Retaknya Hegemoni Amerika dan Kebangkitan Peradaban Islam

Opini464 Views

Penulis: Ifah Rasyidah | Pegiat Literasi Islam

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Gelombang demonstrasi besar bertajuk “No Kings” yang mengguncang Amerika Serikat pada akhir Maret 2026 bukan sekadar ekspresi kekecewaan sosial. Peristiwa itu menjadi sinyal kuat bahwa krisis multidimensi tengah menggerogoti jantung kekuatan global tersebut.

Ketika jutaan warga turun ke jalan, hal itu menunjukkan legitimasi moral dan politik negara adidaya tersebut mulai dipertanyakan, bahkan oleh rakyatnya sendiri.

Pada saat yang sama, kondisi ekonomi Amerika Serikat menunjukkan gejala yang tak kalah mengkhawatirkan. Utang nasional yang menembus sekitar US$39 triliun mencerminkan rapuhnya fondasi sistem kapitalisme yang selama ini diagungkan.

Lonjakan pengeluaran akibat keterlibatan dalam konflik geopolitik—terutama yang berkaitan dengan dukungan terhadap Israel serta ketegangan dengan Iran—turut memperparah kondisi fiskal negara tersebut.

Dengan beban utang per individu yang terus meningkat, narasi “kemakmuran Amerika” kian kehilangan relevansi. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan inflasi juga dirasakan masyarakat.

Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya sewa, dan layanan publik memicu keresahan luas, yang pada akhirnya menggerus kepercayaan publik terhadap kepemimpinan politik.

Situasi ini diperparah oleh dinamika konflik global yang tidak kunjung mereda.

Upaya gencatan senjata yang sempat diinisiasi dalam konflik menunjukkan adanya keterbatasan dalam mempertahankan dominasi militer.

Namun di sisi lain, pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut justru memperlihatkan inkonsistensi kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Dalam ranah geopolitik, sikap agresif Amerika—terutama dalam mendukung Israel dan menekan Iran—semakin memperjelas wajah hegemoni global yang sarat kepentingan.

Di bawah kepemimpinan tokoh seperti Donald Trump, kekuatan militer kerap dipandang sebagai instrumen untuk menjaga dominasi, bukan semata menciptakan perdamaian.

Retorika demokrasi dan hak asasi manusia pun kerap dinilai lebih sebagai alat legitimasi daripada prinsip yang dijalankan secara konsisten.

Krisis Kepemimpinan Umat Islam

Ironisnya, di tengah situasi tersebut, sebagian penguasa di negeri-negeri Muslim justru berada dalam orbit kepentingan kekuatan global kapitalis. Aliansi strategis dengan Amerika dan sekutunya menunjukkan adanya jarak antara kepentingan umat dan arah kebijakan para pemimpin.

Akibatnya, umat Islam di berbagai kawasan justru menjadi korban konflik, sementara elit politik terjebak dalam pragmatisme kekuasaan.

Kondisi ini mencerminkan krisis yang lebih dalam, yakni krisis kepemimpinan umat. Ketika sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan menjadi rujukan, maka kebijakan yang lahir kerap tidak berpihak pada nilai-nilai Islam.

Kapitalisme dan demokrasi turut membentuk cara pandang para penguasa, sehingga kepentingan umat sering kali terabaikan.

Tanda-Tanda Kebangkitan

Di tengah berbagai krisis tersebut, mulai muncul tanda-tanda kebangkitan kesadaran di kalangan umat Islam. Di berbagai negara, diskursus mengenai syariah, sistem Islam, dan kepemimpinan Islam semakin menguat.

Umat mulai menyadari bahwa solusi tidak akan lahir dari sistem yang sama yang dinilai gagal, melainkan dari kembali kepada ajaran Islam secara menyeluruh.

Sejarah mencatat, umat Islam pernah memimpin dunia melalui sistem yang menghadirkan keadilan dan keseimbangan. Dalam praktiknya, nilai keadilan tidak hanya menjadi slogan, tetapi dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis.

Hari ini, ketika kapitalisme menunjukkan gejala krisis dan demokrasi kehilangan sebagian legitimasi, sebagian kalangan mulai melirik kembali konsep kepemimpinan Islam sebagai alternatif.

Bagi mereka, hal ini bukan sekadar pilihan ideologis, melainkan tawaran sistem yang dianggap mampu menghadirkan keadilan yang lebih nyata.

Namun demikian, kebangkitan tersebut tidak akan terjadi secara instan. Diperlukan proses panjang berupa penyadaran, edukasi, dan perjuangan intelektual.

Umat perlu dibekali pemahaman yang komprehensif tentang politik Islam, tidak sekadar slogan. Generasi muda pun dituntut menjadi agen perubahan yang mampu membawa gagasan Islam ke ruang publik secara konstruktif.

Lebih jauh, para pemimpin di negeri-negeri Muslim diharapkan menyadari bahwa keberpihakan kepada umat merupakan tanggung jawab utama. Ketergantungan pada kekuatan asing hanya akan memperpanjang problem struktural yang dihadapi.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96).

Retaknya hegemoni Amerika bukanlah akhir, melainkan bagian dari dinamika perubahan global. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban bergerak dalam siklus. Pertanyaannya, apakah umat Islam siap mengambil peran dalam membangun peradaban masa depan, atau justru tetap menjadi penonton?

Jika kesadaran terus tumbuh dan upaya perubahan terus dilakukan, maka kebangkitan peradaban Islam bukan sekadar harapan. Ia dapat menjadi arah baru dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil dan berkeadaban. Wallahu a’lam.[]

Comment