by

Risnawati, S.Tp*: Pembiasaan Hijab Anak Disoal, Fix Liberal!

-Opini-61 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Serangan kaum liberal kembali diarahkan pada ajaran Islam. Pendidikan ketaatan dalam berpakaian dipersoalkan, dianggap pemaksaan dan berakibat negatif bagi perkembangan anak. Statement psikolog Rahajeng Ika dan Darol Mahmada soal dampak anak pakai jilbab. Sebetulnya bukan perkara baru. keduanya hanya mengulang narasi lama yang selalu dilontarkan oleh kaum pemikir liberal.

Seperti dilansir dari Jurnalgaya – Media asal Jerman Deutch Welle (DW) dihujat sejumlah tokoh dan netizen karena membuat konten video yang mengulas tentang sisi negatif anak pakai jilbab sejak kecil.

Dalam video itu, DW Indonesia mewawancarai perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan hijab sejak kecil. DW Indonesia juga mewawancarai psikolog Rahajeng Ika. Ia menanyakan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab.

“Mereka menggunakan atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konsekuensi dari pemakaiannya itu,” kata Rahajeng Ika menjawab pertanyaan DW Indonesia.

“Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan, apakah dengan dia pakaian begitu berarti dia punya batasan tertentu untuk bergaul,” tambahnya.

DW Indonesia juga mewawancarai feminis muslim, Darol Mahmada tentang dampak sosial anak yang diharuskan memakai hijab sejak kecil. Menurut Darol Mahmada, wajar-wajar saja seorang ibu atau guru mengharuskan anak memakai hijab sejak kecil.

“Tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain,” kata Darol Mahmada.

Politisi Fadli Zon juga ikut angkat bicara tentang ini. Ia menyatakan bahwa ini adalah pernyataan sentimen islamofobia. Ingin menguatkan narasinya, DW mewawancarai feminis Nong DM, yang menyatakan bahwa itu sebuah kewajaran, namun dampak eksklusivis akan terbentuk pada diri anak.

Kesimpulan yang ingin disampaikan adalah berbahaya memaksa anak mengenakan jilbab. Selanjutnya akan radikal dan intoleran. Jelas ini merupakan propaganda seperti biasanya.

Apalagi keluar dari lisan para liberalis feminis. Tanggung jawab mereka hanya satu, bagaimana agar muslim menjadi sekular, memisahkan agama dari kehidupan, kemudian menjadi muslim yang toleran. Namun sayang, sekular dan Islam adalah dua aqidah yang berbeda.Tidak bisa disatukan.

Sekularisme akan menjadikan muslim jauh dari pemahaman norma norma Islam sehingga kerap bertabrakan dengan syariah, sedangkan Islam menjadikan muslim terikat dengan syariah.

Bahaya Laten

Pemikiran liberal saat ini terus dikembangkan oleh sejumlah kalangan, untuk mempengaruhi umat Islam  ternyata bisa merusak nilai-nilai syariat Islam yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Model ini dapat menggiring umat Islam secara pelan-pelan untuk tidak perlu lagi taat pada perintah Allah SWT. Maka, pemikiran liberal sangat berbahaya bagi umat Islam.

Karena dengan akal dan logikanya, dia tak perlu melaksanakan perintah dan ibadah kepada Allah SWT. Saat ini pemikiran liberal mulai merasuki umat Islam agar menjadi pola pikir yang mengarah kepada sekuler.

Tidak sedikit yang telah terpengaruh, sehingga ada umat Islam yang tidak senang pada syariat Islam bahkan ada yang membencinya.

Karena itu sebagai muslim yang paham Islam dengan baik, tentu tidak akan mampu bersikap sinis terhadap syariah. Tuduhan keji terhadap Islam tidak akan berhenti manakala sudah tertanam kesalahan berpikir terhadap Islam hingga selalu berupaya memojokkan syariah.

Tak henti-hentinya melakukan upaya monsterisasi ajaran Islam agar umat Islam menjauhi Syariah. Jangan sampai kita tertipu dengan narasi kedengkian ini. Teruslah para ibu yang baik membiasakan anak perempuan nya dengan kerudung, memberi arahan dan ajaran Islam dengan baik. Agar kelak ia akan menjadi generasi yang taat dan mencintai agamanya.

Dengan demikian, liberalisasi menjadikan standar kebenaran pada manfaat, sedangkan Islam menyandarkan kebenaran pada Syariah. Apa yang dilakukan orang tua pada anak perempuannya adalah bagian pembiasaan dan pendidikan mengenakan pakaian sesuai syariah.

Dengan pemahaman yang baik tentang ini, maka tidak ada orang tua yang bisa memaksakan pada anak kecil untuk mengenakan jilbab.

Pengajaran Islam

Betapa penting pengajaran dan peran orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Karena orangtualah yang mengarahkan pandangan hidup anak-anaknya sehingga bisa menjadikannya yahudi, nasrani, majusi atau muslim.

Belum selesai perkara dengan memilih agama, jika menjadi muslim, muslim yang bagaimana, yang taat atau hanya sekedar muslim ktp (identitas semata). Maka, orangtua harus mendidik anak dengan bijak agar anak-anak tidak hanya menjadi anak yang cerdas tapi juga taat pada syariat.

Mengajak anak-anak memahami dan meneladani Rasulullah merupakan perintah Allah SWT. Dalam al-Quran dinyatakan (yang artinya): Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk ditaati dengan izin Allah (QS an-Nisa’ [4]; 64).

Agar anak semakin mencintai Nabi Muhammad saw.kita harus rajin membacakan Sirah Nabawiyah, khususnya bagaimana Rasulullah memperjuangkan dan menegakkan Islam di muka bumi ini.

Dengan itu, selain anak-anak kita memahami syariah yang dibawa oleh Rasulullah dan mempraktikannya dalam kehidupan, mereka pun paham bagaimana seharusnya memperjuangkan Islam.

Begitu pula, anak harus dikenalkan dengan syariah Islam sejak dini, sebagaimana Hadis Rasulullah saw.,  “Perintahlah anak-anakmu agar mendirikan shalat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah karenanya tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.”

Demikian halnya dengan hukum-hukum yang lain, seperti kewajiban memakai khimar dan jilbab (bagi Muslimah), larangan mencuri dan sebagainya.

Begitu juga halnya berkaitan dengan  akhlak seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada orang lain, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dsb. Mengajari anak tentang berbagai adab dalam Islam seperti makan dengan tangan kanan, berdoa sebelum dan sesudah makan, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, tidak menyakiti hewan dsb.

Negara dan Masyarakat umum pun akan membantu para muslimah khususnya ibu dalam tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak mereka menjadi pribadi Islam yang kuat, para hamba Allah yang taat, dan karenanya warga negara yang jujur merupakan sumber kebaikan bagi komunitas mereka.

Karena itu, Islam memiliki pandangan yang tak tertandingi tentang pentingnya peran keibuan, disertai dengan sejumlah hukum dan tugas yang ditentukan pada laki-laki dan perempuan untuk memastikan bahwa semua hal itu dilindungi dan didukung oleh negara. Selain itu, peran negara haruslah benar-benar berfungsi.

Merebaknya pemikiran sekuler dan liberal saat ini tidak terlepas dari abainya negara menjaga kemurnian berpikir kaum muslim. Kaum muslim bahkan ‘dipaksa’ menerima pemikiran ini.

Oleh karena itu, hanya dengan implementasi Islam secara komprehensif yang akan mampu mengembalikan fitrah anak untuk diajari taat syariah sejak dini oleh orangtuanya.

Islam juga akan memastikan hak dan pengasuhan efektif anak-anak terjamin, dan akan melindungi kesucian dan keharmonisan kehidupan keluarga.

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR Bukhari). Wallahu a’lam.[]

*Pegiat Opini Media Kolaka

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 1 =

Rekomendasi Berita