Remisi Antara Melanggar Hukum dan Efek Jera

Opini169 Views

 

 

Oleh: Siti Aminah, Aktivis Muslimah

_________

 

RADARINDONESISNEWS.COM, JAKARTA– Direktorat Jenderal Hukum dan Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kemkumham menyampaikan, 146.260 dari 196.371 narapidana beragama Islam di Indonesia menerima Remisi Khusus (RK) Idul Fitri 2023.

Koordinator Humas dan Protokol Ditjen PAS Rika Aprianti mengatakan bahwa pemberian RK Idul Fitri ini juga berpotensi menghemat biaya anggaran makan narapidana hingga Rp 72.810.405.000.

Dari segi kategori remisi khusus, terdapat 661 napi menerima RK II atau langsung bebas. Sementara itu, 145.599 lainnya menerima RK I, yaitu masih harus menjalani sisa pidana setelah menerima pengurangan masa pidana sebagian. Kemkumham menilai bahwa pemberian remisi ini berkaitan dengan keseriusan bertobat dan memperbaiki diri. Hal ini termuat pula dalam sambutan tertulis Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna H. Laoly, yang dibacakan saat pemberian remisi.

Pemberian remisi merupakan penghargaan negara kepada narapidana yang selalu berusaha berbuat baik, memperbaiki diri, dan menjadi masyarakat yang berguna. Diharapkan remisi yang diberikan dapat memotivasi warga binaan untuk terus memperbaiki diri dan menghindari perbuatan yang melanggar hukum, KOMPAS.com ,23/04/2023

Berbagai aturan terkait dengan sistem sanksi saat ini menunjukkan ketidak seriusan dalam memberikan efek jera pada pelaku kriminal atau pelanggar hukum. Setelah keputusan pengadilan pun masih ada remisi yang memperingan pelaku kejahatan.

Kebijakan seperti ini tidak akan menimbulkan efek jera terhadap pelaku kejahatan karena hukuman yang terlalu ringan. Berpura-pura menjadi baik di dalam tahanan agar dapat remisi tapi setelah keluar melakukan kejahatan yang sama. Banyak berita yang setiap hari kita baca menggambarkan bahwa residivis berulangkali melakukan kejahatan dan keluar masuk penjara menjadi hal biasa.

Remisi juga dilakukan agar bisa mengirit biaya makan para narapidana, sebab hukuman mereka yang diringankan bahkan dibebaskan.

Dalam Islam sanksi hukuman irit karena pelanggar hukum mendapatkan hukuman tidak semuanya dimasukkan penjara ada beberapa hukuman yang tidak perlu masuk penjara misalnya hukum potong tangan bagi pencuri, hukum rajam sampai mati bagi pezina yang sudah menikah, hukum dilemparkan dari tempat yang tinggi bagi kaum sodom dan lain lain.

Sistem sanksi dalam Islam sangat jelas dan pasti mampu berfungsi sebagai penebus dan pencegah. Sistem sanksi dalam islam mampu mencegah kriminalitas dengan tuntas.

Ketika dahulu lslam tegak selama 14 abad, kriminalitas dapat ditekan sehingga sedikit orang yang melakukannya. Negara dalam lslam menjalankan fungsinya sebagai pelindung rakyat. Masalah kriminalitas dalam lslam bisa diminimalisir dengan tiga pilar sbb:

Pertama, membangun ketakwaan individu. Negara berkewajiban mendidik rakyat baik di jenjang formal maupun nonformal. Dalam hal ini Negara harus mengajarkan atau mengajak rakyat selalu berada dalam ketaatan. Negara memfasilitasi sarana, prasana dan orang yang mendakwahkannya.

Islam sebagai jalan hidup betul-betul dijalankan dalam seluruh sendi kehidupan. Dengan demikian terciptalah individu yang bertakwa. Sebaliknya saat ini sulit menemukan individu bertakwa. Agama tidak menjadi landasan dalam menjalani kehidupan, jiwa orang-orang dalam sistem kapitalis ini kering dari ruhiyah dan lahirlah berbagai persoalan kehidupan.

Seperti seks bebas, perselingkuhan, galau menghadapi hidup, pertengkaran, tawuran remaja, korupsi dan berbagai tindakan rusak dan merusak banyak terjadi di sistem demokrasi. Agama hanya sebagai simbol tanpa ada pengaruh dalam kehidupan

Diperlukan kontrol masyarakat. Dalam lslam, masyarakat adalah berkumpulnya individu-individu dalam suatu wilayah dan disatukan dengan perasaan, pemikiran serta aturan yang sama.

Dari sini benci dan senangnya masyarakat sama. Ketika lslam mengharamkan riba, pembunuhan, penipuan, narkoba, pencurian dll, maka seluruh masyarakat akan sama dalam memahaminya, serta adanya sikap saling menggingatkan agar di antara mereka tidak terlibat di dalamnya, yaitu amar ma’ruf dan nahyi munkar berjalan dengan baik.

Hal ini menjadikan kejahatan serta kriminalitas bisa ditekan. Rentang waktu 14 abad ketika lslam kaffah diterapkan tercatat hanya terjadi 400 pencurian. Adakah hal ini terjadi dalam istem yang lain?

Sebaliknya dalam masyarakat yang individualis yang tidak peduli dengan kondisi orang lain, serta lemahnya kontrol masyarakat menjadikan pelaku kriminalitas bebas bertindak. Masyarakat dalam sistem ini antara perasaan dan pemikiran terpisah walau menetap ditempat yang sama. Ini salah satu hal kenapa kriminalitas semakin merajalela.

Negara menjalankan sanksi kepada pelaku kriminalitas. Jika terjadi kriminalitas, maka Khalifah sebagai kepala negara akan menghukum pelaku sesuai tindak kejahatannya dengan standart Al Qur’an dan Sunah Nabi SAW, hal ini dimungkinkan bebas kepentingan. Sanksi dalam lslam punya dua tujuan.

Pertama, mencegah masyarakat dari perbuatan dosa atau kejahatan, ini disebut zawajir. Misal sanksi membunuh adalah dibunuh, jika pembunuh tahu bahwa membunuh akan dibunuh maka ia akan takut melakukan pembunuhan serta bagi yang lain juga akan takut melakukannya.

Kedua, sanksi dalam lslam sebagai penebus (Jawabir), artinya ketika pelaku kejahatan dihukum di dunia maka gugurlah sanksi di akhirat. Ada kisah dalam hal ini, seorang yang bernama Ghamidiyah mengaku telah melakukan perzinahan dan bertaubat minta dirajam sampai mati oleh Rosulullah SAW sebagai kepala negara pada waktu itu. Hal ini mereka ketahui bahwa sanksi di dunia bisa menebus pedihnya jahanam di akhirat kelak. Sanksi negara dijatuhkan atas dosa-dosa dan kejahatan yang merupakan satu-satunya metode untuk melaksanakan perintah dan larangan-Nya semata.

Hukum hari ini tidak menjadikan pelaku jera. Hukum tajam ke bawah dan tumpul keatas. Hukuman ringan yang diputuskan pun masih ada kebijakan remisi. Hal ini membuat hidup tidak membawa ketenangan, kebaikan bahkan jauh dari keberkahan.

Islam terbukti, dalam sejarahnya yang panjang – membawa pada ketenangan, kebahagiaan dan keberkahan hidup.[]

Comment