan mencetak para pekerja di dunia perindustrian dan hanya menjadi pengusaha yang berorientasi hanya kepada keberhasilan dunia.

Para pelajar juga dibentuk pola pikir dan sikapnya agar selalu selaras dengan Islam. Mereka mendapatkan pendidikan bukan hanya sekedar hafalan dan teori semata namun juga pengimplementasian dalam kehidupan sebagai petunjuk saat berinteraksi di masyarakat.

Pendidikan adab termasuk yang paling penting yang harus diterapkan, karena dalam pendidikan Islam maka pengajaran mengenai adab/akhlak akan lebih didahulukan sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lain.

Ibnu al-Mubarak rahimahullah juga pernah berkata, “kami mempelajari adab selama 30 tahun dan kami pempelajari ilmu selama 20 tahun.” ( Ghayah an- Nihayah fi Thabaqat al-Qura’, 1/198 )

Inilah sistem pendidikan Islam yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW, dan di terapkan oleh para khalifah dan penerusnya pada masa Islam berjaya, sehingga kasus bullying tidak pernah terjadi bahkan sampai merenggut nyawa seperti saat ini.

Maka sudah jelas sistem Islam adalah solusi yang akan memperbaiki kepribadian para pelajar dan remaja, maka dari itu mari kita menjadikan Islam sebagai jalan hidup kita menuju peradaban yang lebih bersinar dan melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Wallahu a’lam bish shawwab.[]

Comment